image1 image2 image3 image4

MENATA HATI|MENYAMBUT GERHANA PERADABAN|MENJENGUK MALAM DI SEPI REMBULAN|MENUNGGU PAGI|SANG PIJAR DARI UFUK TIMUR

Monday, September 21, 2026

Denial tapi pingin eksis

Media terus memaksa manusia mengkonsumsi konten, lautan konten ini mengubah manusia menjadi semacam mahkluk yang hybrid, di satu sisi ia butuh panggung viral dan eksis, pada lain sisinya ia adalah bagian dari manusia purba yang bakal kering jika interaksinya hanya dilakukan melalui jaringan tanpa bertemu. 

Mentalnya yang berubah jika jarak antara kasunyatan, kebutuhan sosial serta capaian media sosialnya timpang. 

Orang kerap menolak apa yang ingin ia capai tapi sekaligus tak ingin kehilangan. Orang menolak stigma tapi haus validasi. Kepalsuan² itu dibiarkan begitu saja terjadi. Mungkin sebagai dalih pembenar, mungkin sebagai bahan untuk berbohong, mungkin juga dihantam oleh sistem, kekuasan, atau relasi tertentu yang membuat alternya jadi unik.

Manusia² hybrid ini kemudian jadi bopeng sebelah. Tak ada yg menyenangkan hatinya kecuali kediriannya, keegoisan diri dan bertindak semau²nya. 

Ia yang semau²nya ini kemudian menyalurkan pada kemungkinan lain. Baik pada orang yang harus ia jaga pada relasi menguntukan, atau menjaga jarak aman hubungan dengan memperbanyak kebohongan. 

Anonimitas misalnya, sekilas memang memberikan kebebasan (tapi semu) seakan dunia bekerja tanpa ada jerat pengikat serta sistem kontrol sosial. Padahal pengguna2 media ini juga tahu bahwa platform² itu bisa saja mengkoleksi preferensi tiap pengguna. Menentukan apa yang ia senangi, dan menyesuaikan alogaritma supaya pengguna terus menerus terbuai oleh alogaritma.

Tapi mengapa user tetap nyaman? Jawabannya karena platform diam, bahkan bukan human entities yang memberikan sensasi keamanan semu, seolah bebas, tak terpantau, aman padahal jauh lebih berbahaya. 

Sedangkan pertemuan² fisik makin berkurang. Hal ini tentu tak bisa dihilangkan begitu saja. Kebutuhan manusia untuk bertemu manusia lainnya mungkin bisa diganti dengan media, tetapi kebutuhan untuk bertemu dengan mahkluk yang seolah² "bernyawa" jadi alternatif berikutnya. 

Jika dulu ketika media sosial didesain sebagai media komunikasi, ajang berbagi, lalu tombol like mengubah semuanya. Akselerasinya makin kencang. Tombol ini membuat pengguna merasa "ada", sesuatu yang mungkin di dunia nyata tidak bisa ia dapatkan, atau karena perasaan rendah diri terus menerus denial atas apa yang telah dimilikinya. 

Generasi akhirnya geser ke media sosial sebagai saluran eksistensi diri.

Jarak aman semu yang dicipta platform terus memberikan rasa aman, bahkan nyaman. ID Id yang semula terpantau namanya kemudian jadi generasi zero posting. Sepintas ini seperti baik karena menjaga privasi, tetapi ini dua mata pedang. Media sangat bisa menutupi watak asli dari manusia di balik layar. 

Ada hasrat eksis juga, juga kesombongan juga. Ingin memantau tapi tak ingin dipantau, ingin melihat postingan orang lain tapi dirinya malas diawasi. Sudah berlagak seperti intel KODIM yang seolah apa yang dimilikinya merupakan rahasia negara. 

Denial tapi pingin diakui. Denial terhadap kedirian tapi diam² suka juga dipuja, dan eksistensinya yang meraung² ingin diberi makan akhirya bocor jua keluar dalam ruang yang seolah privat dan intim itu. Padahal gak ada yang privat di internet. 

Gelombang berikutnya membuat orang² terus menunjukkan gejala antropomorphisme. Ini bukan barang baru, sejak lama manusia jika malas dengan orang, atau sudah cukup memahami sesuatu ia kerap meletakkan sebuah kondisi dalam metafor-metafor. Sebagian besar lain mulai mencocokan dirinya dengan karakter tertentu dari hewan, lalu berkembang menjadi wayang, kartun, idol, dan kini jaman menyedian sebuah cermin raksasa bernama Kecerdasan Buatan a.ka AI.

AI adalah sesuatu seolah bernyawa paling mutakhir yang mampu membuat orang menyerahkan diri sepenuhnya datanya. 

Jaman medsos awal orang² sudah jengah dengan keluarga, tetangga dan sirkel akhirnya menyandarkan saran² pada postingan FB. Lalu berkembang jadi bisnis quote, berikutnya orang² kusyuk mendengar pakar lalu celahnya diambil influencer yang kerap asal posting. 

Harari memungkasi puncak jaman internet dengan istilah "Tuhan Google", hal ini sangat masif hingga ke desa-desa orang menyebut apapun bisa ditanyakan ke Mbah Google. Ungkapan ini bisa muncul bahkan dari generasi yang sama sekali tidak bisa menggunakan platform tersebut. 

Kini, AI beneran menggantikan "Mbah Google" sebagai saluran bertanya. Barang seakan anonim ini merekam lebih jauh preferensi pribadi. Penyakit, gejala kejiwaan, selera, nama gebetan/selingkuhan hingga obsesi² gelap yang tak bisa ditampilkan karena alasan norma seperti melakukan pembunuhan, bunuh diri efektif serta hasrat buas manusia lainya. 

Sebagian hasrat² ini diam² dinanti manusia tapi tak tersalurkan, atau kebebasannya direbut sistem. Dan ketika meledak akan memberikan dampak signifikan pada sosial, justru karena penggunanya benar² menyerahkan nasibnya pada alogaritma yang kebenaran datanya berdasarkan pada data yang telah terekam. 

Hal seperti ini mungkin akan jadi senjata politik jua suatu hari. Kebuasan² manusia, saluran² deras dari mampetnya hidup, dan ilusi kebebasan mencipta sebuah monster yg rakus, egois dan dapat dikendalikan tanpa menyentuh langsung manusianya. 

Hegemoni berikutnya tercipta dan menciptakan kesadaran baru akan pengorganisasian via data yang ironisnya semuanya dioperatori dengan baik oleh manusia² secara nyata, perintah pada mesin dan kemunculan respon. 

Rasa denial terhadap kasunyatan kemudian berubah menjadi tsunami. Semoga tidak datang terlalu cepat di tahun politik yang makin dekat.


#agustaisme


Tuesday, September 15, 2026

Depresi, Ekspresi dan Menanti Keajaiban

Dalam hidup seringkali kita akan mendapati saat-saat dimana sudah sangat mentok, sudah tak mungkin lagi mencari solusi. Lalu, ketakutan demi ketakutan akan masa depan itu muncul. Kegelisahan, kekhawatiran dan kegamangan dalam menerka hidup memberikan kita sebuah gejala lain dalam hidup. 

Responnya tentu lain satu orang dengan lainnya. 

Ada yang dengan tatag menghadapi karena sudah terlanjur lahir tanpa bisa menawar keadaan, adapula yang mengurung diri, sebagian lainnya keleleran seperti tikus yang kehilangan pijakan, jiwanya hanya berlalu-lalang tanpa tahu arah dan tujuan hidup. Sebuah perjalanan absurd yang mungkin tak kemana-mana namun terasa sangat jauh dalam pikiran.

Ketika makin memuncak beberapa orang akhirnya memutuskan cut-off dari sirkel, ketidakmengertiannya akan nasib, keengganannya diterka, atau ketidakbecusan dia mengolah diri sendiri akhirnya memunculkan ego denial terhadap apa yang ia alami. Fase itu memang harus terjadi, seseorang menolak keadaaan buruk dirinya karena tahu ada kondisi lebih ideal di luar sana membuat dia selalu melakukan penolakan terhadap apa yang dilontarkan kepadanya. 

Akhirnya bisa ditebak, apakah manusia ini akan segera melakukan penerimaan diri-- dengan segala konsekuensinya, gila, dan atau melakukan bunuh diri karena kontrol kejiwaan yang sungguh tak mampu ia kendalikan lagi dan harapan seakan matinya jasad akan mengakhiri penderitaan. Halaman gelap itu datang menghujam.

Kalap terhadap nasib ini sering tak bisa diurai karena tidak lagi mempercayai orang lain sebagai penenang, sebagian kasusnya terhenti tidak ditangani serius oleh dokter tentu saja karena mahal, ribet, dan hasrat mengurung diri yang terlampau hebat. Kasus-kasus yang lain juga mencakup urusan sosial. 

Di alam dunia timur ini orang tidak mau ke klinik jiwa justru karena takut stigma kegilaan jiwa dialamatkan pada dirinya. Sangsi sosial yang sebenarnya belum tentu terjadi ini kerap jadi teror menakutkan, pilihan antara memasrahkan nasib kejiwaannya pada paramedis akhirnya kalah dengan keangkuhan diri--yang sebenarnya merupakan respon error psikis dari daya survival yang tengah berlangsung. Daya bertahan agar terus hidup ini berubah jadi egosentris karena diri merasa cukup dan tak perlu bantuan orang lain, apalagi ketakutan akan "cap" yang ditaruh pada jidatnya jika publik tahu ia butuh bantuan. 

Lalu menolak semua yang akan menolongnya.

Pada saat yang bersamaan hidup harus jalan terus. Minum, makan, bekerja, mendapatkan deadline, tekanan-tekanan dari internal keluarga maupun dari sirkel. Jika kondisi jiwanya tidak beres dan tetap merasa biasa saja, biasanya dalam waktu cepat si manusia ini berubah baik dalam perilaku maupun responnya terhadap sosial. Kepalsuan-kepalsuan, topeng, dan serta amarah yang sesekali meledak terlihat di kala obrolan menganggu langsung apa yang jadi sebab depresinya. 

Kondisi negara yang buruk, sindrom paska kolonial, warisan orba, kemiskinan dan pemiskinan, serta krisis ekonomi membuat kondisi kejiwaan warga negara ini makin menjadi-jadi. Banyak orang yang ketika awal kenal biasa saja ketika ditelisik lebih dalam terang menunjukkan ketidakbecusannya dalam mengelola jiwa, kegilaan yang tersamar namun terlihat melalui logika yang meloncat-loncat, kalimat-kalimat yang tak efektif serta gestur ketika dialog mulai naik level. 

Biasanya mereka ini merasa hidupnya baik-baik saja, dan mulai menyalahkan societas di sekelilingnya atas kerumitan yang sebenarnya berakar dari dalam dirinya sendiri. Terlalu gampang swipe, cut-off, atau menyertakan label toxic pada liyan. Dan harga dirinya kurang mampu untuk melakukan oto-kritik. Sehingga societas makin chaotic, ditambah dengan fenomena doom-scrolling buat mereka yang mengurung diri ini, berlagak introvert padahal sedang bermasalah. 

Kerumitan demi kerumitan itu akhirnya nyrimpeti banyak orang. Mindfull lala lili itu akhirnya tak menjawab, memang yang dibutuhkan manusia seperti ini akhirnya saluran yang lebih keras. Baku hantam, fitnah, reseh. Atau mungkin sebaliknya, ia butuh keajaiban. Kekeringan batin, dan kemarau hidup itu butuh sesuatu yang lebih spiritual, butuh manusia untuk bercerita, serta butuh alam dan Tuhan tentu saja. Tapi manusia kerap sombong, belum selesai jika belum nabrak. 

Maka, carilah keajaiban itu. Bukan di luar, tapi di dalam dirimu sendiri, dalam ruwet pikiranmu itu, serta

bertahanlah sedikit lebih lama.

Temui orang, bicarakan keluh kesahnya, mengurung diri hanya akan mempercepat kegilaan dan bunuh diri.

***

Hal-hal ini pernah kualami cukup lama, mungkin selepas lulus SMA di usia belasan hingga 32 tahun. Dan ini kasusnya tentu personal, sangat subjektif, tapi tulisan diatas itulah rekaman semuanya. Baik di dalam diri sendiri maupun orang lain, baik ketika aku melakukan penyelesaiannya sendiri, dengan jalan ketemu teman-teman filsafat, psikolog, maupun dengan jalan bertemu guru-guru spiritual secara kusyuk dan sungguh. 

Sisanya kemudian merelakan diri diterkam angin malam, cinta, dan mata-mata kawan yang terus berada di kiri kanan. 

Ora gampang. Semoga selamat. 

Manut Yesus:

"Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”


Surakarta, 15 September 2026

Ign. Indra Agusta

Friday, September 4, 2026

Jauhi Cartesians, tebarlah ayat

Frengki ke Sala lagi. 

Setelah sekian lama geser ke timur jadi wakasek di sekolah seni², ia pulang. Tetap kemaki, ceplas-ceplos seperti biasanya namun seiring waktu keangkuhannya atas rasio melunak. Ada hal² yang tak mungkin ditemukan di buku, jurnal, konten, atau video pendek medsos. Segala hal nyata <offline>  yg lesap sebagai pengalaman. 

Dia mengkritik saya cukup tegas, sambil menyodorkan teks pidato guru besar sastra Prof. Faruk Tripoli di UGM. Ada bagian yang menurutnya penting untuk kulakukan di umur segini: harus mulai berani keluar dari diagram axis Cartesians.  Mulai luaskan jauh dari sekedar rasio x,y, & z dan mulai menjangkau halaman lain yang butuh lelaku. Seperti rasa, nuansa, empati,  hawa, dst.

Frengki belum membaca tulisan ultah saya yg ke-36. Intinya tep sama, aku harus lebih berani ngomong² yang sedikit ayat, spiritualitas, serta opini yg muncul karena pengalaman pribadi. 

Kali ini dia benar, saya nyaris tak mau berbantahan seperti biasanya. Setelah kurenungkan lagi, benar juga, mengapa saya kurang berani membicarakan pengalaman batiniah begini, setelah mengunyah banyak teori, bacaan, buku² tebal, berbincang dengan banyak guru-guru. 

Apakah sudah saatnya? Melempar begitu saja kalam-kalam yang batiniah² ini. 

Teguran Frengki ini menarik, saya tidak tahu dia kesambet apa, kalau yang ngomong kawan² yg bergiat di pesantren atau gereja atau padepokan oke, lha ini Frengki agamanya ki rasionalitas. Apakah dia juga mulai tua dan semeleh, lalu membiarkan yang kiri² dan melawan itu bertranformasi menjadi bentuk lain seperti beberapa ilmu yg kupelajari dari para guru. 

Saya pernah mempelajari bagaimana kendali otak manusia terus berkembang seiring usia yang menua akan mulai melunak, dan agak spiritual. Hal ini bukan karena agama (saja), tetapi pengalaman hidup dan tinggal di nusantara akan memungkinkan jalan hidup menuju demikian.

Bongkah² itu harus dilempar begitu saja, pisaunya bisa menancap ke segala arah, termasuk diriku sendiri. Tapi bukankah demikian, setiap kebijaksanaan lahir dari kumpulan proses secara nyata dan mengalami banyak kesusahan². 


Mungkin sejak malam itu, aku makin berani berubah mode jadi yang sebenarnya batiniahnya begitu, tapi dulu pernah dikritik karena masih terlalu muda untuk memberi nasehat.

 

Jika ini memang waktunya, maka, marilah kita selesaikan. Tapi jangan tiba² spiritual, rasio lebih dulu. Jangan karena kebodohan dan kemalasan tiba-tiba jadi sok nyipiritual, bukan gitu cara mainnya.


#agustaisme

@frengkifariyapratama


Foto: Frenki di basecamp Sraddha Sala, credit foto  @chintami_tiwi