image1 image2 image3 image4

MENATA HATI|MENYAMBUT GERHANA PERADABAN|MENJENGUK MALAM DI SEPI REMBULAN|MENUNGGU PAGI|SANG PIJAR DARI UFUK TIMUR

Tuesday, September 15, 2026

Depresi, Ekspresi dan Menanti Keajaiban

Dalam hidup seringkali kita akan mendapati saat-saat dimana sudah sangat mentok, sudah tak mungkin lagi mencari solusi. Lalu, ketakutan demi ketakutan akan masa depan itu muncul. Kegelisahan, kekhawatiran dan kegamangan dalam menerka hidup memberikan kita sebuah gejala lain dalam hidup. 

Responnya tentu lain satu orang dengan lainnya. 

Ada yang dengan tatag menghadapi karena sudah terlanjur lahir tanpa bisa menawar keadaan, adapula yang mengurung diri, sebagian lainnya keleleran seperti tikus yang kehilangan pijakan, jiwanya hanya berlalu-lalang tanpa tahu arah dan tujuan hidup. Sebuah perjalanan absurd yang mungkin tak kemana-mana namun terasa sangat jauh dalam pikiran.

Ketika makin memuncak beberapa orang akhirnya memutuskan cut-off dari sirkel, ketidakmengertiannya akan nasib, keengganannya diterka, atau ketidakbecusan dia mengolah diri sendiri akhirnya memunculkan ego denial terhadap apa yang ia alami. Fase itu memang harus terjadi, seseorang menolak keadaaan buruk dirinya karena tahu ada kondisi lebih ideal di luar sana membuat dia selalu melakukan penolakan terhadap apa yang dilontarkan kepadanya. 

Akhirnya bisa ditebak, apakah manusia ini akan segera melakukan penerimaan diri-- dengan segala konsekuensinya, gila, dan atau melakukan bunuh diri karena kontrol kejiwaan yang sungguh tak mampu ia kendalikan lagi dan harapan seakan matinya jasad akan mengakhiri penderitaan. Halaman gelap itu datang menghujam.

Kalap terhadap nasib ini sering tak bisa diurai karena tidak lagi mempercayai orang lain sebagai penenang, sebagian kasusnya terhenti tidak ditangani serius oleh dokter tentu saja karena mahal, ribet, dan hasrat mengurung diri yang terlampau hebat. Kasus-kasus yang lain juga mencakup urusan sosial. 

Di alam dunia timur ini orang tidak mau ke klinik jiwa justru karena takut stigma kegilaan jiwa dialamatkan pada dirinya. Sangsi sosial yang sebenarnya belum tentu terjadi ini kerap jadi teror menakutkan, pilihan antara memasrahkan nasib kejiwaannya pada paramedis akhirnya kalah dengan keangkuhan diri--yang sebenarnya merupakan respon error psikis dari daya survival yang tengah berlangsung. Daya bertahan agar terus hidup ini berubah jadi egosentris karena diri merasa cukup dan tak perlu bantuan orang lain, apalagi ketakutan akan "cap" yang ditaruh pada jidatnya jika publik tahu ia butuh bantuan. 

Lalu menolak semua yang akan menolongnya.

Pada saat yang bersamaan hidup harus jalan terus. Minum, makan, bekerja, mendapatkan deadline, tekanan-tekanan dari internal keluarga maupun dari sirkel. Jika kondisi jiwanya tidak beres dan tetap merasa biasa saja, biasanya dalam waktu cepat si manusia ini berubah baik dalam perilaku maupun responnya terhadap sosial. Kepalsuan-kepalsuan, topeng, dan serta amarah yang sesekali meledak terlihat di kala obrolan menganggu langsung apa yang jadi sebab depresinya. 

Kondisi negara yang buruk, sindrom paska kolonial, warisan orba, kemiskinan dan pemiskinan, serta krisis ekonomi membuat kondisi kejiwaan warga negara ini makin menjadi-jadi. Banyak orang yang ketika awal kenal biasa saja ketika ditelisik lebih dalam terang menunjukkan ketidakbecusannya dalam mengelola jiwa, kegilaan yang tersamar namun terlihat melalui logika yang meloncat-loncat, kalimat-kalimat yang tak efektif serta gestur ketika dialog mulai naik level. 

Biasanya mereka ini merasa hidupnya baik-baik saja, dan mulai menyalahkan societas di sekelilingnya atas kerumitan yang sebenarnya berakar dari dalam dirinya sendiri. Terlalu gampang swipe, cut-off, atau menyertakan label toxic pada liyan. Dan harga dirinya kurang mampu untuk melakukan oto-kritik. Sehingga societas makin chaotic, ditambah dengan fenomena doom-scrolling buat mereka yang mengurung diri ini, berlagak introvert padahal sedang bermasalah. 

Kerumitan demi kerumitan itu akhirnya nyrimpeti banyak orang. Mindfull lala lili itu akhirnya tak menjawab, memang yang dibutuhkan manusia seperti ini akhirnya saluran yang lebih keras. Baku hantam, fitnah, reseh. Atau mungkin sebaliknya, ia butuh keajaiban. Kekeringan batin, dan kemarau hidup itu butuh sesuatu yang lebih spiritual, butuh manusia untuk bercerita, serta butuh alam dan Tuhan tentu saja. Tapi manusia kerap sombong, belum selesai jika belum nabrak. 

Maka, carilah keajaiban itu. Bukan di luar, tapi di dalam dirimu sendiri, dalam ruwet pikiranmu itu, serta

bertahanlah sedikit lebih lama.

Temui orang, bicarakan keluh kesahnya, mengurung diri hanya akan mempercepat kegilaan dan bunuh diri.

***

Hal-hal ini pernah kualami cukup lama, mungkin selepas lulus SMA di usia belasan hingga 32 tahun. Dan ini kasusnya tentu personal, sangat subjektif, tapi tulisan diatas itulah rekaman semuanya. Baik di dalam diri sendiri maupun orang lain, baik ketika aku melakukan penyelesaiannya sendiri, dengan jalan ketemu teman-teman filsafat, psikolog, maupun dengan jalan bertemu guru-guru spiritual secara kusyuk dan sungguh. 

Sisanya kemudian merelakan diri diterkam angin malam, cinta, dan mata-mata kawan yang terus berada di kiri kanan. 

Ora gampang. Semoga selamat. 

Manut Yesus:

"Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”


Surakarta, 15 September 2026

Ign. Indra Agusta

Friday, September 4, 2026

Jauhi Cartesians, tebarlah ayat

Frengki ke Sala lagi. 

Setelah sekian lama geser ke timur jadi wakasek di sekolah seni², ia pulang. Tetap kemaki, ceplas-ceplos seperti biasanya namun seiring waktu keangkuhannya atas rasio melunak. Ada hal² yang tak mungkin ditemukan di buku, jurnal, konten, atau video pendek medsos. Segala hal nyata <offline>  yg lesap sebagai pengalaman. 

Dia mengkritik saya cukup tegas, sambil menyodorkan teks pidato guru besar sastra Prof. Faruk Tripoli di UGM. Ada bagian yang menurutnya penting untuk kulakukan di umur segini: harus mulai berani keluar dari diagram axis Cartesians.  Mulai luaskan jauh dari sekedar rasio x,y, & z dan mulai menjangkau halaman lain yang butuh lelaku. Seperti rasa, nuansa, empati,  hawa, dst.

Frengki belum membaca tulisan ultah saya yg ke-36. Intinya tep sama, aku harus lebih berani ngomong² yang sedikit ayat, spiritualitas, serta opini yg muncul karena pengalaman pribadi. 

Kali ini dia benar, saya nyaris tak mau berbantahan seperti biasanya. Setelah kurenungkan lagi, benar juga, mengapa saya kurang berani membicarakan pengalaman batiniah begini, setelah mengunyah banyak teori, bacaan, buku² tebal, berbincang dengan banyak guru-guru. 

Apakah sudah saatnya? Melempar begitu saja kalam-kalam yang batiniah² ini. 

Teguran Frengki ini menarik, saya tidak tahu dia kesambet apa, kalau yang ngomong kawan² yg bergiat di pesantren atau gereja atau padepokan oke, lha ini Frengki agamanya ki rasionalitas. Apakah dia juga mulai tua dan semeleh, lalu membiarkan yang kiri² dan melawan itu bertranformasi menjadi bentuk lain seperti beberapa ilmu yg kupelajari dari para guru. 

Saya pernah mempelajari bagaimana kendali otak manusia terus berkembang seiring usia yang menua akan mulai melunak, dan agak spiritual. Hal ini bukan karena agama (saja), tetapi pengalaman hidup dan tinggal di nusantara akan memungkinkan jalan hidup menuju demikian.

Bongkah² itu harus dilempar begitu saja, pisaunya bisa menancap ke segala arah, termasuk diriku sendiri. Tapi bukankah demikian, setiap kebijaksanaan lahir dari kumpulan proses secara nyata dan mengalami banyak kesusahan². 


Mungkin sejak malam itu, aku makin berani berubah mode jadi yang sebenarnya batiniahnya begitu, tapi dulu pernah dikritik karena masih terlalu muda untuk memberi nasehat.

 

Jika ini memang waktunya, maka, marilah kita selesaikan. Tapi jangan tiba² spiritual, rasio lebih dulu. Jangan karena kebodohan dan kemalasan tiba-tiba jadi sok nyipiritual, bukan gitu cara mainnya.


#agustaisme

@frengkifariyapratama


Foto: Frenki di basecamp Sraddha Sala, credit foto  @chintami_tiwi

Saturday, August 29, 2026

Ombak harian

Semakin menua hidup kita selalu diliputi tegangan, mungkin itu yang membuat kita cepat beruban dan keriput. Nyaris tak pernah berhenti hal² yang membuat kita kebingungan mengatasi segalanya. Kehilangan, ketidakmampuan, kebimbangan, kehampaan kadang bebarengan datang di sela kegiatan. 

Rasa khawatir turut pula datang, gak punya duit misalnya, itu selalu jadi momok banyak orang. Dunia yang serba transaksi ini memang membutuhkan kapital finansial lebih agar mapan dan bisa lebih luwes bergerak. 

Ada yang selalu membuat berdebar ketika peristiwa yang tak dinyana² terjadi, dan harus mengeluarkan uang lebih untuk hal yang tidak kita inginkan. Tapi kerap muncul solusinya juga. Dan benar² datang dari arah yang gk kita ketahui. 

Hal² itu seperti klenik, ia menjelma begitu saja sebagai jawaban. Di umur segini, kerjaannya gak jelas, gelar tak punya, ketrampilan pas2an, dan tenaganya dah jauh surut daripada ketika lulus SMA. Apinya membesar tapi wadagnya mengecil.

Ada paradoks² nasib yang demikian. Ombak itu terus menggetarkan, kadang sepagi ini, ketika mata belum kantuk, lalu pikiran nggrambyang kemana². Memikirkan esok yang entahlah. 

Dan anak manusia tetap anak manusia.

Wednesday, August 26, 2026

Pemurnian

Ketika SMP di era orde baru masih sering menikmati tradisi ala-ala militer dalam dunia perkemahan. DIbentak-bentak, dibangunkan malam buta, diajak bergeser cepat, packing dan menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat cepat dan taktis. Hal ini di beberapa tempat kemudian diadopsi sebagai metode pendidikan terbaik untuk mengajari manusia awareness

Situasi-situasi ini masih berlangsung sampai ketika orde baru tumbang. Militerisme belum beneran hilang, ospek, MOS, dan segala yang  jenis pendidikan masih mengadopsi gaya semi-militer. Hal itu nanti akan berkembang di sekolah-sekolah (terutama SMK) karena dinilai cukup efektif untuk mendisiplinkan bocah guna menunjang kebutuhan industri. 

Sistem-sistem ini terus berjalan.

Ada ruang-ruang lain yang terus diwariskan secara personal namun luput diamati apalagi diselesaikan. Generasi paska orde baru yang penuh kebebasan akhirnya berbenturan dengan generasi sebelumnya yang full disiplin. Benturan ini tidak terelakan, generasi yang bebas ini memang lebih ceria dan cerdas, apalagi nanti setelah internet memasuki ruang dimana mereka tinggal. Informasi bak air bah menggulung siapapun yang menggunakannya. 

Orang-orang tua kemudian mewariskan watak. 

Banyak generasi baru yang menjadi sangat bebas sekaligus menjadi sangat fasis di sisi lain. Dalam hatinya ingin bebas tapi ia akan meletakkan daya kekang yang tajam pada pasangannya. Pada orang-orang yang paling ia cintai. Perasaan merasa memiliki itu tidak tersalurkan dengan baik, lalu muncul hasrat protektif dengan beragam resikonya. Efek-efek pendisiplinan bahkan sampai level menindas itu akhirnya muncul. Tak peduli gender semua  bisa berkemungkinan. 

Nalar mendisiplinkan ini bisa jadi karena kekosongan kuasa dari si subjek, power yang tak tersalurkan itu akhirnya dihantamkan begitu saja pada pasangan,lalu kepada anak, jika masih tak puas lagi kepada cucunya. Otoritarianisme muncul dalam skup paling kecil bernama hubungan individu. 

Banyak yang tersiksa namun bertahan, adapula yang menikmatinya sebagai sebuah kenikmatan. Kenikmatan ditindas. Setelah perilaku protektif terjadi dan membiarkan manusia hanya hidup untuk pasangannya, lalu si subjek akan kehilangan pertemanan dan jaringannya, atau mulai menjauh karena sadar kondisinya telah berbeda.

Si subjek yang sudah tak punya apa-apa lagi ini kemudian didesain untuk tergantung pada pasangannya, lalu penguasaan berikutnya terjadi. Tindakan-tindakan lain mengikuti berikutnya, ada pula yang terwariskan sampai level keluarga. Anak-anak yang tak pernah ketemu guru lain di kehidupannya, atau sudah merasa cukup dengan pemahamannya sendiri tanpa sadar kemudian meneruskan perilaku ini. Akibatnya keluarga-keluarga hancur makin banyak lagi di generasi berikutnya. 

Pemurnian-pemurnian ini terus menggejala, dan seringkali dianggap hal biasa. Seperti lelaki tak boleh menangis, wanita kodratnya memang ngurus domestik, atau misalnya anak harus tunduk pada orang tua meskipun orang tuanya salah. Halaman hidup seperti ini terus mengisi alam republik yang katanya demokrasi. 

Karena terlalu sering, saya akhirnya terus melihat banyak kebaruan lain. Bentuk lainnya hal ini kemudian bisa dijadikan jurus untuk saling mengunci satu sama lain, jika masih bersama diam saja, jika pisah segala keburukan keluar. Lalu hal-hal buruk terus terjadi. Kita selalu berkisar diantara mereka.

Nampaknya masih akan terus berlangsung beberapa puluh tahun ke depan, apalagi urusannya cinta, manusia selalu bebal jika urusannya ini. Dan membiarkan dirinya dalam banyak sengsara yang tidak perlu, sekaligus tak mau memanggul kesengsaraan dalam frame yang lebih luas, untuk orang lain misalnya. Bukan ingin menjadi saviour, tetapi agar hidup terus bermanfaat itu saja. 

Monday, August 24, 2026

Belokan tajam lagi

 Seiring menua seringkali manusia makin keras kepala kepada dirinya. Seiring itu pula dengan mudah gampang ditipu daya dengan berbagai macam hal. Hal-hal yang menurut dia masuk akal tetapi sebenarnya tidak, dan tipuan-tipuan itu begitu rupa membingungkan manusia. 

Anak manusia yang tengah bimbang kerap menyandarkan diri pada satu versi kebenaran yang masuk di akalnya, kerappula mencari-cari pembenar dari apa yang sedang ia kerjakan. Ia kemudian memasrahkan total sampai keadaan terjadi sebaliknya. 

Kadangkala saya sudah tahu itu akan terjadi, tetapi, saya membiarkannya dan terus menerus mengekang diri untuk tidak terlalu campur tangan terhadap apa yang dialami anak manusia lain. Ketika semuanya terjadi, kadang merasa bersalah sendiri mengapa tidak menghardik ketika perasaan itu muncul. Dan manusia sama-sama bebal, ia tidak pernah mau mengerti akan keadaan yang dihadapinya, serta selalu mengikuti apa yang jadi kekarepan hatinya. 

Ekosistem kemudian terganggu, dia yang hidup untuk dirinya sendiri ini merusak jaring perkawanan hanya karena takut menghadapi kenyataan yang ia hadapi sendiri. Hanya karena pengecut kenapa ia terus menerus bimbang. 

Kekalahan manusia selalu menimpulkan choping mechanism   rupa. Ada yang mengurung diri, ada yang berlagak tidak tahu, ada yang berbohong baik kepada diri sendiri maupun orang lain, adapula yang menyalahkan orang lain agar hubungannya dengan personal tertentu terus berada di posisi mutlak benar. 

Ruang jaman selalu merekam hal demikian.

Adalagi yang tak kuat pasti depresi, gila dan kerap berujung bunuh diri. Yang gila ini kerap merepotkan, ia tidak sadar bahwa dirinya gila dan kerap membabi-buta ketika kondisi kejiwaannya tidak segera tertangani dan merasa bahwa dirinya baik-baik saja. 

Tempo hari, ibu sambungku demikian. Ketika dia berpindah dari poli jantung karena jantung lemah ke poli jiwa, ia merasa bahwa dirinya sudah tak berharga di dunia ini. Merasa bahwa dunia baik-baik saja tanpa dirinya, dirinya jadi absurd dan sekaligus merepotkan sekelilingnya, bapak saya, dan saya secara tidak langsung. 

Hal ini berasal dari choping mechanism yang salah. Ia berlagak kuat akhirnya ketika jebol tidak bisa teratasi bahkan oleh nakes sekalipun. Yang bisa menyembuhkannya adalah dirinya sendiri, kemampuan untuk mengatasi diri dari banyak hal, serta menerima keadaannya sebagaimanapun buruknya. Karena jika ini tidak selesai ke depan akan menjadi masalah lagi, lebih lagi jika suatu hari ia jadi orang punya power, kehancuran demi kehancuran bisa terjadi karena pikiran yang kalut, yang tidak segera disadari ini akan jadi boomerang seiring waktu.

Ketika saatnya tiba, ia hanya akan jadi sampah. Mengelola dunia seperti sampah dan kehancuran lainnya. Mayat-mayat hidup itu rasanya makin banyak seiring jaman yang makin susah, perlambatan ekonomi yang makin menjadi serta geliat komodifikasi yang mengabaikan si papa. Jurang sosial yang makin jauh, dan makin jauh menyeret manusia pada keadaan yang tak pernah ia pahami.

Tuesday, July 7, 2026

Tigaenam

Mengitari matahari lagi, kali ini edar langit yang ketigapuluh enam. Rasa-rasanya hidup makin berserah, sumarah pada segala ketetapan dan nasib.  Ketakutan tentu menjalar tak mungkin hilang tetapi tetap saja syukur lebih dulu mendahului.

Malam ini, pada sebuah kedai bir di labirin memusingkan Pogung Jogjakarta mataku tertuju pada simbol yang telah lama aku kenal: Hati Kudus Yesus.

Simbol ini memang sering kulihat sehari-hari di pelbahagai tempat, sebagai tanda dan pengingat akan kasih Tuhan yang terus menyertai kita senantiasa. Malam ini memang agak melankolis. Mata-Nya terus memantau satu demi satu pekerjaan anak manusia, dalam perjalanan hidupnya, dalam segala lipatan-lipatan takdir yang mengitarinya.

Semakin tua dalam nonton banyak hal selalu dibuat takjub oleh segala dinamika-Nya, bahkan dalam beberapa kasus harus geleng-geleng kepala dan menekan-kan dalam hati: oh, begini cara kerjanya. Dia menjadi Maha Kuasa justru karena setelah kita berhitung dan sangat memaksimalkan apa yang kita bisa, kita simulasikan selalu ada hal yang berhasil melampaui prediksi. 

Ada lapis-lapis peristiwa hidup yang membuatku terhenyak, rasanya seperti diselamatan dari banyak hal buruk, diri terkulai lemah tapi ada sesuatu di dalam diri yang berupaya menguatkan. Serta terus dipertemukan dengan banyak hal baik. 

Anak manusia setua ini, yang lumayan punya kapasitas sensing  kuat, masih saja diungguli oleh kasih-Nya. Pembolak-balikan keadaan, kondisi hati makin terang hidup urusannya selain berhitung terus menerus adalah dilakoni, tatag dan gentle

Dalam kondisi demikian, apalagi kalau bukan rasa syukur yang diucapkan? selain itu semakin dewasa harus pula menaikkan rasa mawas dan wawas agar terus menerus kuat menjalani banyak hal dengan bening. Menaikkan rasa sabar, terus bersimpati dan menaruh empati. 

Kita ini lahir dari belas kasihan, apa alasannya untuk tidak saling mengasihi?

Rasanya seperti terlalu tua yak? di umur segini sudah mulai ngomong ketuhanan, tapi demikianlah rasanya. Ternyata pada keadaan seperti ini, dalam level kompleksitas tertentu kita selalu ditaruhkan, dan diuji nyalinya, dihantam lagi kesadaran dan kewarasannya guna menemukan hal-hal baik ini tak bisa terukur dengan logika. 

Bukan pasrah, dalam melakoni hidup harus  terus mendobrak segala kebuntuan, harus menjalani apa yang malas untuk dijalani sebagai sebuah kewajiban, tetapi adakalanya untuk bergeser dan mulai memasrahkan diri untuk membuka kunci berikutnya dalam hidup, bahwa segala sesuatunya memang tak mudah diamati. Ada perkenanan Tuhan, dan penyertaan Tuhan dalam segala hal.

Sebagian besar jika rasionya cukup kita akan bisa mengenali bagaimana pola-pola menggejala, tanda dan perilaku manusia selalu mencipta kondisi dari apa yang kita sebut aksi. 

Setiap aksi tidak kosong, ia selalu punya motif, struktur, dan 'mental mode' dari ia yang mencipta, atau serendah-rendahnya adalah upaya pertahanan terhadap hidup itu sendiri. Hal-hal seperti ini jika kemampuan, pengetahuan dan kecepatan membaca keadaannya bisa tersinkron lebih mudah terbaca. 

Beda halnya jika rasionya tak terukur, seringkali kita harus menempatkan satu atau beberapa pointing "arah" agar lebih memudahkan kemana langkah yang dituju. Ketika pencarian tak temu, kadang semesta menjawabnya dengan cara lain. Itulah kelemahan kita, ketidakmampuan kita menerka pola, struktur dan subjek penentu membuat kita sadar kebodohan kita. Atau mungkin itulah jalan lainnya, jalan yang mengantarkan kita pada penyertaan-Nya, perkenanan-Nya. 

Banyak orang bilang hidup harus berusaha itu betul, sebagian lain bilang orang hidup dari keberuntungan/hoki itu juga betul, tetapi ada ruang lain yang muncul selain dari usaha, dan hoki yang menyelinap diantara peluang-peluang. Lalu bagaimana yang bukan usaha dan bukan peluang? tapi terjadi dan menyambar pada takdir kita. 

Halaman hidup itu muncul di lintas edar ketigapuluhenam kali ini. Pernah ada satu-dua kali yang bertanya bagaimana bisa sampai sana, cara seperti apa untuk sampai situ, kok bisa? jika itu hal-hal sederhana mungkin akan lebih mudah menjawabnya, tetapi, jika itu hal kompleks dan yang dihadapi adalah kawan-kawan yang kurang mengerti bagaimana hidup anak manusia ini bekerja, akan sangat sulit menjawabnya. 

Ada banyak hal lain di luar sana, yang ketika kita terus berusaha, mengerjakan banyak hal, menemui banyak orang, lintas-lintas hal itu membuka banyak celah lain yang belum terbuka. Dan, dari situlah kadang keberkahan itu mengalir. 

Tentu saja tulisan ini bukan untuk membuat anak manusia malas, menyerah, serta berbagai alasan lainnya guna meninggalkan kemampuan yang telah diraih. 

Tulisan ini justru ingin menunjukkan, sejauh apapun kamu mengerjakan banyak hal akan ada horison lainnya yang terlihat, batas lain dari batas wajar yang telah diraih. Setiap karya, usaha, aksi-aksi bisa menaikkan manusia untuk menaikkan batas horisonnya, banyaknya pengalaman dan capaian memperbanyak peluang lalu keberuntungan mempercepat manusia naik horison.  Tetapi, ada yang sangat jauh di luar perkiraan, biasanya mengagetkan, dan daya ubahnya sangat tinggi. Dan itu adalah bentuk dari perkenanan-Nya. 

Karena daya ledak serta tegang-kejut dari hal ini kerap  luar biasa, maka, dibutuhkan kesiapan mental terhadap segala pengaruhnya pada nasib kita di dunia

Banyak yang tidak siap ketika naik, banyak pula yang gegap ketika njlungup. Jika mengutip Mbah Mus dalam cerpennya, manusia harus berhati-hati apabila mendapat cobaan berupa anugerah

Ya, anugerah itu sendiri tak selalu bermakna melenting, kerap capaian-capaian juga bisa untuk menguji manusia apakah ia sudah sepastasnya menyandang itu untuk kemudian pada levelnya melihat horison tertentu. Atau malah terlena dan jatuh oleh keangkuhan dan kecongkakan. Seperti mendapat sebuah kebenaran, meski itu kenyataan, banyak orang tidak siap menerima kebenaran. Apabila kebenaran itu disampaikan bagi manusia yang tidak siap, yang muncul hanyalah kehancuran yang tak perlu.

Horison atau ujung dari segala ini juga tak semua membawa pencerahan bagi para pencapainya. Jika mentalnya tidak siap ia bisa gila, mengurung diri, atau justru menolak semuanya. Butuh kesiapan wadag untuk menerima, serta kerendahan hati jika telah mencapai. 

Ruang-ruang jaman begitu rupa menjadikan anak manusia menemui banyak hal, kali ini, di tahun ke tigapuluhenam ada ritme lain yang menjadikan lebih sabar, dan memperbanyak tabah menghadapi banyak hal. Di depan sana, lautan makin terlihat luas, dengan horison menguning yang makin dekat dan manusia selalu berusaha agar makin waspada dalam membuang sauh. 



Jalma

Surakarta, Juli 2026




Wednesday, December 31, 2025

Tahun Anonim

Kalender merekam putaran Masih-i kembali pada mula. 

Jangka, itu yang sering orang Jawa bilang. Mengapa orang-orang terus menandai awal-akhir, mula-buka, dan sederet noktah atau tanda dari pengalaman hidup. Tagar-tagar itu satu dua akan kita ingat hingga puluhan tahun mendatang, tepat ketika kita cukup nganggur, kalah dan mulai kelelahan oleh pola-pola hidup. 

Romantisasi masa lampau yang tak bisa dilawan. 

Beberapa kawan memulainya lebih cepat, bahkan sejak umur baru beranjak 30+, kalimat-kalimat bernada: jaman abang dulu, selalu beredar di tongkrongan yang sebenarnya sudah beku, masam seperti sayur nget-ngetan

Hal ini tak selalu buruk mengingat pembicaraan masa lalu kadang bisa jadi "jembatan" dari kebekuan dalam berkomunikasi atau hubungan reuni. Kelakar-kelakar masa jeda kerja, dan masa lalu yang tiada pernah kembali lagi melebur menjadi ingatan liar. Peristiwa yang getir kadang bisa menjadi manis ketika diingat.

Kita-pun begitu, menertawai banyak masa lalu serta menyesali pilihan serta aksi yang tiada perlu terjadi dan berharap tahun-tahun mendatang jikalau tidak lebih baik secara nyata namun semoga harapan akan hidup itu terus terjaga. 

Harap akan keberlanjutan hidup bukan sekedar perihal menjaga ritme, tetapi juga terus memberikan kesadaran akan kemungkinan-kemungkinan yang bisa timbul. Sejumput biji sesawi yang memindahkan gunung yang dilupakan generasi pemilih dan berlagak terus mengusahakan yang terbaik padahal malas.

Menuju edar matahari yang baru dan gejalanya makin terang penuh dengan anonimitas. 

Tidak cuma gen-Z dengan postingan nol di media sosial, melainkan banyak pula yang dalam hidupnya "ingin dihargai" tapi berlagak sok spesial dengan meniadakan banyak hal dalam halaman hidup. Anti-eksistensi tapi batinnya ingin eksistensi. 

Sedari awal saya terus ingin mengingatkan pada diri sendiri dan orang lain:

Tidak, kamu tidak se-spesial itu, mbok biasa wae, sing lumrah.

Ungkapan ini bukan untuk merendahkan diri tetapi untuk terus mengingatkan pada diri sendiri dan orang lain bahwa di luar sana ada banyak hal yang berada di luar kendara dan kendali kita. Ada banyak peristiwa yang kita-kita ini sebenarnya tidak terlibat di dalamnya, tapi malah sangat berpengaruh di sosial yang lebih besar. Kita ini benar-benar debu kosmik itu beneran adanya karena dalam sejarah peradaban manusia kita juga cuma detik terakhir dari 24jam masa semesta. 

Daripada hidup terus dihiasi distraksi-distraksi kenapa tidak fokus saja pada apa yang kita miliki dan mengusahakan sebaik-baiknya. Apa selalu menang? tentu tidak. Tapi, ia bisa mengaktifkan banyak kemungkinan yang lain. Bahasa populernya adalah "mengejar Grit", atau saya lebih senang menggunakan peribahasa Jawa: sapa sing temen lan tekun, bakale tekan. Ia yang tekun akan sampai. Ia yang tiada berpunya carilah, kejarlah, supaya punya. 

Itu saja tidak perlu anonim-anonim, toh kita ini juga belum siapa-siapa, dan bukan siapa-siapa, jika itu alasannya privasi simpanlah dirimu untuk dirimu sendiri. Biarkan karya-karya kita berbicara tentang kita, apa yang kita buat, apa yang kita kerjakan, apa saja yang telah kita berikan kepada banyak orang di sekitar kita. Jika belum memberi dampak, tidak usah belagu. 

Eksistensi manusia akan berkembang alamiah seiring resonansinya pada sekitar. Supaya tidak terlalu kebesaran empyak, tapi kurang cagak. 

Hari-hari baru telah datang, anonimitas memang membuat orang nyaman tapi sekaligus kering eksistensi. Manusia pada akhirnya tetap ingin "dianggap ada" dengan segala macamnya, menurutku rawat-rawat saja dengan baik. Jaga teganganya agar jangan terlalu tersembunyi sekaligus jangan sampai terlalu narsis apalagi sakit NPD. Selain psikolog mahal, dalam sejarahnya tokoh Narcissos si muasal kata narsis ini sudah gila, tapi tidak merasa dirinya gila. Ia menikmati elok rupanya dari pantulan-pantulan air sungai, dan mulai memuji dirinya sendiri secara berlebihan, sekaligus jika salah itu pasti orang lain, bukan dirinya. 

Generasi anonim ini kerap berkilah atas sesuatu yang muasalnya dari dirinya, bukannya minta maaf tetapi merangkul segala kemungkinan dan mengolahnya sebagai pembenar.

Susah kondisinya ketika sakit tapi dirinya tidak merasa sakit. Manusia tetap butuh orang lain untuk mengukur, jika kesadarannya cukup ya terus instropeksi diri bukan terus larut dalam kepulan-kepulan pikiran yang tidak menentu. 

Kita juga harus memilih dan beraksi dengan wajar, agar tidak gegabah tapi juga jangan kaku. kelenturan, kelembam-an itu bisa dipelajari dari alam untuk menahkodai hidup yang menua. Kita butuh mental-model sebanyak-banyaknya supaya muncul rasa empati dan simpati. Ngrumangsani. 

Segala retas, usaha dan serapnya mari kita pastikan benar memberi kuasa untuk tumbuh, mengakar dan menjalar. Bukan sekedar raksasa berkaki busuk yang perutnya kenyang dengan pemikiran tapi tiada pernah memikirkan skala lebih besar daripada dirinya sendiri. 

Akhirnya selamat tahun baru Lur, pastikan dirimu ada, dirimu siapa dan jaga kiri-kanan. Semoga yang baik terus berbiak. Mengutip Barasuara:

saat kau menerima dirimu, dan berdamai dengan itu, 
kau menari dengan waktu, tanpa ragu yang membelenggu


Jangan menjadi anonim di tahun anomim.

Madyataman, 1 - 1- 2026

I. Agusta

#agustaisme



Thursday, September 11, 2025

Sengkuni kita

Apa pilihan orang² yang sudah miskin, tak punya apa² selain menghasut? Begitulah drama Sengkuni 2019 yang dipentaskan Emha bersliweran dalam ingatan.

Sengkuni lahir dalam kemiskinan ekstrim, ia bahkan harus 'memakan' bangkai saudaranya, orangtuanya agar terus hidup.

Meski tak utuh, ia mampu bertahan. Salah satu caranya yang paling mungkin adalah mendengar, menghasut dan mengambil kesempatan² kecil dari lakon yang bergulir supaya kelanjutan nyawanya berlangsung.

Sengkuni hidup dari gosip. Persis seperti semua manusia lumrah, setelah capek dengan kerja, dengan banyak hal dalam hidup akhirnya obrolan² menjadi saluran. Tak jarang obrolan itu membuat kita hidup. Membuat kita tak kesepian, dan membuat kita makin mengerti bahwa semua manusia butuh cerita, butuh narasi, butuh hal² abstrak guna menunjang kstabilan hidupnya. 

"kalian pernah miskin seperti apa? Kalian pernah susah apa? Kok tega²nya menyakiti hati rakyat? Kalian bahkan bisa bayr bermilyar² untuk berkuasa, aman² saja kok.

Sengkuni dengan segala nasibnya, bahkan tidak sejahat kalian, dia tak menjadi teroris, gak menjadi penjahat tapi cuma menghasut sebagai bagian dari obrolan² yang lewat"

Jangan² kita ini, aku dan kamu adalah Sengkuni itu, yang hidupnya terus kekurangan tapi bertahan, tapi terus menerima banyak sambatan, banyak obrolan dan hidup dari narasi² yang dilempar. Karena toh apa, wong juga sudah gak punya apapun.

Kemungkinannya paling buruknya dari puasa Sengkuni adalah jadi pintar sekaligus licik, mendengar sekaligus menghasut, bahkan mengkaburkan banyak informasi supaya narasi² itu terus hidup, satu dua mata akan menduga sengkuni sebagai dalang, tetapi hubungan² manusianya terjaga dalam bisik², dalam rerasan dengan segala bumbunya. 

Segalanya kini makin terang, puncak pencapaian karir Sengkuni adalah demikian. Ia gak mungkin jadi raja, jadi satriya karena hidup tak memberi kesempatan untuk menjadi orang lain. Hanya kepahitan, kekalahan dan kegagalan sepanjang hidupnya yang membuat ia menjadi bengis dan memupus harapan akan hidupnya sendiri. 

Siapa dari kita yang tak pernah menghasut?

Siapa dari kita yang gak pernah membumbui sesuatu supaya narasinya menarik? 

Dialah yang mengambil batu pertama untuk merajam 'para Sengkuni'?

#agustaisme

Wednesday, September 3, 2025

Kanal besar

 Di jalanan orang-orang merayakan kemenangan kecilnya, sebuah perayaan bingar, sebuah saluran bisul pecah atas nama kepenatan, kesesakan, ketidakadilan, pemiskinan, pembodohan, dan berbagai 'failure system' yang menyeret nasib manusia secara individu.

Seperti tidak begitu terang, tapi aura kemarahan itu seperti tak mungkin terbendung.

Di lorong² malam, riuh, tapi jernih suara hati menguar. Sebuah 'ngudarasa' dari derasnya ketimpangan dan ketidakpastian nasib. 

Orang² datang mencari ratu adil, justru ketika para pemimpinnya gak sanggup memberikan keadilan

Orang² mencari jamu, obat cespleng kalengan karena resep dokter sudah tak bisa ditebus lagi, kassa-kassa lantang menolak kasbon. 

Orang² tak peduli lagi dengan jurnal, pwnwlitian, esai, segala yang lahir dari pemikiran² brilian


Ia hanya butuh satu mantra, mantra yang memberikan kelegaan, dan manusia mencarinya ke ujung bumi untuk menenangkan dirinya


Ia yang dipinggirkan kini mendapat panggungnya

Ia yang teraniaya kini mendapat kanalnya

Ia yang diabaikan kini punya tameng eksistensi

Ia yang biasa saja kini bisa berpeluang jadi martir


Seperti puisi akbar Emha:

"Kalau sunyi engkau anggap tiada

Maka bersiaplah terbangun mendadak dari tidurmu karena ledakannya"


Karena yang tiada itu justru kadang² adalah segalanya

Sebaliknya, kadang yang segalanya itu justru kadang malah tak ada


Sejumput rumput kering tumbuh, awannya berputar, dan musimnya berubah..


Ratu adil memang tidak ada, atau mungkin ratu adil adalah suara² yang dianggap tak pernah ada itu

Air yang bising, yang tajam, yang bening, yang jernih, yang tenang...


#agustaisme

Saturday, August 23, 2025

luka masa kecil

Anak-anak terus merekam sejak kesadarannya muncul, mungkin sekitar usia 8-9 tahun ketika rasa ingin tahu dan mimetik mengalir deras. Segala yang lewat disekitarnya kemungkin turut membentuk kedirian sang bocah. Mereka bukan tak mengerti namun belum cukup mampu 'menggambar' lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi, ideal-ideal hidup dan sebaliknya. Tapi kesadarannya cukup untuk mengingat apalagi jika hal itu menyinggung langsung kediriannya. 

Setelah dewasa hal-hal kecil ini menjelma menjadi banyak kekacauan dan kita menyimpannya sebagai perangai buruk. Luka-luka masa lalu yang nyaris tak mampu disembuhkan lagi.


Tuesday, July 8, 2025

Gulali Tiga Lima

 


 Jenang gula, kowe aja lali marang aku iki

nalikane nandhang susah sapa sing ngancani

Begitu bait pertama lagu yang sampai sekarang masih jadi perdebatan apakah gubahan Manthous atau Suratman Markasan. Aku telah mendengar lagu ini bahkan sedari SD meski lewat begitu saja, lesap menjadi pengalaman hidup sehari-hari di desa. Baru jelang tiga puluh tahun lagu itu mendapatkan tempat tersendiri dalam benak, pemaknaannya jauh melampaui ketika lagu itu dibikin. Tak hanya sekedar lagu cinta ala Jawa, tetapi juga sebagai cermin hidup seiring umur kian bertambah. 

Adalah Jaya Suprana yang berhasil mengingatkanku kembali pada lagu masa kecilku ini. Dalam sebuah malam hening di meja operator warnet, ketika semua orang tertidur saya memutar potongan resital beliau ini. 

Ingatan melenggang jauh ke masa lalu.

Putaran film usang kenangan dari geliat masyarakat desa paska reformasi, orang-orang yang sedang kesusahan dan masih ditipu oleh beranekawarna muslihat, orangtuaku, eyang-eyangku serta orang-orang baik yang selalu ada di sekelilingku dari merekalah ini rekaman film itu menjadi baik tersimpan dalam benak. 

Meski di tulisan ini tak mungkin kutulis satu persatu, tapi jelaslah tak mungkin aku sampai pada titik hari ini tanpa kebaikan-kebaikan tadi. Pada harapan yang selalu dititipkan dari hati ke hati, pada teguran hidup, kasunyatan yang seakan tiada habisnya menghardik nasibku hingga hari ini. Semua perangai membentuk sebuah komposisi indah dari umur itu sendiri. 

Pada bagian ini, denting pertama Pak Jaya berdaya magis. Penciptanya juga tak melewatkan untuk menunjukkan kepiawaiannya dalam bersastra Jawa. Sebuah wangsalan disematkan secara manis dalam lirik jenang gula yang jawaban dari teka-teki ini adalah gulali. Rima dari kata "gulali" ini dijawab dengan "aja lali". Seperti seakan memberi semiotik, 

Kalau kamu lihat kembang gula(gulali) , ingatlah aku

Rasa-rasanya memang begitu. Bukankah demikian kita memperlakukan hidup? meskipun tak selalu mudah bahkan hidup harus dihadapi dengan liat, namun kita terus berhasil menyensor kenangan-kenangan itu sendiri. 

Yang buruk, jahat segera kita ingin lupakan, silapkan, sementara yang baik kita rawat baik-baik kita mengenangnya sebagai bagian paling indah dari kesemenjanaan waktu dan seolah kita akan wariskan keindahan itu pada karya-karya, pada anak cucu jika memungkinkan.  

 ning saiki bareng mukti kowe kok njur malah (ng)lali marang aku

Setelah Pak Jaya lagu ini dinyanyikan mendiang almarhum Ki Seno Nugroho, seorang dalang dari Jogja yang punya kerabat dengan Pak Bayu Kiai Kanjeng. Video berdurasi lima menitan itu sangat bermakna karena jadi semacam video personal terakhir sebelum beliau mangkat. Perlahan waktu yang kemudian membuat kita senantiasa lupa padahal pada masanya pernah memberi arti yang sangat dalam.

Ketika Ki Seno menyanyikan itu telak saya ingat "sumur-sumur tua" yang pernah saya temui di masa lalu, guru-guru, pastur, kiai, orang sepuh yang pastinya banyak meninggalkan jejak dalam batin dan pikiranku, dari mereka-mereka inipula saya sampai di sini. Juga kepada "lincak reyot dari bambu" orang-orang yang mungkin dielakkan dalam dunia persilatan, mereka yang tidak pinunjul di depan, tidak penting bagi kebanyakan tapi justru dari mereka ini aku berhutang ilmu melebihi teori-teori. perihal menghadapi realita, takdir dan nasib, perjuangan serta peruntungannya dalam menjawab beragam tensi dan tekanan yang dengan sungguh aku katakan itu kerap jauh melebihi kapasitas mereka sebagai manusia biasa. 

Kawan-kawan lincakan ini kerap membuatku kembali jadi manusia, yang lumrah, biasa saja dan jauh dari ndakik-ndakik ilmu pengetahuan. Mereka yang mengarungi bahtera dengan kelakar, sesap rokok dan berbotol-botol arak Wirosari. Sebuah kaca benggala raksasa untuk membuat saya kembali ngukur klambi, menakar kemampuan diri bahwa sampai saat inipun ya belum jadi apa-apa. Agar selalu muncul peringatan-peringatan seperti aja dumeh, jangan merasa sedang dalam posisi tertentu yang membuat kita menjadi kelewatan dalam bersikap kepada liyan.

Waktu pula yang menunjukkan bahwa nyatanya sebaik apapun kita menyajikan kebaikan, kepengasuhan, pengajaran, penjagaan tetap saja akan selalu ada yang melupakan apa yang pernah kita berikan. Sebagian lain dari mereka akan kembali lagi setelah sekian purnama, setelah berbagai kemungkinan yang telah aku peringatkan untuk tidak dilakukan dilanggar dan menjelma menjadi raksasa besar, kemudian menyeret siapa saja yang sebetulnya tak begitu terlibat. 

Kapal-kapal telah bocor dan sulit lagi ditambal, perahu-perahu itu retak jauh sebelum berlabuh. Buih dan badai mencipta lagi kesulitan, hanya karena ketidaktaatan, dan penyesalan sama sekali tiada berguna. 

Apa kowe ra kelingan jamane dek biyen?

Lama waktu bergulung seperti ombak, tiga puluh lima tahun sejak tengah malam itu berlalu. Aku kini makin mengerti bahwa hidup tak cuma soal capaian-capaian-capaian, melainkan jauh lebih banyak memberinya, menerimanya, sabar, berhitung ulang dan menerima sampah-sampah itu datang kembali. 

Impian-impian masa kecil dan remaja yang ingin segera besar telah berlalu, segala yang ambisius tak pernah berhasil melewati umur tiga puluh, sebaliknya menjadi manusia selamanya. 

Saya kunjungi mata air tua itu lagi, di pegunungan, di makam-makam keramat serta segala hal di masa lalu, bukan untuk meromantisasi atau sekedar mengenang tapi mempelajari hal-hal yang berkabut samar di masa lalu, mengukurnya kembali seolah mengunjungi tepian dari pulau yang berpenghuni. Tempat dimana kalam Tuhan tersembunyi, sebuah jeda, sebuah ruang antara yang menghubungkan masa kini dan masa silam, pilihan hidup dan nasibnya. 

Jaman kemudian mengingat. Banyak teman-teman yang tetap meski secara fisik jauh, banyak bersemayam dalam-dalam di lubuk hati, mengukir sejuntai bunga mekar yang kerap baunya kita cium lagi ketika malam pekat hadir. Sebagian lain terus bersama secara jasad, tak lagi melulu perkara nasib tapi pelan-pelan karena kemudian mengasah keberterimaan, hidup menjadi bahagia dan paradoks.

Bungah susah pada dilakoni. Bahagia sekaligus sedih, sama-sama dijalani.

Di depan pelataran sebuah SD Anak-anak kecil terus meminta kembang gula, membentuknya dengan beraneka bentuk. Kuda, bunga, keris. Sementara yang menua dan mendewasa tak mau kalah ingin tetap bersama gulali, Si Jenang gula tadi.


Madyataman, 8 Juli 2025/ 11 Sura 1959

I. Agusta





Monday, June 30, 2025

Senja keemasan Padma


Senjanya merekah Pad, ketika sang kala membawamu kembali. 

Angan-angan dari sebuah bis tua, hujan, dan badan separuh basah. Langitnya berubah menjadi sangat cantik, bening, emas kemerahan. Ingatkah kamu? Kita pernah ada di situ, sebuah momen magis di tengah belantara, menawarkan secangkir teh dan biskuit, meneguknya dan menarik nafas panjang diantara kabut dan akar-akar.

Tangan kita menggenggam, tubuh kita saling berpelukan dan seolah harapan itu ada, padahal sejatinya kita tahu banyak hal yang terjadi ketika senja itu lewat. 

Malam-malam sunyi kemudian datang.

Kegelapan itu menyeruak mengintai kita dengan banyak mata. Setiap drama dibereskan, setiap kali itu pula muncul drama baru dan kita melenggang di jalan gelap menuju puncak itu. 

Di persimpangan kita berpandangan, mengedarkan mata sekeliling, pada gemerlap lampu kota nun jauh di sana. Merenungi segala yang terjadi.

Lakon wayang anak manusia seperti takdir yang tak satu setan-pun tahu. Konstelasinya berubah, sangat acak, variabelnya terus bertambah, meski begitu aku tahu suatu hari pada garis edar tertentu di simpang jalan yang sama langkah-langkah itu akan kembali. 

Pada tanjakan, kita merebahkan diri lagi. Mengusap keringat dan berkelakar sejenak. Rasanya hidup ingin berhenti pada momen bahagia itu saja, ketika nafas tersengal dan dingin makin merayap kita tetap memandangi lampu² kota itu.

Apakah ini rima hidup? Jalanan panjang penuh bahaya namun juga tak kalah menawari banyak hakikat kebahagiaan. 

Dari jauh memang terlihat, kelokan-kelokan tajam itu tengah menanti di ketinggian sana, dimana waktu dan umur berkejaran supaya kita semua dianggap lumrah oleh kasunyatan. Supaya kita bisa selamat dari 'saringan' naiknya kadar entropi.

Senjanya lenyap, tapi setelah kamu pergi bertahun-tahun sinarnya terus berpendar di hatiku. Sinar yang terus memberi pendar harapan, nyala pada mata, memberi setumpuk bara api pada rindu. 

Sejak saat itu, kehidupan tak lagi sama Pad.  Bermalam-malam aku tidur dengan syair, dan entahlah malam ini rasanya makin menjadi², malam jadi melankolis. Enam tahun sejak gunung-gunung itu berbicara. Seharusnya saya harus bahagia, karena memang itulah yang lumrah terjadi. Tapi keraguannya tidak bisa dipungkiri.

Di dalam hati senja merah keemasan ith mengembang lagi, aku hanya terus berdoa semoga kebaikanmu menjadi banyak kebaikan lain. 

Terimakasih untuk cintamu yang tulus. 
Selamat, dan panjang umur rasa bahagia.

Sampai jumpa lagi Padma.

#agustaisme

Friday, May 9, 2025

Memberi Meski Kurang

Ada yang misterius dalam hidup ketika kita tidak mencapai apa yang kita impikan, lalu kita melakoni hidup dengan banyak keterbatasan dengan segala keluh-kesahnya. Pada saat yang bersamaan ketika kita butuh, tiba-tiba ada orang lain yang membutuhkan, simpangan terjadi. Apakah kita egois dan memilih diri kita sendiri? Atau merelakan dan memberikannya kepada yang lebih membutuhkan?

Ketika sudah begini daya bertahan hidup manusia (survival) akan bilang tidak dan membiarkan orang lain berurusan dengan masalahnya, tetapi batin kita tentu tak berkata demikian. 

Bagi mereka yang belum tumpul hatinya, apalagi pernah susah tentu lebih mudah memberi karena kita juga pernah mengalami diberi. Kita menolong karena dalam hidup kita juga pernah ditolong. 

Kita akhirnya memberi dari kekurangan kita, bahkan merelakan apa yang kita miliki. 

Setiap mengalami persimpangan-persimpangan hidup yang demikian, saya selalu teringat Eyang Putri saya. Ketika suatu Minggu pagi ia pulang dengan mengingat-ingat sebuah cerita perihal persembahan seorang janda miskin. Yesus menganggapnya mulia karena janda ini memberi dari segala kekurangannya. 

Tuhan akhirnya tak bicara soal nominal, tetapi proporsi, melihat hati manusia, kesungguhan dan kerelaan kita, dan entah kapan tapi kebaikan kita sebenarnyalah tidak berhenti. Ia akan membalasnya kapan-kapan.

Suatu ketika jaman kerja di warnet rekening saya sudah sangat mepet, hampir nol, tiba-tiba ada anak yang minta ditraktir karena tidak diberi saku oleh orangtua mereka. Saya tahu anak ini memang bukan lahir dari keluarga berpunya, dengan sisa-sisa uang tadi akhirnya uang makan sehari saya bagi dua dengan dia. Sing penting madhang.

Waktu berlalu dan warnet telah tiada. Tiba-tiba anak ini datang kembali kepada saya. Ia ingij mentraktir saya, ia ingat masa-masa sekolah yang sulit itu. Meski saya tahu hidupnya kini juga tak berubah betul, tapi ia sudah mandiri minimal untuk dirinya sendiri. Lalu kami makan jamuan berdua di warung makan cukup mahal di kota ini. Saya melihat matanya berbinar karena bisa membalas kebaikan saya di masa lalu. Bukan soal nominalnya, tapi soal ketulusannya. 

Kebaikan itu laten, dan Tuhan sendiri tahu kapan membalaskannya, menggerakkan anak ini untuk menemui saya dan berbagi kisah hidupnya. Pahit getirnya nasib yang sama-sama kami alami. 

Dengan menerima dan memberi meski sama-sama kesusahan ini ternyata membuat hidup ini terus berlanjut, dan memunculkan banyak lagi pengharapan. 

Kalau kamu miskin, dan dimintai tolong, maka tolonglah, kalau perlu jangan sampai dimintai tolong, gerakkan intuisimu, tajamkan perasaan batinmu. Apalagi jika kamu kini cukup berpunya, saya yakin ada banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja sebenarnyalah ia dalam mode bertahan, atau malah sudah habis-habisan.

Cahaya lilin makin terang justru akan berpendar besar sebentar sebelum ia mati. Maka, mari saling menjaga api.


Sunday, April 27, 2025

(belum ada judul)

Kemarin hari menonton kembali Iwan Fals di Mangkunegaran. Untuk kedua kalinya di tahun ini setelah beberapa waktu lalu Iwan membuat konser berbayar. Karena gratis tentulah konser kali ini menunjukkan pemandangan berbeda, tipikal penontonnya, euforia serta energi yang ditangkap sama sekali lain. Disetujui atau tidak Iwan besar karena lagu-lagunya lantang menyuarakan nurani, menjadi saluran dari mampat-buntunya kehidupan. Sebagian lain adalah potret dari masyarakat dimana ia hidup, Iwan lalu jadi simbol sebuah jaman.

Satu-dua lagu pertama rasanya biasa saja sampai ketika Belum Ada  Judul dimainkan. Merinding sekujur tubuh saya melihat dan mendengar Iwan memainkan lagu ini nyaris sendirian. Genjrengan gitar, harmonika dan suara lantangnya itu cukup untuk meledakkan atmosfer penonton. Saya sendiri turut merasakan cipratan energi itu, ini yang saya cari, kata saya dalam hati. Tidak banyak penyanyi Solo punya "gondo" berbahaya ketika lagunya memang mewakili dinamika sosial tertentu. 

Cukup lama aku jalan sendiri, tanpa teman yang mampu mengerti...

Setelah chorus, dengan progresi nada yang menukik naik ditambah gelegar suara Iwan sontak bapak-bapak di belakangku berteriak sangat keras ketika lirik itu sampai pada momentumnya. Anjirr, ini mengerikan, saya sampai menengok ke belakang untuk memastikan apa yang terjadi.

Seorang bapak, berbaju kucel, perawakannya tinggi tapi layu, rambut  putih dan kerut di dahi dan datang sendirian itu cukup menjelaskan sedikit tentang garis hidup yang ia lalui. Bukan yang "mapan" mungkin hidupnya kusut seperti bajunya, dan tentu saja ia mungkin hanya bisa datang ke konser-konser gratisan seperti ini, apalagi Iwan Fals kapan lagi nonton idola tanpa bayaran sekaligus meluapkan penat. 

Sampai ketika saya menulis ini, saya masih terpikir bapak tadi, juga terpikir kepada lirik yang dibuat Iwan Fals. Betapa lagu itu memang bisa menciptakan tensi, gairah kerap pula menjelma menjadi hulu-ledak dari hidup yang butuh saluran. 

Teringat pula kata-kata Abah Iwan Abdurrachman; kalau Iwan Marah kita semua bisa ikutan marah, kalau Iwan berkata cinta kita semua turut mencintai.

Lagu "belum ada judul" ini bagi saya sendiri tentulah istimewa, dengan kualitas begitu mungkin yang kejadian malah mirip "..." (tiga titik hitam)-nya Burgerkill. Sulit memang untuk mendapatkan judul, karena malah membanting diri sendiri pada penghayakan akan kata itu sendiri. 

Kembali ke bapak tadi saya jadi kepikiran apakah semakin tua lirik ini akan semakin relate? di umur segini saja, saya sendiri mengalami perubahan itu kian nyata. Meski awalnya sama, bahkan mungkin secara kualitas pemikiran dan pengetahuan saya lebih unggul tapi nasib itu beneran bisa berbeda. Ada kawan-kawan yang kurang begitu pandai kini malah jadi pengajar, dosen, ada pula yang bisa jauh lebih kaya secara moral dan finansial daripada saya. 

Momen-momen seperti lagu tadi akan terjadi. Saya menemui kawan-kawan lama tadi, sebagian kecil mereka "jadi", sebagian lainnya jatuh tersungkur dalam kegelapan nasib dan hidup. Tentulah ingin kita menolong tetapi saya akhirnya juga harus mengukur baju lagi, bahwa kemampuan saya-pun tentu takkan mungkin menyelesaikan perkara nasib ini. Akhirnya ada hal yang harus kita nikmati dan tangisi bersama dari balik tenggak bir, ciu atau wine. 

Mungkin wataknya dunia, selalu saja ada yang menakjubkan dari hidup. Kita dalam beberapa kali waktu harus mengucap selamat tinggal kepada kawan kita dan nasibnya, juga kawan-kawan kita pun demikian pada saya. Semakin tua makin jauh jalan hidup makin terang pula pilihan-pilihan ini membawa konsekuensi, dan mencipta jarak yang makin jauh dengan orang-orang di masa lalu, yang suatu hari mungkin kembali, namun tak sama lagi. 

Pikiran-pikiran senada inipula yang mungkin dipikirkan dari bapak di belakangku tadi, sekilas setelah lagunya selesai, saya melihat dia mengusap matanya. Ia menangis. Magis! memang Iwan Fals ini, lagunya bisa membuat orang yang merasa terwakilkan. Mungkin sama seperti saya yang merasakan sedikit kelegaan seusai menonton konser karena ternyata lirik-lirik itu membawa tenaga untuk kembali menghadapi keadaan yang diam-diam harus kita sembunyikan kesukarannya dari orang lain. 

Malam ini seperti malam-malam Iwan Fals sejak saya pertama kalinya menonton ketika masih duduk di kursi SMP. Selera saya mungkin terlalu tua, tapi jaman terus merekam kemungkinannya. 

Malam ini saya turut menyaksikan pula banyak orang yang hidup bersama Iwan Fals, entah mereka hanya pendengar atau ikut Oi! (fans Iwan Fals) tetapi mereka membawa anaknya, bahkan cucunya. Beberapa suami-istri yang tidak mau terpisah harus di-screening di pintu masuk yang berdekatan supaya anaknya tidak hilang. Mungkin anak-anak ini suatu hari akan seperti pemuda-pemudi di samping kiri saya, bersama pacarnya menyanyikan Mata Indah Bola Ping-pong dengan bersemangat, sambil merangkul dan lirik-lirikan.

Ah, Indahnya dunia remaja. 

Sepanjang perjalanan pulang saya terus merenung dan makin teguh isi hati saya bahwa, jika seseorang bernasib menjadi patron, tokoh, atau pohon yang menjulang tinggi yang jelas nasibnya berbeda dengan orang kebanyakan, ia telak harus menyuarakan suara-suara yang terpinggirkan itu. Panjang umur be, kapan-kapan nonton lagi. 

Makasih terus memberi cinta pada banyak orang.



Solo, 26 April 2025


Tuesday, March 18, 2025

Geser!

Sejak ketika kesadaran itu ditanam di benak saya sejak itu pula saya mulai merekam banyak hal. Makin banyak data yang terekam makin banyak pula pola tergambar, segala sesuatu yang tidak pernah selesai dan menemui kebenarannya dari hari ke hari. 

Selepas melewati apa yang oleh orang Jawa dinamai "tumbuk alit" atau tiga puluh dua tahun Jawa, rasanya sebagai pribadi makin tenang dan tidak begitu lagi dengan ambisi-ambisi. Masalahnya mungkin sama, tetapi tensi untuk mengarungi masalah itu jauh lebih landai. Sesekali memang terlihat ombak hidup itu menghantam begitu besar, berkali-kali pula rasanya kayak mau tenggelam namun selalu saja ada hal lain memicu untuk bertahan. 

Bertahan di tengah krisis kata berita, ah, aku sendiri mengalami seumur hidup krisis. Masalah itu gak pernah berhenti, dari urusan sederhana seperti perihal makan, atau hutang-hutang keluarga hingga masalah sendiri di sirkel, dan berbagai urusan privat lainnya. Semakin tua dengan kewaspadaan yang cukup makin matang pula keharusan untuk menerima keadaan diri, kemenangan, kekalahan serta kesempatan-kesempatan juga hadir persis seperti ombak. Ada yang datang cepat kemudian pergi, adapula yang menetap kemudian menjadi bagian daripada hidup, tinggal beberapa lama di sekeliling kita lalu pergi. 

Adapula hal-hal yang bagi umum telah terlewat. Sebutlah usia melamar pekerjaan, usia menjadi fresh-graduate kampus, usia menikah atau usaha memberikan hal-hal normal, lumrahe bagi sebagian besar orang Jawa. Karena aku tak tinggal dalam spasial itu, dan sepanjang hidup seperti pertaruhan makin ke sini makin melupakan apa yang "normal"

Tak apalah tak menjadi normal, toh dalam hidup ini apa yang normal?

Ada yang hari-hari ini terpikirkan yaitu perkara geseran. Ternyata sampai umur ini akupun telah mengalami banyak sekali perubahan. Uniknya aku selalu berposisi antara. Bisa menjadi akademisi tapi tidak punya gelar., bisa menjadi pembicara tapi karena posisi belajarnya general akhirnya tidak menjadi ahli tertentu, bisa menguasai sedikit tentang banyak hal tapi tidak ada yang menjadi sarana kapitalisasi kerap segala hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan ini hanya berakhir di meja akvitisme, atau diberikan cuma-cuma kepada anak-anak lain. Akhirnya memutar otak hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sambil terus meluaskan jaringan.

Pola ini kerap mengalami badai hebat, ketika tekanan datangnya keras akhirnya "musim geseran" itu tiba. Switch kalau bahasanya anak sekarang. Hidup sebagai orang miskin yang cukup tahu banyak hal kadang juga menyakitkan, kita tahu bisa mengerjakan ini itu tapi terhalang akses, terhalang kursi-kursi jatah preman dari para penguasa. 

Hari-hari ini makin runyam, dengan segenap keadaannya masalah terus dihadapi sambil terus member apa yang kita miliki. 

Hidup hanya terus jalan, jika mau menyerah dalam hati harus bilang: tidak hari ini! kalau mentok geser!

Saturday, February 22, 2025

GUNUNG, KALI DAN MAKAM | SEBUAH SUNYAMARGA

Puja Giri

Lebaran kemarin berlangsung cukup meriah, banyak orang datang – pergi dari kampung ke kampung untuk bersilaturahmi, bertemu handai taulan serta mentraktir anak-anak cilok. Semua berkelindan dalam sebuah hari raya. Yang sudah terjadi di tahun-tahun sebelumnya tentu saja padusan di sungai, mengunjungi makam dan bancakan di makam lalu healing plesir ke tempat-tempat wisata. Karena tempatku tinggal di dekat gunung tentu saja sarana healing telak kembali ke gunung-gunung. 

Awalnya saya tidak begitu memperhatikan gejala ini, saya naik gunung sudah cukup lama sekitar tahun 2005, jauh sebelum tren film “5cm” dan “my trip my adventure” menghiasi ruang visual kita. Naik gunung kala itu bagi orang tua apalagi bulan Suro adalah ritual untuk menyepi, berkontemplasi sekaligus menghentikan kegiatan sehari-hari. Sementara bagi kami remaja ini tentu sarana nyepi dan sok puitis dikala demam film Gie dan buku Gibran dimana-mana. Perasaan ingin menjadi sok puitis kerap menyergap. 

Namun, dari ketiga hal itu tertangkap fenomena yang sama. Mereka pergi ke gunung untuk kanalisasi stres. Entah motifnya cuman ingin piknik, bertapa, camping, mendaki, bahkan sampai berburu di hutan-hutan tertentu. 

Yang lagi tren sekarang dan agak mahal tentu saja glamour camping atau glemping. Kalangan atas, atau orang-orang yang tidak berani mengambil resiko masuk hutan dengan berbagai kemungkinan memilih membayar semua fasilitas, lalu menikmati kesunyian, dingin dan lagi-lagi di pegunungan. Upaya-upaya tersebut dari banyak kawan yang tak tanyai hanyalah bentuk penyaluran kekalutan hati sekaligus ingin menggapai ketenangan, wening. 


Yang kedua tentu saja makam.

Sebelum lebaran di desaku diadakan bancakan, semua warga membawa ke makam ubarampe dari jajan pasar, jenang abang-ireng, hingga tumpeng dan ingkung pitik jawa. Setelah bancakan, makan bersama lalu mereka nyekar sembari membersihkan makam keluarga masing-masing. Mungkin ini erat kaitannya dengan puja terhadap Dewi Kali, si penguasa kuburan yang meminum darah. Penumpahan darah itu berubah jadi penyembelihan ayam, jenang merah-hitam sebagai simbologi tertentu, dan Dewi Kali sebagai salah satu aspek dari sifat Durga mewakili representasi hubungan antara manusia yang masih hidup dengan alam lain, dengan mahkluk lain yang ada disekitar kubur. Akulturasi terus berlangsung. 

Selain gunung, makam merupakan tempat idaman mereka yang stres, kangen masa kecil namun orangtuanya sudah meninggal bahkan tempat mereka menyandarkan segala masalah, mengingat kematian bahkan mungkin mengakhirinya di pekuburan. Saya kurang tahu apakah cerpen mas Danarto disekitar kuburan diilhami dari banyak duka yang disandarkan pada makam. Tapi berita mencatat mbak Novia Widyasari lepasa parane, jembaro kubure, menenggak racun di makam orangtuanya setelah dihamili dengan tidak bertanggung jawab oleh oknum polisi pada bulan Desember 2021. Sudut pandang lain bahwa makam itu adalah sandaran paling monumental, yang jelas terlihat, selain Tuhan tentunya. 

Keslamatan lainnya yang sedikit miring mungkin seperti cerpen Kuntowijoyo, Anjing-anjing menyerbu kuburan. Praktek mencari pesugihan dengan membongkar makam dan mencuri kafan pada hari tertentu dipercaya bisa menyelesaikan masalah ekonomi para pelakunya. Ini juga bukti bahwa makam itu seksi, sebagai jalan lain. Dulu ketika desaku usum judi buntut, orang-orang juga nyanggar di pohon-pohon berharap kerutan pada sebatang rokok filter itu bisa menunjukkan angka tertentu untuk keberuntungan mereka. Meskipun ini sisi yang lain nyatanya kegiatan mencari nomor togel ini juga kanalisasi stres via kuburan.

Yang akhir-akhir ini muncul tentu saja kawan-kawan Sarkub. Mereka yang mengunjungi makam-makam untuk menelisik sejarah dari nisan-nisan. Kawan saya mas Yaser Arafat tentu bagian utama dari gerakan ini, lewat bukunya Nisan Hanyakrakusuman orang-orang kemudian makin rajin pergi ke makam, geliat ziarah bangkit, memotret makam kini jadi semacam hobi yang menyenangkan. Stress release lagi tho?

Berbicara makam seperti tiada akhirnya dari candi-candi tempat abu para tokoh dan raja, sampai di instagram bersliweran orang nangis-nangis memakamkan kucing mereka. Nyatanya makam tetap jadi kenang, harap dan slamet tentu saja.

Yang ketiga yang belum hilang tentu budaya ciblon. Dulu jamanku kecil bakdan selain makan ya mandi di kali, bermain air sembari ditakut-takuti dengan mitos onggo-inggi di Solo atau momok hiyong kalo di sekitar Jogja. Sebagai anak kecil tetap tidak peduli, blas budal adus kali. Hari ini juga tidak berubah anak-anak desa yang jauh dari kolam renang kerap merayakan bakdan dengan main ke kolam renang, jajan eskrim atau bakso aci seperti halnya anak kecil mereka mencari kebahagiaan. 

Tapi tentu berbeda dengan generasi orang tua kita. Masih memilih sungai sebagai sarana kusyuk meditasi, bertapa di tempuran (pertemuan cabang sungai), atau padusan di berbagai sendang dan patirtan. Laku hening cipta ini juga ngemu surasa kesarasan. Jika Dewi Kali merupakan penjaga kuburan, kali atau sungai di Jawa kerapkali jadi sebagai sarana kematian. Semenjak pandemi ini apalagi, banyak orang dengan sengaja karena beragam masalah baik ekonomi, internal keluarga, sampai berpenyakit tak kunjung sembuh menjadikan sungai untuk pilihan kematiannya. 

Sungai dalam nada lain juga jalan keselamatan mereka. Slamet dari rasa sakit, dari tagihan hutang, atau dari cibiran tetangga karena menganggur berkepanjangan. 

Saya kerap gemetar jika ikut dalam operasi SAR, di sela menjalankan kewajiban sebagaimana manusia lumrah yang harus membantu sesama. Keluarga kadang bercerita dengan pilu. Warna-warni geliat manusia jelang hingga setelah kematiannya. 

Sunyamarga, jalan sunyi dalam istilah yang dipakai mas Zaky dalam prosesi ruwat. Gunung, makam dan sungai seperti aktualisasi dari jalan sunyi tersebut. Mungkin berbentuk dua sisi seperti ajaran Tantra itu sendiri, ada yang dengan sadar dan tak gegabah menggunakan medium jalan sunyi ini untuk meracik ulang alam berfikir mereka supaya tuntas melanjutkan laku hidup di dunia, sebaliknya pada jalan sunyi itu pula “keslamatan” juga dipendarkan, manusia tidak bisa melanjutkan lakunya. 

Mancing

Pada bakdan pula banyak mereka yang memilih pergi dari rumah setelah prosesi wajib halal bihalal sekampung.  Mereka ini adalah yang malu bertemu keluarga. Malas ditanyai kapan menikah, malas dibanding-bandingkan dengan pencapaian tetangga atau anak saudara, dan yang tak kalah memukul tapi lebih banyak diam adalah bapak-bapak yang sudah berkeluarga tapi mereka pengangguran selama pandemi. Jauh dari gambaran untuk mentraktir keluarga, memberi pitrah saudara apalagi untuk masak besar lalu open house. Mereka memilih sungai, menepi dengan kail. 

Saya melihat gejala ini justru setelah nyekar ke makam, hari kedua lebaran kok justru ada bapak-bapak yang duduk dibawah pohon Loa. Adapula kawan-kawan sebaya saya, mulai ikut punya hobi mancing. Saya anggap ini sebagai jalan keslametan, daripada dia stres dirumah dan selalu gelisah menahan banyak tensi dirumah, pergi ke sungai bisa jadi jalaran yang menenangkan. 

Sisi lainnya saya melihat ini sebagai tindakan meditatif. Banyak kawan saya kalau mancing tidak di pemancingan, tapi justru di hulu-hulu sungai mepet gunung, tempat air jernih dan hawa dingin terjaga. Serta konon, bersemayam pula hantu-hantu penjaga sungai yang kerap “nakal”. Tapi itulah jalan sunyi, kadang sepintas juga keras kepala.

Kalian yang pernah naik gunung, camping, glemping, atau ziarah ke makam-makam wali pasti pernah merasakan rasa kapok-lombok ini. Capek, keluar biaya yang tidak murah, bahkan sepintas dianggap pemborosan tapi kita tetap mengulangnya, dan terus mengulangnya. Pemancingpun begitu, selain jalan meditasi jangan-jangan ini juga bagian dari passion itu sendiri. Passion yang dalam bahasa Yunani passio artinya bukan bakat, tapi pengorbanan, suffering. 

Laku-laku spiritual, laku mencari jalan keslamatan, laku self-healing dan kanalisasi stres ini kadang keras kepala. Persis seperti slogan-slogan paguyuban kail dan jala itu.

Bojo Muring Tetep Mancing!!





Surakarta, 21 Mei 2022

Indra Agusta

Jayeng di Sraddhasala

Monday, January 20, 2025

Nagara: inkubasi, teror dan paradoks


Sebuah kelas telah selesai dihelat, kami, kawan-kawan pengajar serta para peserta yang terpilih telah kembali pada dunianya masing-masing. Inkubasi telah selesai. Meski baru dihelat selama dua kali, kelas Pos-pos selalu membuat saya tidak ngapa-ngapain ketika selesai. Nyaris hampir 24 jam saya nggendhon di kamar hanya untuk memilah kembali apa yang terlewat. 

Sejak kali pertama pelaksanaannya saya selalu berpikir apakah kelas ini akan berdampak di masa depan? atau sekedar jadi pemuas lelah dari banyak kekalahan yang terus dialami oleh mereka yang mendaku sebagai aktivis sosial. 

Hanya kepada niat dan kepercayaan bahwa ketika kita telah melakukan sebuah aksi, setidaknya kita bisa memprediksi gejala berikutnya. Hal-hal ini tidak akan pernah berlaku ketika ide hanya menjadi ide dan berkutat sebagai onani pikiran. Karena dengan tindakanlah semuanya bisa diukur, dan karena hanya lewat karya-lah seseorang akan dikenang.

Di umur yang sekarang saya sudah tidak lagi mempertanyakan kedirian saya, tetapi tindakan-tindakan seperti membuat sebuah kelas ini terus membayangi, karena tanggung jawabnya kemudian menjadi berefek pada sosial. Setiap kelas dimana ilmu pengetahuan dan rerasan disebar di situ pula pasti memicu nalar pikir setiap orang di sekitarnya. Saya pahami betul itu, kenapa inkubasi selalu berbeda ketimbang diskusi-diskusi publik yang hanya selesai dalam hitungan jam.

Meski begitu, sulit rasanya untuk membicarakan ini semua pada mereka para intelektual yang tidak p ernah ikut gerakan serta menjalani banyak hal, pada mereka yang dengan tegas saya tolak untuk turut serta datang ke dalam kelas saya minta maaf. Saya selalu mempercayai perubahan formasi sekecil apapun ketika inkubasi dijalankan pasti akan mempengaruhi hasil dari sosial yang dibangun dalam perjumpaan itu. Hubungan perkawanan yang mulai akrab hingga nuansa kelas yang jelas dibangun sejak awal seleksi. 

Ini belum perkara teknis lainnya. 

Menyeleksi pembicara, memaksa mereka untuk membuat tulisan dan presentasi, menyeleksi esai-esai peserta serta dengan membuat permakluman sambil mengingat-ingat seberapa jauh manusia bisa menulis ketika ia berumur di bawah dua puluh lima tahun. Belum soal logistik, bagaimana pembiayaan kelas ini dikerjakan, bagaimana cara membuat kelas yang beneran kuat dan mapan secara finansial sehingga bisa lebih merdeka dalam membicarakan banyak hal. Bagaimana pula mengupah layak para pembicara agar mereka  mau dan mampu memberikan yang terbaik yang mereka miliki, hal-hal yang tentu saja tidak bisa secara kolektif  cuma-cuma alias gratisan. Sebagai intelektual saya tentu tahu ilmu itu mahal dan untuk mendapatkannya butuh waktu, duit serta banyak kemampuan. 

Dari tonggak yang telah dibuat kita akan menilai dan mengukur sepuluh tahun lagi, kira-kira kawan-kawan ini jadi apa? semoga banyak keajaiban berlangsung. 

Monday, December 30, 2024

Tikungan tajam

Pada umur yang makin bertambah, berlangsung pula semakin banyak tekanan dalam hidup. Permasalahan dalam berbagai hal entah itu di rumah, di kampus, di pekerjaan bahkan dalam masa pengangguran itu terus membuat manusia khawatir. Halaman hidup yang rasanya makin suram ketika ketidakpastian datang dengan sangat jelas. 

Manusia pada langkahnya selalu butuh pegangan-pegangan supaya lebih tatag dalam menjalani gerak nasib. Tanpa itu ia hanya akan gemetar dan menghasilkan tindakan-tindakan yang tidak perlu. Hal ini kadarnya akan makin rapat ketika hentakan masalah dan harapan itu dikejar oleh hal-hal yang bisa jadi ada di luar diri kita. Keluarga, kolega, atau orang-orang yang punya tempat di hati kita sedikit banyak akan mempengaruhi pertimbangan atas putusan ini.

Gelap jalan berliku, anak manusia kerap gegabah dalam memutuskan sesuatu namun ketika berakhir tak seperti yang ia ingini, ia pun juga tidak pernah mengoreksi diri. Jangan-jangan masalah itu pada dirinya. 

Tikungan tajam itu kemudian membawa dampak tajam, setidaknya pada banyak hal lain, pertemanan bisa berubah, persaudaraan menjadi renggang hingga depresi melanda. 

Hal-hal tentang hidup tidak ada di buku, ia lahir dari pengalaman, dari orang yang berhasil melewati dan mengambil hikmah atas banyak kejadian. Kemampuan manusia dalam memandang segala persoalan yang lewat dalam hidup ini bisa jadi penting untuk keberlangsungan manusia di generasi berikutnya. 

Anak-anak tidak bisa bersandar pada internet saja, tetapi, anak-anak juga harus punya pengalaman untuk mengalami agar hidupnya mengalami hentakan nyata, dan tidak berlindung di balik semua kepengecutan. 

Tahun baru datang, dan kita mengulang lagi masalah-masalah yang tidak perlu terjadi.

Wednesday, December 11, 2024

kamu akan dikenali

"Kemampuanmu akan segera dikenali oleh rival-rivalmu; bahkan sebelum kamu bertemu dengannya"

— Imad, Kingdom of Heaven

Menonton kembali film lama ada yang bisa dipelajari. Semakin naik level sebenarnya kita juga diperhatikan oleh orang lain. Ada yang diam² mengamati, ada yang terang-terangan membuat koneksi. Kerap, manusia lupa bahwa pengenalan manusia lain akan dirinya dibuat berdasarkan apa yang telah mereka perbuat sebelumnya, karya², pernah kerja di mana, pernah tinggal di mana, kuliah atau tidak, hidup di jaring sosial yang mana. 

Hal² ini membuat paradigma tertentu, bisa membuat orang turut senang, bisa juga membuat orang kecewa justru ketika perjumpaan itu terjadi. Orang selalu membawa ekspektasi, harapan dalam perjumpaan. Citra dan realitas itu suatu hari akan bertemu. 

Sebuah kelumrahan seperti ketika beberapa saudara jauh menaruh ekspektasi atas kesuksesan kita, padahal kitanya juga sama² 'struggle'. Hingga meme² jadi relate, kita dianggap lwbih sukses daripada mereka yang ada di desa. 

Sebaliknya, kadang² manusia yang beneran ampuh tidak begitu mau terlihat, kadang hanya diam, kadang ragu-ragu dan mulai berbisik kepada yang mereka kenal. Mengukur kemampuan dan menakar jarak. 

Tak sulit jika itu ukurannya material, dari gaya hidup dan style bisa cukup terukur. Yang sulit jika citra itu soal ketokohan, patron, beberapa sistem kadang mencipta manusia untuk tampil di depan, meski mereka ini belum tentu layak ditaruh. Kejadian akhir² ini seperti cermin, mereka yang tampil publik harus bertanggung jawab atas gelagatnya, atas reaksi publik itu sendiri. 

Akhirnya kutipan diatas relevan, kemampuanmu itu akan selalu diukur orang lain. Tes-tes secara tidak langsung akan dikerjakan, penting untuk mwmahami situasi, wawas terhadap nuansa, serta terus mengkoreksi diri agar tak selalu naif jadi orang. Dunia ini sedang berisik, dan manusia makin mudah mengukur satu dengan yang lain. 

#agustaisme #kingdomofheaven