image1 image2 image3 image4

MENATA HATI|MENYAMBUT GERHANA PERADABAN|MENJENGUK MALAM DI SEPI REMBULAN|MENUNGGU PAGI|SANG PIJAR DARI UFUK TIMUR

Wednesday, September 3, 2025

Kanal besar

 Di jalanan orang-orang merayakan kemenangan kecilnya, sebuah perayaan bingar, sebuah saluran bisul pecah atas nama kepenatan, kesesakan, ketidakadilan, pemiskinan, pembodohan, dan berbagai 'failure system' yang menyeret nasib manusia secara individu.

Seperti tidak begitu terang, tapi aura kemarahan itu seperti tak mungkin terbendung.

Di lorong² malam, riuh, tapi jernih suara hati menguar. Sebuah 'ngudarasa' dari derasnya ketimpangan dan ketidakpastian nasib. 

Orang² datang mencari ratu adil, justru ketika para pemimpinnya gak sanggup memberikan keadilan

Orang² mencari jamu, obat cespleng kalengan karena resep dokter sudah tak bisa ditebus lagi, kassa-kassa lantang menolak kasbon. 

Orang² tak peduli lagi dengan jurnal, pwnwlitian, esai, segala yang lahir dari pemikiran² brilian


Ia hanya butuh satu mantra, mantra yang memberikan kelegaan, dan manusia mencarinya ke ujung bumi untuk menenangkan dirinya


Ia yang dipinggirkan kini mendapat panggungnya

Ia yang teraniaya kini mendapat kanalnya

Ia yang diabaikan kini punya tameng eksistensi

Ia yang biasa saja kini bisa berpeluang jadi martir


Seperti puisi akbar Emha:

"Kalau sunyi engkau anggap tiada

Maka bersiaplah terbangun mendadak dari tidurmu karena ledakannya"


Karena yang tiada itu justru kadang² adalah segalanya

Sebaliknya, kadang yang segalanya itu justru kadang malah tak ada


Sejumput rumput kering tumbuh, awannya berputar, dan musimnya berubah..


Ratu adil memang tidak ada, atau mungkin ratu adil adalah suara² yang dianggap tak pernah ada itu

Air yang bising, yang tajam, yang bening, yang jernih, yang tenang...


#agustaisme

No comments:

Post a Comment