Dalam hidup seringkali kita akan mendapati saat-saat dimana sudah sangat mentok, sudah tak mungkin lagi mencari solusi. Lalu, ketakutan demi ketakutan akan masa depan itu muncul. Kegelisahan, kekhawatiran dan kegamangan dalam menerka hidup memberikan kita sebuah gejala lain dalam hidup.
Responnya tentu lain satu orang dengan lainnya.
Ada yang dengan tatag menghadapi karena sudah terlanjur lahir tanpa bisa menawar keadaan, adapula yang mengurung diri, sebagian lainnya keleleran seperti tikus yang kehilangan pijakan, jiwanya hanya berlalu-lalang tanpa tahu arah dan tujuan hidup. Sebuah perjalanan absurd yang mungkin tak kemana-mana namun terasa sangat jauh dalam pikiran.
Ketika makin memuncak beberapa orang akhirnya memutuskan cut-off dari sirkel, ketidakmengertiannya akan nasib, keengganannya diterka, atau ketidakbecusan dia mengolah diri sendiri akhirnya memunculkan ego denial terhadap apa yang ia alami. Fase itu memang harus terjadi, seseorang menolak keadaaan buruk dirinya karena tahu ada kondisi lebih ideal di luar sana membuat dia selalu melakukan penolakan terhadap apa yang dilontarkan kepadanya.
Akhirnya bisa ditebak, apakah manusia ini akan segera melakukan penerimaan diri-- dengan segala konsekuensinya, gila, dan atau melakukan bunuh diri karena kontrol kejiwaan yang sungguh tak mampu ia kendalikan lagi dan harapan seakan matinya jasad akan mengakhiri penderitaan. Halaman gelap itu datang menghujam.
Kalap terhadap nasib ini sering tak bisa diurai karena tidak lagi mempercayai orang lain sebagai penenang, sebagian kasusnya terhenti tidak ditangani serius oleh dokter tentu saja karena mahal, ribet, dan hasrat mengurung diri yang terlampau hebat. Kasus-kasus yang lain juga mencakup urusan sosial.
Di alam dunia timur ini orang tidak mau ke klinik jiwa justru karena takut stigma kegilaan jiwa dialamatkan pada dirinya. Sangsi sosial yang sebenarnya belum tentu terjadi ini kerap jadi teror menakutkan, pilihan antara memasrahkan nasib kejiwaannya pada paramedis akhirnya kalah dengan keangkuhan diri--yang sebenarnya merupakan respon error psikis dari daya survival yang tengah berlangsung. Daya bertahan agar terus hidup ini berubah jadi egosentris karena diri merasa cukup dan tak perlu bantuan orang lain, apalagi ketakutan akan "cap" yang ditaruh pada jidatnya jika publik tahu ia butuh bantuan.
Lalu menolak semua yang akan menolongnya.
Pada saat yang bersamaan hidup harus jalan terus. Minum, makan, bekerja, mendapatkan deadline, tekanan-tekanan dari internal keluarga maupun dari sirkel. Jika kondisi jiwanya tidak beres dan tetap merasa biasa saja, biasanya dalam waktu cepat si manusia ini berubah baik dalam perilaku maupun responnya terhadap sosial. Kepalsuan-kepalsuan, topeng, dan serta amarah yang sesekali meledak terlihat di kala obrolan menganggu langsung apa yang jadi sebab depresinya.
Kondisi negara yang buruk, sindrom paska kolonial, warisan orba, kemiskinan dan pemiskinan, serta krisis ekonomi membuat kondisi kejiwaan warga negara ini makin menjadi-jadi. Banyak orang yang ketika awal kenal biasa saja ketika ditelisik lebih dalam terang menunjukkan ketidakbecusannya dalam mengelola jiwa, kegilaan yang tersamar namun terlihat melalui logika yang meloncat-loncat, kalimat-kalimat yang tak efektif serta gestur ketika dialog mulai naik level.
Biasanya mereka ini merasa hidupnya baik-baik saja, dan mulai menyalahkan societas di sekelilingnya atas kerumitan yang sebenarnya berakar dari dalam dirinya sendiri. Terlalu gampang swipe, cut-off, atau menyertakan label toxic pada liyan. Dan harga dirinya kurang mampu untuk melakukan oto-kritik. Sehingga societas makin chaotic, ditambah dengan fenomena doom-scrolling buat mereka yang mengurung diri ini, berlagak introvert padahal sedang bermasalah.
Kerumitan demi kerumitan itu akhirnya nyrimpeti banyak orang. Mindfull lala lili itu akhirnya tak menjawab, memang yang dibutuhkan manusia seperti ini akhirnya saluran yang lebih keras. Baku hantam, fitnah, reseh. Atau mungkin sebaliknya, ia butuh keajaiban. Kekeringan batin, dan kemarau hidup itu butuh sesuatu yang lebih spiritual, butuh manusia untuk bercerita, serta butuh alam dan Tuhan tentu saja. Tapi manusia kerap sombong, belum selesai jika belum nabrak.
Maka, carilah keajaiban itu. Bukan di luar, tapi di dalam dirimu sendiri, dalam ruwet pikiranmu itu, serta
bertahanlah sedikit lebih lama.
Temui orang, bicarakan keluh kesahnya, mengurung diri hanya akan mempercepat kegilaan dan bunuh diri.
***
Hal-hal ini pernah kualami cukup lama, mungkin selepas lulus SMA di usia belasan hingga 32 tahun. Dan ini kasusnya tentu personal, sangat subjektif, tapi tulisan diatas itulah rekaman semuanya. Baik di dalam diri sendiri maupun orang lain, baik ketika aku melakukan penyelesaiannya sendiri, dengan jalan ketemu teman-teman filsafat, psikolog, maupun dengan jalan bertemu guru-guru spiritual secara kusyuk dan sungguh.
Sisanya kemudian merelakan diri diterkam angin malam, cinta, dan mata-mata kawan yang terus berada di kiri kanan.
Ora gampang. Semoga selamat.
Manut Yesus:
"Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
Surakarta, 15 September 2026
Ign. Indra Agusta

No comments:
Post a Comment