Di jalanan orang-orang merayakan kemenangan kecilnya, sebuah perayaan bingar, sebuah saluran bisul pecah atas nama kepenatan, kesesakan, ketidakadilan, pemiskinan, pembodohan, dan berbagai 'failure system' yang menyeret nasib manusia secara individu.
Seperti tidak begitu terang, tapi aura kemarahan itu seperti tak mungkin terbendung.
Di lorong² malam, riuh, tapi jernih suara hati menguar. Sebuah 'ngudarasa' dari derasnya ketimpangan dan ketidakpastian nasib.
Orang² datang mencari ratu adil, justru ketika para pemimpinnya gak sanggup memberikan keadilan
Orang² mencari jamu, obat cespleng kalengan karena resep dokter sudah tak bisa ditebus lagi, kassa-kassa lantang menolak kasbon.
Orang² tak peduli lagi dengan jurnal, pwnwlitian, esai, segala yang lahir dari pemikiran² brilian
Ia hanya butuh satu mantra, mantra yang memberikan kelegaan, dan manusia mencarinya ke ujung bumi untuk menenangkan dirinya
Ia yang dipinggirkan kini mendapat panggungnya
Ia yang teraniaya kini mendapat kanalnya
Ia yang diabaikan kini punya tameng eksistensi
Ia yang biasa saja kini bisa berpeluang jadi martir
Seperti puisi akbar Emha:
"Kalau sunyi engkau anggap tiada
Maka bersiaplah terbangun mendadak dari tidurmu karena ledakannya"
Karena yang tiada itu justru kadang² adalah segalanya
Sebaliknya, kadang yang segalanya itu justru kadang malah tak ada
Sejumput rumput kering tumbuh, awannya berputar, dan musimnya berubah..
Ratu adil memang tidak ada, atau mungkin ratu adil adalah suara² yang dianggap tak pernah ada itu
Air yang bising, yang tajam, yang bening, yang jernih, yang tenang...
#agustaisme

No comments:
Post a Comment