
Mengitari matahari lagi, kali ini edar langit yang ketigapuluh enam. Rasa-rasanya hidup makin berserah, sumarah pada segala ketetapan dan nasib. Ketakutan tentu menjalar tak mungkin hilang tetapi tetap saja syukur lebih dulu mendahului.
Malam ini, pada sebuah kedai bir di labirin memusingkan Pogung Jogjakarta mataku tertuju pada simbol yang telah lama aku kenal: Hati Kudus Yesus.
Simbol ini memang sering kulihat sehari-hari di pelbahagai tempat, sebagai tanda dan pengingat akan kasih Tuhan yang terus menyertai kita senantiasa. Malam ini memang agak melankolis. Mata-Nya terus memantau satu demi satu pekerjaan anak manusia, dalam perjalanan hidupnya, dalam segala lipatan-lipatan takdir yang mengitarinya.
Semakin tua dalam nonton banyak hal selalu dibuat takjub oleh segala dinamika-Nya, bahkan dalam beberapa kasus harus geleng-geleng kepala dan menekan-kan dalam hati: oh, begini cara kerjanya. Dia menjadi Maha Kuasa justru karena setelah kita berhitung dan sangat memaksimalkan apa yang kita bisa, kita simulasikan selalu ada hal yang berhasil melampaui prediksi.
Ada lapis-lapis peristiwa hidup yang membuatku terhenyak, rasanya seperti diselamatan dari banyak hal buruk, diri terkulai lemah tapi ada sesuatu di dalam diri yang berupaya menguatkan. Serta terus dipertemukan dengan banyak hal baik.
Anak manusia setua ini, yang lumayan punya kapasitas sensing kuat, masih saja diungguli oleh kasih-Nya. Pembolak-balikan keadaan, kondisi hati makin terang hidup urusannya selain berhitung terus menerus adalah dilakoni, tatag dan gentle.
Dalam kondisi demikian, apalagi kalau bukan rasa syukur yang diucapkan? selain itu semakin dewasa harus pula menaikkan rasa mawas dan wawas agar terus menerus kuat menjalani banyak hal dengan bening. Menaikkan rasa sabar, terus bersimpati dan menaruh empati.
Kita ini lahir dari belas kasihan, apa alasannya untuk tidak saling mengasihi?
Rasanya seperti terlalu tua yak? di umur segini sudah mulai ngomong ketuhanan, tapi demikianlah rasanya. Ternyata pada keadaan seperti ini, dalam level kompleksitas tertentu kita selalu ditaruhkan, dan diuji nyalinya, dihantam lagi kesadaran dan kewarasannya guna menemukan hal-hal baik ini tak bisa terukur dengan logika.
Bukan pasrah, dalam melakoni hidup harus terus mendobrak segala kebuntuan, harus menjalani apa yang malas untuk dijalani sebagai sebuah kewajiban, tetapi adakalanya untuk bergeser dan mulai memasrahkan diri untuk membuka kunci berikutnya dalam hidup, bahwa segala sesuatunya memang tak mudah diamati. Ada perkenanan Tuhan, dan penyertaan Tuhan dalam segala hal.
Sebagian besar jika rasionya cukup kita akan bisa mengenali bagaimana pola-pola menggejala, tanda dan perilaku manusia selalu mencipta kondisi dari apa yang kita sebut aksi.
Setiap aksi tidak kosong, ia selalu punya motif, struktur, dan 'mental mode' dari ia yang mencipta, atau serendah-rendahnya adalah upaya pertahanan terhadap hidup itu sendiri. Hal-hal seperti ini jika kemampuan, pengetahuan dan kecepatan membaca keadaannya bisa tersinkron lebih mudah terbaca.
Beda halnya jika rasionya tak terukur, seringkali kita harus menempatkan satu atau beberapa pointing "arah" agar lebih memudahkan kemana langkah yang dituju. Ketika pencarian tak temu, kadang semesta menjawabnya dengan cara lain. Itulah kelemahan kita, ketidakmampuan kita menerka pola, struktur dan subjek penentu membuat kita sadar kebodohan kita. Atau mungkin itulah jalan lainnya, jalan yang mengantarkan kita pada penyertaan-Nya, perkenanan-Nya.
Banyak orang bilang hidup harus berusaha itu betul, sebagian lain bilang orang hidup dari keberuntungan/hoki itu juga betul, tetapi ada ruang lain yang muncul selain dari usaha, dan hoki yang menyelinap diantara peluang-peluang. Lalu bagaimana yang bukan usaha dan bukan peluang? tapi terjadi dan menyambar pada takdir kita.
Halaman hidup itu muncul di lintas edar ketigapuluhenam kali ini. Pernah ada satu-dua kali yang bertanya bagaimana bisa sampai sana, cara seperti apa untuk sampai situ, kok bisa? jika itu hal-hal sederhana mungkin akan lebih mudah menjawabnya, tetapi, jika itu hal kompleks dan yang dihadapi adalah kawan-kawan yang kurang mengerti bagaimana hidup anak manusia ini bekerja, akan sangat sulit menjawabnya.
Ada banyak hal lain di luar sana, yang ketika kita terus berusaha, mengerjakan banyak hal, menemui banyak orang, lintas-lintas hal itu membuka banyak celah lain yang belum terbuka. Dan, dari situlah kadang keberkahan itu mengalir.
Tentu saja tulisan ini bukan untuk membuat anak manusia malas, menyerah, serta berbagai alasan lainnya guna meninggalkan kemampuan yang telah diraih.
Tulisan ini justru ingin menunjukkan, sejauh apapun kamu mengerjakan banyak hal akan ada horison lainnya yang terlihat, batas lain dari batas wajar yang telah diraih. Setiap karya, usaha, aksi-aksi bisa menaikkan manusia untuk menaikkan batas horisonnya, banyaknya pengalaman dan capaian memperbanyak peluang lalu keberuntungan mempercepat manusia naik horison. Tetapi, ada yang sangat jauh di luar perkiraan, biasanya mengagetkan, dan daya ubahnya sangat tinggi. Dan itu adalah bentuk dari perkenanan-Nya.
Karena daya ledak serta tegang-kejut dari hal ini kerap luar biasa, maka, dibutuhkan kesiapan mental terhadap segala pengaruhnya pada nasib kita di dunia
Banyak yang tidak siap ketika naik, banyak pula yang gegap ketika njlungup. Jika mengutip Mbah Mus dalam cerpennya, manusia harus berhati-hati apabila mendapat cobaan berupa anugerah.
Ya, anugerah itu sendiri tak selalu bermakna melenting, kerap capaian-capaian juga bisa untuk menguji manusia apakah ia sudah sepastasnya menyandang itu untuk kemudian pada levelnya melihat horison tertentu. Atau malah terlena dan jatuh oleh keangkuhan dan kecongkakan. Seperti mendapat sebuah kebenaran, meski itu kenyataan, banyak orang tidak siap menerima kebenaran. Apabila kebenaran itu disampaikan bagi manusia yang tidak siap, yang muncul hanyalah kehancuran yang tak perlu.
Horison atau ujung dari segala ini juga tak semua membawa pencerahan bagi para pencapainya. Jika mentalnya tidak siap ia bisa gila, mengurung diri, atau justru menolak semuanya. Butuh kesiapan wadag untuk menerima, serta kerendahan hati jika telah mencapai.
Ruang-ruang jaman begitu rupa menjadikan anak manusia menemui banyak hal, kali ini, di tahun ke tigapuluhenam ada ritme lain yang menjadikan lebih sabar, dan memperbanyak tabah menghadapi banyak hal. Di depan sana, lautan makin terlihat luas, dengan horison menguning yang makin dekat dan manusia selalu berusaha agar makin waspada dalam membuang sauh.
Jalma
Surakarta, Juli 2026
No comments:
Post a Comment