image1 image2 image3 image4

MENATA HATI|MENYAMBUT GERHANA PERADABAN|MENJENGUK MALAM DI SEPI REMBULAN|MENUNGGU PAGI|SANG PIJAR DARI UFUK TIMUR

Showing posts with label #agustaisme. Show all posts
Showing posts with label #agustaisme. Show all posts

Tuesday, July 7, 2026

Tigaenam

Mengitari matahari lagi, kali ini edar langit yang ketigapuluh enam. Rasa-rasanya hidup makin berserah, sumarah pada segala ketetapan dan nasib.  Ketakutan tentu menjalar tak mungkin hilang tetapi tetap saja syukur lebih dulu mendahului.

Malam ini, pada sebuah kedai bir di labirin memusingkan Pogung Jogjakarta mataku tertuju pada simbol yang telah lama aku kenal: Hati Kudus Yesus.

Simbol ini memang sering kulihat sehari-hari di pelbahagai tempat, sebagai tanda dan pengingat akan kasih Tuhan yang terus menyertai kita senantiasa. Malam ini memang agak melankolis. Mata-Nya terus memantau satu demi satu pekerjaan anak manusia, dalam perjalanan hidupnya, dalam segala lipatan-lipatan takdir yang mengitarinya.

Semakin tua dalam nonton banyak hal selalu dibuat takjub oleh segala dinamika-Nya, bahkan dalam beberapa kasus harus geleng-geleng kepala dan menekan-kan dalam hati: oh, begini cara kerjanya. Dia menjadi Maha Kuasa justru karena setelah kita berhitung dan sangat memaksimalkan apa yang kita bisa, kita simulasikan selalu ada hal yang berhasil melampaui prediksi. 

Ada lapis-lapis peristiwa hidup yang membuatku terhenyak, rasanya seperti diselamatan dari banyak hal buruk, diri terkulai lemah tapi ada sesuatu di dalam diri yang berupaya menguatkan. Serta terus dipertemukan dengan banyak hal baik. 

Anak manusia setua ini, yang lumayan punya kapasitas sensing  kuat, masih saja diungguli oleh kasih-Nya. Pembolak-balikan keadaan, kondisi hati makin terang hidup urusannya selain berhitung terus menerus adalah dilakoni, tatag dan gentle. 

Dalam kondisi demikian, apalagi kalau bukan rasa syukur yang diucapkan? selain itu semakin dewasa harus pula menaikkan rasa mawas dan wawas agar terus menerus kuat menjalani banyak hal dengan bening. Menaikkan rasa sabar, terus bersimpati dan menaruh empati. 

Kita ini lahir dari belas kasihan, apa alasannya untuk tidak saling mengasihi?

Rasanya seperti terlalu tua yak? di umur segini sudah mulai ngomong ketuhanan, tapi demikianlah rasanya. Ternyata pada keadaan seperti ini, dalam level kompleksitas tertentu kita selalu ditaruhkan, dan diuji nyalinya, dihantam lagi kesadaran dan kewarasannya guna menemukan hal-hal baik ini tak bisa terukur dengan logika. 

Bukan pasrah, dalam melakoni hidup harus  terus mendobrak segala kebuntuan, harus menjalani apa yang malas untuk dijalani sebagai sebuah kewajiban, tetapi adakalanya untuk bergeser dan mulai memasrahkan diri untuk membuka kunci berikutnya dalam hidup, bahwa segala sesuatunya memang tak mudah diamati. Ada perkenanan Tuhan, dan penyertaan Tuhan dalam segala hal.

Sebagian besar jika rasionya cukup kita akan bisa mengenali bagaimana pola-pola menggejala, tanda dan perilaku manusia selalu mencipta kondisi dari apa yang kita sebut aksi. 

Setiap aksi tidak kosong, ia selalu punya motif, struktur, dan 'mental mode' dari ia yang mencipta, atau serendah-rendahnya adalah upaya pertahanan terhadap hidup itu sendiri. Hal-hal seperti ini jika kemampuan, pengetahuan dan kecepatan membaca keadaannya bisa tersinkron lebih mudah terbaca. 

Beda halnya jika rasionya tak terukur, seringkali kita harus menempatkan satu atau beberapa pointing "arah" agar lebih memudahkan kemana langkah yang dituju. Ketika pencarian tak temu, kadang semesta menjawabnya dengan cara lain. Itulah kelemahan kita, ketidakmampuan kita menerka pola, struktur dan subjek penentu membuat kita sadar kebodohan kita. Atau mungkin itulah jalan lainnya, jalan yang mengantarkan kita pada penyertaan-Nya, perkenanan-Nya. 

Banyak orang bilang hidup harus berusaha itu betul, sebagian lain bilang orang hidup dari keberuntungan/hoki itu juga betul, tetapi ada ruang lain yang muncul selain dari usaha, dan hoki yang menyelinap diantara peluang-peluang. Lalu bagaimana yang bukan usaha dan bukan peluang? tapi terjadi dan menyambar pada takdir kita. 

Halaman hidup itu muncul di lintas edar ketigapuluhenam kali ini. Pernah ada satu-dua kali yang bertanya bagaimana bisa sampai sana, cara seperti apa untuk sampai situ, kok bisa? jika itu hal-hal sederhana mungkin akan lebih mudah menjawabnya, tetapi, jika itu hal kompleks dan yang dihadapi adalah kawan-kawan yang kurang mengerti bagaimana hidup anak manusia ini bekerja, akan sangat sulit menjawabnya. 

Ada banyak hal lain di luar sana, yang ketika kita terus berusaha, mengerjakan banyak hal, menemui banyak orang, lintas-lintas hal itu membuka banyak celah lain yang belum terbuka. Dan, dari situlah kadang keberkahan itu mengalir. 

Tentu saja tulisan ini bukan untuk membuat anak manusia malas, menyerah, serta berbagai alasan lainnya guna meninggalkan kemampuan yang telah diraih. 

Tulisan ini justru ingin menunjukkan, sejauh apapun kamu mengerjakan banyak hal akan ada horison lainnya yang terlihat, batas lain dari batas wajar yang telah diraih. Setiap karya, usaha, aksi-aksi bisa menaikkan manusia untuk menaikkan batas horisonnya, banyaknya pengalaman dan capaian memperbanyak peluang lalu keberuntungan mempercepat manusia naik horison.  Tetapi, ada yang sangat jauh di luar perkiraan, biasanya mengagetkan, dan daya ubahnya sangat tinggi. Dan itu adalah bentuk dari perkenanan-Nya. 

Karena daya ledak serta tegang-kejut dari hal ini kerap  luar biasa, maka, dibutuhkan kesiapan mental terhadap segala pengaruhnya pada nasib kita di dunia

Banyak yang tidak siap ketika naik, banyak pula yang gegap ketika njlungup. Jika mengutip Mbah Mus dalam cerpennya, manusia harus berhati-hati apabila mendapat cobaan berupa anugerah. 

Ya, anugerah itu sendiri tak selalu bermakna melenting, kerap capaian-capaian juga bisa untuk menguji manusia apakah ia sudah sepastasnya menyandang itu untuk kemudian pada levelnya melihat horison tertentu. Atau malah terlena dan jatuh oleh keangkuhan dan kecongkakan. Seperti mendapat sebuah kebenaran, meski itu kenyataan, banyak orang tidak siap menerima kebenaran. Apabila kebenaran itu disampaikan bagi manusia yang tidak siap, yang muncul hanyalah kehancuran yang tak perlu.

Horison atau ujung dari segala ini juga tak semua membawa pencerahan bagi para pencapainya. Jika mentalnya tidak siap ia bisa gila, mengurung diri, atau justru menolak semuanya. Butuh kesiapan wadag untuk menerima, serta kerendahan hati jika telah mencapai. 

Ruang-ruang jaman begitu rupa menjadikan anak manusia menemui banyak hal, kali ini, di tahun ke tigapuluhenam ada ritme lain yang menjadikan lebih sabar, dan memperbanyak tabah menghadapi banyak hal. Di depan sana, lautan makin terlihat luas, dengan horison menguning yang makin dekat dan manusia selalu berusaha agar makin waspada dalam membuang sauh. 



Jalma

Surakarta, Juli 2026




Tuesday, May 23, 2023

Mata Air dan Lapangan

Melihat dinamika pergerakan hari ini menjadi mengernyitkan dahi. Betapa tidak, semakin banyak orang-orang prematur memiliki kuasa lalu bisa ditebak langkah berikutnya, program yang berlangsung tidak menarik, dan makin menurunkan kualitas pergerakan itu sendiri.

Saya tidak begitu tahu kenapa hal seperti ini masif, apakah karena tingginya traffic pengguna media sosial? atau karena internet kemudian mempercepat laju informasi sehingga membuat penggunanya semakin mudah memperbandingan dirinya dengan liyan. Ketidakpercayaan diri jadi gejala masif, alter-ego yang muncul semakin banyak anak-anak mengejar jumlah tayang, suka maupun dibagikan oleh orang lain. Praktisnya, popularitas bisa menjadikan mereka terkenal - bahkan kaya.

Alam berpikir seperti ini hidup, perlombaan manusia kemudian sedikit bergeser arah derajatnya. Tidak perlu adu berpikir karena mesin pencari bisa menyiapkan jawaban dalam hitungan detik - sekaligus sebenarnya menjadi senjata ampuh untuk mengkritisi pendapat seseorang, kecerdasan buatan kini merambah dunia teks, manusia diberikan berbagai macam kemudahan untuk memproduksi sebuah konten. 

Tugas-tugas sekolah dan kuliah sudah disandarkan pada komputer sejak internet kencang, kini makin menjadi dengan Chat-GPT atau Bard milik Google. Informasi di mesin pencari tak lagi bersandar pada hasil pencarian teratas yang berdasarkan mesin SEO, namun akan diganti alogaritma yang lebih akurat menyesuaikan hasil pencarian menggunakan rekam preferensi pengguna yang dikoleksi pada sebuah akun email.

Ootput luarnya, pembicaraan mereka pada berbagai diskusi kemudian dangkal, cacat logika, sampai benar-benar tidak memiliki kadar ilmu yang cukup selain hanya selevel rerasan di warung kopi atau angkringan. Sedangkan sistem terus memicu manusia untuk menjadi patron, tokoh, terlihat dan lupa ada sistem-sistem lainnya yang berjalan di belakang layar.

Sebaliknya, kepraktisan ini juga memicu kesempitan berpikir, mungkin juga pembodohan sedang terjadi, kemungkinan berikutnya konservatisme muncul. Beberapa pihak dengan secara sadar menggunakan ideologi, tafsir atas sebuah keyakinan hingga menukil nama-nama orang besar untuk brainwashing anak-anak baru. Dalam waktu singkat beberapa orang menjadi gampang marah, tidak mau berkompromi, terbuka pada dialektika dan dengan acuh mendeklarasi dirinya sebagai bagian dari yang asli, yang murni, yang paling benar untuk dianut semua orang. 

Forum-forum yang terjadi kemudian alot. Diskusi tidak menciptakan kecenderungan olah pikir manusia tetapi malah berhenti menjadi kotbah-kotbah nan dogmatis. Pertanyaan tidak muncul, manusia pulang hanya membawa perintah lalu dalam waktu cepat narsisme tercipta. Mereka tak ubahnya seperti gurunya yang sama-sama hanya butuh jumlah like dan view tadi - dalam bentuk yang lain. 

Dari pinggiran lapangan, kadang kita bisa melihat berbagai arus yang bergeliat, sebelum akhirnya kita berpihak. Melawan mungkin juga bakal dimatikan oleh mereka yang merasa hegemoninya diusik oleh suatu pemikiran kritis.





Monday, April 24, 2023

Teman yang berubah


Lebaran tak hanya membawa manusia datang kembali ke tanah asal mereka, namun juga membawa keping-keping baru atas nasib tiap manusia dari tanah rantaunya. Hari-hari kemudian menjadi penuh dengan banyak obrolan. Kebanyakan memang basa basi belaka. Tidak semua orang mampu membuka obrolan dengan baik, alih-alih berhati-hati dalam membincang beberapa orang kemudian terjerumus pada sifat sok 'minteri'. 

Sebagai orang yang puluhan tahun di rumah, dan sekaligus tidak jadi penunggu rumah, takaran-takaran itu makin kentara. Selalu ada momentum manusia untuk menunjukkan eksistensinya. Perihal capaian, pekerjaan, lalu masalah yang ia bawa dari masa lalu serta masa depannya yang mengubah hari ini. Semuanya berkelindan. 

Khusus lebaran tahun ini mungkin sedikit berbeda. Ketika pandemi kemarin dua tahun tidak ada perayaan, orang dilarang mudik memungkinkan segalanya diselenggarakan secara sederhana. Namun kini, ketika hampir separuh penduduk negara ini melakukan perjalanan mudik, euforia itu terasa. Meskipun harus diakui kepincangannya. 

Pasar-pasar tetap ramai, meski katanya tahun ini lebih sepi. Bakul-bakul pakaian telak kalah dengan thrifting atau bahasa desanya awul-awul. Pakaian baru memang tetap menjadi incaran namun tak seramai biasanya. Dulu, hampir setiap keluarga punya 'seragam'-nya tersendiri, kain-kain lenan halus yang sudah dipesankan pada penjahit ketika bulan puasa dipakai pada hari raya. Kini tidak banyak, pakaian-pakaian yang dipakai cenderung rapi dan bersih gitu saja.

Sebagai anak yang harus mewakili orang tuanya atas nama keluarga besar, setelah ritual bersalaman sekampung kunjungan ke banyak rumah kulakukan. Kudapannya masih lain dari hari biasa orang desa, namun tidak se-wah lebaran sebelumnya. Tidak banyak yang memasak opor, banyak dari mereka yang menggantikan menu di meja dengan menu yang lebih hemat. Pecel, lele, sop, dan es teh. Get poor slowly kalau kata para pakar ekonomi itu beneran adanya. Inflasi tahun ini sangat tinggi sampai 5%, uang makin tidak punya nilai, kepemilikan kapitalpun makin tergerus. Sementara itu kebutuhan harian makin meninggi harganya. Bahan pokok, paketan internet sampai bea perawatan kendaraan. Efek-efek ini terbawa sampai lebaran. 

Hal-hal ini yang kemudian membawa banyak sekali kemungkinan arah basa-basi pertemanan. Kawan-kawan yang dulu dekat tampak lebih jujur. Bahkan dengan terang-terangan memamerkan kemiskinan dan kesulitan ekonomi yang ia dera. Efek thrifting sangat signifikan pada nasib buruh pabrik tekstil. Kawanku mungkin salah satunya, jelang lebaran ia salah satu yang kena PHK, entah bagaimana lagi akan mengurusi keluarganya. Ada pula yang jualannya tidak seramai tahun sebelumnya, makanan dan minuman berbuka biasanya sangat laris, tahun ini tak demikian. 

Teman-teman yang dari rantaupun beragam, kebanyakan memang hanya pamer ini itu, di usiaku yang mereka bicarakan tentu saja parenting, beli rumah atau mobil dan cerita capaian jabatan. Di sisi lainnya, tentulah basa-basi belaka. Dan sesuai prediksi, akan makin banyak kawan tidak mau diajak bertemu karena memang kondisi finansialnya sedang jatuh, dan ora metu omah yen ora duwiti, salah satu jawaban dari kawanku demikian. Bahkan, aku yang berniat sekedar sowan ke rumahnya pun di tolak dengan alasan macam-macam. 

Aku sangat paham perasaan orang miskin, namun apakah sampai sebegitunya hingga untuk bertamu saja harus dibatasi. Tapi itu pilihan personal, dan memang tidak boleh dikekang. Mungkin ia terbiasa unjuk memberi jamuan layak bagi tamu, jika tidak mending tidak sekalian. Hal-hal ini kemudian melambari diri sendiri agar tidak terlalu gegabah dalam berkunjung. Tahun ini berat, dan imbal balik dari semua tindakan baik belum tentu terbalas.

Kondisi hidup yang susah membawa banyak perubahan psikologis. Kawan-kawan yang berusia tigadasawarsa seumuranku tak jarang mulai jadi hakim moral bagi teman sebayanya. Beberapa dengan serius mendorong untuk segera menikah, namun pertanyaanya kubalik memang seberapa bahagia kamu dengan pernikahanmu sekarang? hidupmu jamuh lebih enak? kawan-kawan baik ini biasanya menjawab jujur hidupnya tak jauh lebih berbahagia. 

Beberapa yang jauh-pun begitu. Satu dua orang dengan gagah meminjam uang (justru karena berjarak ini mereka2 ini berani pinjam duit, tanpa sekalipun pernah tahu/membantu kondisi finansialku). Dan yang paling klasik nan ironis gini, kamu kan belum berkeluarga, belum punya butuh. Saya sebenarnya masih ingat betul beberapa tahun yang lalu kawan-kawan saya ini adalah orang yang paling getol memintaku berkeluarga, jadi polisi hidup orang lain. Mereka ini sama sekali gak pernah membantu ketika aku susah, tetapi dengan datar bisa senekat itu meminjam uang dan berhutang. 

Lain dengan para perempuannya, kebanyakan mereka malah jauh lebih ingin didengar. Lebaran ini jadi momen untuk menceritakan kisah-kisah sedih mereka, tentang hidup berkeluarga. Kesibukan berumah tangga, hingga 'jarak' seolah privasi itu harus disimpan rapat membuat mereka menjadi manusia super cerewet. Aku sendiri sebenarnya juga mengakui cukup banyak cakap tentang banyak hal, tapi perempuan-perempuan ini seperti butuh kanalisasi dari timbunan masalah yang ia simpan. 

Suami-suami mereka kerapkali menjadi biang masalah, tidak memungkinkan lagi untuk berbincang dengan siapapun meski hanya via gawai. Lalu kata-kata membuncah, sesuatu yang ditahan meledak, dan aku kembali mendengar hal-hal yang sangat intim nan tidak perlu sampai diceritakan. 

Kemiskinan memang mampu mengubah siapa saja. 

Selain berita buruk, tentulah banyak berita menggembirakan.  Banyak yang kemudian naik level sangat cepat, bertemu dengan banyak jaringan yang tidak mungkin dicapai semua orang. Ada perasaan mongkok dengan kawan-kawan ini, justru karena saya tahu persis hidupnya ketika remaja tidak mengenakkan. Tidak pernah ada yang menyangka pergulatan hidup dan pilihan-pilihan sulit justru menjadikan mereka mampu bertahap menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka duga. Malam-malam jelang dan pasca lebaran tentulah lebih lama dengan kawan-kawan ini, sebelum akhirnya kita kembali lagi pada kesunyian masing-masing.

Kalimat-kalimat segera berlalu, adapula yang tidak sempat bertemu karena polanya berubah. Beberapa juga  menyibukkan diri karena tahun ini akan menikah, sisanya memang tidak sempat bertemu. Perubahan-perubahan selalu terjadi, namun lebaran ini, perlambatan ekonomi, resesi dan inflasi mendorong lebih jauh orang ke jurang kemiskinan. 

Dan kemudian kebanyakan dari kita merayakannya dengan sederhana, seperti teh hangat dan sayur lodeh tanpa opor di meja. Atau uang pitrah yang dulu sampai jutaan kini hanya bermodal seratus tujuh ribu untuk membeli uang pecahan 2000 baru untuk para ponakan. Semuanya senang dan sedih dengan caranya. 

Selamat bakdan!.


Wednesday, April 19, 2023

Lebaran dari "Pinggir"

Setiap tahun kita memulai perjalanan dari bilik kesunyian kita masing-masing menuju kampung halaman.  Apa yang kemudian benar-benar kita cari dalam kepulangan? ataukah hanya ritual berulang semata yang terus berdengung di telinga dan mata sebagai sebuah peristiwa. Aku merasa semakin dewasa semakin jelas rasa itu, sebuah nukilan gegap gempita yang makin tawar. Makin hambar.

Untuk apa, untuk siapa? 

Saya pernah berbincang-bincang dengan seorang teman, kala hidupnya miskin, rumit, dan terbengkalai. Ia mengumpamakan hidup orang susah itu seperti tikus. Kalau mati tidak ada yang menangisi, kalau berhutang sudah tidak dipercaya, kalau butuh sesuatu dikira ngemis. Sadis dan jahat hidup ini, apalagi di hari raya. Seberapa yang benar-benar jujur menikmatinya, meskipun akhirnya tetap merayakannya. 

Setiap lebaran memang saya pulang ke rumah. Mengunjungi makam ibu saya - dan kini bertambah makam eyang putri. Suasana di rumah tidak ada bedanya, gang-gang kampung berisi mobil-mobil berplat luar kota, sepanjang malam kelakar itu tak habis-habis persis seperti kudapan, lezat namun tak semuanya begitu. Bagiku, setidaknya setelah eyang putri meninggal kesunyian itu makin mencekat. 

Tidak ada orang-orang dan handai taulan lagi yang berkunjung ke rumah, sebaliknya selama belasan tahun aku mewakili mendiang ibu untuk berkunjung ke saudara-saudaranya yang masih hidup, menikmati kepalsuan demi kepalsuan. Pembicaraan hanya berisi basa-basi yang berujung mengira nasib saya sudah melampaui mereka. Tentu saja, nasib intelektual, jaringan, koneksi dan pemikiran saya memang berubah. Tetapi kondisi finansial saya bahkan jauh lebih buruk dari orang-orang tua ini, mereka yang terus berhutang dan meraih apapun atas nama dalih "kamu 'kan belum nikah, belum mikir butuh'. 

Anjing memang,

Sejak SMP saya mulai mencarikan duit tambahan untuk eyang putri agar ketika lebaran tiba ada sajian di meja, ada uang pitrah untuk cucu-cucu lain yang seumuran saya. Semuanya harus disulap menjadi ada, keluarga harus terlihat normal demi menjunjung nama baik. Aku akhirnya melakukan itu semua bukan karena nama baik, tapi cinta. Tresnaku pada eyang putri, pada rendra dan bapak. Demi mereka selama belasan tahun aku membual bahwa semuanya lagi sibuk, semuanya lagi sedang berproses, dan menuju sukses. 'Mikul dhuwur mendem jero' itu pelik. 

Saya terus dirumah hingga tigapuluh satu tahun. Menjadi penunggu rumah itu lebih berat rasanya, karena harus menjalani rutinitas sehari-hari yang jauh lebih berat bersama orang tua. Sempat dulu marah karena ingin mencecap rasanya merantau, meraih karir dst. Tapi lumat juga karena cinta kepada eyang ketika kesempatan itu datang. Rasa tidak tega meninggalkan orangtua sendirian di rumah jauh lebih membebani, dibanding rasa tidak punya masa depan. 

Dan, kini tiap lebaran ketika beliau pergi, rasa-rasanya hidup makin tidak jelas jluntrungannya. Kepulangan berarti ke makam, dan rumah selalu nomor dua. Pulang berarti harus siap untuk tidak membebani siapapun dirumah, dan tentu saja itu berat. 

Makin tua, makin paham bahwa ada dari hidup yang tidak pernah bisa kita kuasai dan kendalikan. Hitungan-hitungan yang tepat tak semuanya terealisasi, meskipun iya beberapa berhasil dilakukan. Manusia akhirnya tetap sendirian. Bagaimanapun ramainya lebaran selalu saja ada orang-orang kesepian. Orang-orang tua kemudian pergi, meninggal dan anak-anak terpisah oleh kesunyian. 

Lebaran memang tidak mudah bagi manusia lainnya. Aku selalu melihat mereka, dendang dan tarian orang-orang kalah ketika lebaran. 

Di tengah riuhnya malam lebaran, sesekali aku melihat beberapa orang merokok dengan lesu di teras rumahnya. Boro-boro beli baju baru, masak opor, atau memberi pitrah pada handai taulan, untuk menutup kebutuhan diri sendiri saja masih harus ditambal dengan hutang di sana sini, Aku juga melihat bapak-bapak muda di hari kedua lebaran justru pergi dari rumah, mengambil kail pancingnya untuk menyepi. Mereka tidak siap bertemu dengan keluarga besar yang penuh dengan bualan kesuksesan, capaian, pekerjaan, hal-hal yang selama ini tidak pernah ia capai.

Seorang janda yang ditinggal pergi suami untuk menikah lagi, wajahnya menyimpan marah juga kalah ketika halal-bihalal tiba dan semua pasangan memamerkan keharmonisan mereka. Anak-anak yang merengek minta mainan, dan main di kolam renang, karena tak terjangkau uangnya, sang bapak mengecoh untuk mengajak membeli bakso termurah di kampung. Anak-anak akhirnya memang tertawa riang, dan sekali lagi para lelaki menyulut rokoknya dalam-dalam. Adapula yang menunggu orangtua mereka renta dan sakit tak bisa bangun dari ranjang, di meja tamunya tidak ada apapun. Kemiskinan telah mengetuk sejak penyakit itu datang, dan tiada lagi yang tersisa. 

Mereka-mereka ini mungkin yang akan "kaya tikus" itu tadi, tergilas jaman dan dilupakan. Anak cucunya tidak punya waktu untuk mengenang, apalagi mendokumentasikan, karena ternyata hidup habis untuk membanting tulang dengan hasil yang tidak seberapa. Lebaran datang dan pergi, tapi kemiskinan tetap. Di kota ini, kota dengan salah satu umr terendah di negara masih banyak yang bekerja jauh di bawah UMR. Tentunya kebutuhannya tidak terpenuhi, dan kemiskinan lalu menggejala menjadi apa saja.

Orang-orang beragama selalu melantangkan memberi, tapi mereka ini sudah tidak ada lagi yang bisa dibagikan. Apalagi dengan puasa, nyaris setiap hidupnya berpuasa, menahan banyak sekali godaan hidup, maupun bertahan agar tidak mengakhiri hidup.

Selalu ada yang luput dari setiap pesta. Selalu ada paradoks yang berjalan. Dalam setiap peristiwa besar, selalu saja ada yang minor. Dan kita, merawat ingat kalau sempat kita mencatatnya. 

Beberapa  tidak pulang, beberapa memilih bertahan untuk tidak pulang karena pulang berarti mencederai hati mereka (lagi) karena banyak duka dan luka. Sebagian perantau lain tidak pulang, entah karena malu, atau memang sudah kehilangan alasan kepulangan ke kampung halaman. Dari pinggir cathetan ini kucatat, karena bagian besarnya sudah didengungkan oleh banyak orang. Romantisasinya, kenikmatan dan kehangatannya dan apalah itu yang indah-indah. Tapi siapa yang mau mengamati lebaran dari sisi yang lain.

Para penunggu rumah kian sibuk, pelayan cafe tetap sibuk bekerja, para pengemis datang, tukang penunggu rumah-rumah di kota sepekan ini menikmati kekayaan tuannya, dan roda-roda hidup terus berputar.

Selamat. Gerhana-nya datang,



Surakarta, 20 April 2023

 

Monday, November 21, 2022

Rosje

Dalam kamarnya yang temaram, Rosje menuliskan sebuah laporan dalam secarik kertas. Setelah penanya berhenti menggores, kertas itu dilipat dan dimasukkan ke dalam sebuah amplop berwarna cokelat. Laporan itu bukan pertama kalinya dilayangkan ke kantor Veldpolitie1 di Karanganyar, kali ini yang kesebelas.

-

Rosje adalah seorang akuntan. Ia sebenarnya lahir di Batavia, namun, karena ayahnya ditunjuk bekerja kepada Adipati Mangkunegara IV terkait sewa-menyewa lahan, maka ia kemudian mengikuti jejak ayahnya ke jantung pulau Jawa. Tak berselang lama seusai lulus kursus akuntansi di Djawatan Akuntan Hindia, Rosje dipekerjakan di suikerfabriek te Tasikmadoe2. 

Pada sebuah bangunan loji Belanda ia tinggal, di sebuah padukuhan Jawa bernama Ngijo persis di sebelah timur Ambachtsschool3, bersebrangan pula dengan hulpziekenhuis4. Dari depan rumahnya Rosje bisa melihat lalu-lalang orang desa berjualan aneka kudapan di sekitar pabrik atau memanggul kembang gula ke kota Karanganyar yang jaraknya cuman satu pal. Setiap hari ia berjalan kaki menuju pabrik, sembari melihat-lihat sekeliling pabrik yang rimbun dengan pohon Munggur. Kantornya terletak tepat di dalam kompleks utama pabrik. Sebuah bangunan loji besar bergaya indis, dengan tiang tinggi, pintu-jendela yang berukuran bersar, lengkap dengan berderet pot bunga beraneka-ragam.

Ruangan Rosje terletak diujung sebelah kiri, setelah meja pertemuan yang berada di tengah ruangan. Setumpuk buku tagihan menjadi dekorasi utama ruangannya, berderet pula laporan tahunan jumlah produksi tanaman, buku gaji karyawan, hingga kumpulan faktur pajak kepada sang Adipati. Pekerjaannya setiap hari hanya memastikan semua dokumen sudah diselesaikan dan terarsipkan dengan baik. Rutinitas itu berulang, sesekali sebatang rokok mengepul di jarinya, untuk menghalau kejenuhan. Hari-harinya datar, sampai suatu pagi Tuan D. Winter sang komisaris pabrik mengharuskan dan datang mejanya.

 “Rosje, bulan depan perusahaan kita jadi tuan rumah konferensi pengolahan lahan, bung siapin ya, jangan malu-maluin perusahaan, pastikan penyakit tikus sialan itu tak menjangkiti para tamu!”.

Enam tahun lalu wabah pes memang sudah menerjang Surakarta. Konon, penyakit demam itu ditularkan lewat tikus-tikus di seputar stasiun Sala Kasunanan Jebres. Kabar baiknya wabah itu belum menjangkiti kawasan pabrik gula tempatnya bekerja.*

Jelang acara, Rosje dibantu sebuah tim kecil yang dengan sigap menyiapkan segala sesuatunya. Perihal mencari tempat inap untuk tamu di losmen terbaik di kota, ruangan untuk bersantai, makanan, dan tak lupa jamuan minum untuk para tuan. Rosje memastikan semuanya tak terlewat. Acara ini adalah perhelatan yang sangat besar, harus sempurna, menurut Tuan Winter. Konferensi tersebut akan dibuka langsung oleh tuan Residen Surakarta beserta Gusti Adipati Mangkunegara dan Sunan Surakarta sendiri. Dikirimkannya pula surat perijinan dan pemberitahuan baik ke ke kantor Burgerlijk Geneeskundige Dienst, pangreh praja setempat dan tentu saja opsir polisi.

Namun semakin mendekat tempo, banyak karyawannya dilaporkan jatuh sakit. Semula Rosje tak menggubris, karena menganggap sakit panas biasa seperti yang sudah-sudah. Hal itu berubah menjadi perhatian serius Rosje ketika seorang pekerja dilaporkan meninggal. Bermula dari yang pertama, malaikat maut  datang susul menyusul dan makin mengerikan.**

“Pagebluk ini tuan Rosje, pagebluk ini, duh Gusti Pangeran, setelah tigapuluh tahun Ngelano yang aman ganggas-waras kini desa  terkena hujaman rajapati lagi” Kata Wardi, asisten dengan gemetar di meja ruangannya.

“Duduklah dulu War, kau mau kubuatkan minum dulu?” tukas Rosje menenangkan asistennya.

Rosje lalu berdiri keluar dari ruangannya, memanggil pelayan di dapur untuk membuatkan Wardi secangkir teh lalu duduk kembali di mejanya.

“Rokok?” tangan Rosje mendorong sebungkus kretek ke depan tempat duduk Wardi. Wardi hanya menggelengkan kepala, sembari sesekali melemparkan sudut matanya pada pemandangan pabrik di luar jendela kantor Rosje.

 “Memang dulu ada pagebluk apa?”

“Kurang paham tuan Rosje, yang jelas banyak yang mati karena demam dan bintik-bintik, kata pak Demang namanya pagebluk cacar, saya masih kecil waktu itu, juga cerita simbok, katanya banyak warga desa disini meninggal.

Apakah ini kutukan, ya, tuan Rosje, atau malah ini firasat buruk pada konferensi besok, atau malah ini lambang kejatuhan pabrik ini? saya takut tuan..”

“Sssh, jaga pembicaraanmu! Kau ini, sudah bertahun-tahun bekerja bersamaku masih percaya tahayul”

Secangkir teh datang, Wardi berlalu tak mau menunggu, hening sekejap menyergap. Rosje duduk mematung, tangannya mengetok-ketok ujung penanya ke meja. Gemetar. Sebagai seorang Belanda ia tentu tak mempercayai hal-hal berbau mistik dan klenik, tetapi ia merasa was-was jika kematian pekerja semakin banyak, maka produksi panen gula bisa terganggu, bahkan bisa bermakna akhir karirnya sendiri. Wabah ini mulai mengusik batinnya.

**

LANDCONFERENTIE TE TASIKMADOE

29-12-1915

Spanduk dari kain berwarna kuning dengan tulisan hijau itu sudah dibentangkan di depan pabrik, persis diantara dua tiang besi yang jadi gapura masuk ke areal suikerfabriek. Seminggu lagi konferensi dimulai. Diwartakan KRMT Panji Sumonegoro regent Sragen akan hadir sebagai pembicara.

Rosje beberapa kali pernah sowan ke kediaman beliau. Selain seorang regent5, Sumonegoro adalah ahli ilmu tanah dan tata air. Pengalamannya dalam mengelola lahan diakui brilian, beliau sebelumnya banyak mengisi seminar-seminar agraria untuk memaksimalkan hasil produksi. Bermacam tanaman wajib seperti kopi, cokelat, dan terutama tebu memang perlu perawatan khusus. Tasikmadu sendiri sebagai kawasan perkebunan masuk wilayah afdeeling Sragen maka tentu sah-sah saja jika nama beliau masuk dalam daftar pembicara utama. Rojse selain menjadi utusan pabrik, kerapkali juga membicarakan masalah kesehatan para tuan-tuan Eropa di Jawa dengan beliau. Sumonegoro juga terkenal punya beberapa dokter pribadi yang andal.

**

Nasib ternyata tak bersimpati pada Tasikmadu. Diluar pabrik seluruh desa terjangkiti wabah pes. Tak pernah ada yang tahu siapa yang membawa wabah ini ke areal pabrik gula. Kenyataanya. para pekerja semakin banyak yang mohon ijin tidak bekerja. Beberapa mereka terserang demam pes, beberapa yang lain menunggui keluarganya yang sakit. Penyakit ini merata di seluruh wilayah Tasikmadu, desa Ngelano yang paling parah. Minggu ini setiap hari setidaknya ada delapan orang meninggal dalam kondisi yang memprihatinkan. Dan yang paling meruntuhkan hati Rosje, bahwa maut datang pula menimpa Wardi.

Kaget mendengar kabar, malam itu juga Rosje bertandang ke rumah duka. Dengan sepeda kayuh pabrik ia bergegas. Rosje telak mengabaikan peringatan tuan D. Winter untuk sama sekali menghindari aktivitas selain di loji rumahnya dan pabrik gula. Dengan penerangan senter kecil ia sampai di rumah Wardi yang sudah penuh sesak dengan pelayat. Penduduk yang duduk-duduk di teras rumah seperti menyibak melihat kedatangan tuan Rosje. Suara tangis istri Wardi masih sayup-sayup di ruangan belakang. Sementara di ruang tengah jenazah Wardi ditutupi kain jarik batik berwarna cokelat diatas sebuah ranjang dari bambu.

“Wardi, wardi....” Rosje berdesis seraya membuka kain penutup jenazah. 

Di depannya kini terlihat jelas, wajah yang biasa sumringah di kantor itu kini menghitam dengan bau busuk yang cukup menyengat. Sembari menahan-nahan untuk tidak menangis, Rosje kemudian pamit sembari menghaturkan sebuah amplop berisi uang untuk keperluan ubarampe pemakaman. Sedikit tergesa kayuh kaki menuju loji, sepanjang tapak air matanya mulai berlinangan. Matanya semakin panas, amarahnya meruak. Dahinya mengernyit,

“Gila ini penyakit”, katanya dalam hati.

 *

Sesampai di loji sepeda disandar begitu saja dibawah teras. Lampu temaram kamar menerangi suara jari-jari yang bergemeletak. Kantuk luruh, seiring perasaan batin yang bergemuruh. Sebuah surat kawat diketik, isinya singkat dan sangat jelas.

 

Untuk Tuan D. Winter.

Tuan kondisi makin gawat besok rapat di pabrik pukul sembilan pagi

 

Seusai diberikan kepada pelayannya untuk dikirimkan, Rosje rebah di lubuk tidurnya, matanya nanar menatap selambu di langit-langit ranjang. Pejam.

Keesokan harinya rapat direksi digelar, setelah Rosje melaporkan keadaan, Tuan Winter lalu mengambilalih rapat dan segera memberi arahan-arahan atas situasi. Pabrik ditetapkan tutup untuk sementara waktu. Rosje mengawatkan edaran kepada camat, lurah dan veldpolitie supaya warga berhenti beraktivitas. Namun edaran itu dianggap angin lalu oleh pejabat lokal.

**

Dalam kamarnya yang temaram, Rosje menuliskan lagi sebuah laporan dalam secarik kertas. Setelah penanya berhenti menggores, kertas itu dilipat dan dimasukkan ke dalam sebuah amplop berwarna cokelat. Laporan itu bukan pertama kalinya dilayangkan ke kantor Veldpolitie1 di Karanganyar, kali ini yang kesebelas. Rosje mengantarkan sendiri suratnya.

Begitu sampai di sana, para polisi Jawa berkulit coklat itu malah menertawainya. Selepas seutas senyum dan sebuah anggukan, opsir tadi menerima dan langsung membuang amplop cokelat itu di tempat sampah ketika Rosje masih berdiri di depan meja sang opsir. Tawa meledak, seperti malapetaka yang terus datang kemudian.

Gelombang maut datang lebih hebat, bak gulungan-gulungan ombak datang silih berganti. Belasan penduduk mati setiap hari, jumlahnya terus membengkak. Veldpolitie yang abai opsirnya mulai bertumbangan. Meskipun, begitu mereka malah menyalahkan pabrik sebagai biang-kerok lelara ini. Sikap para opsir menjadi semakin acuh pada siapapun yang bekerja pada pabrik gula, apalagi Rosje seorang kulit putih.

Sepulang dari kantor veldpolitie Rosje membanting daun pintu ruangannya.

“Godverdomme!, Anjing memang orang-orang pribumi itu, aku sudah belasan kali memberi peringatan tak digubris, kini ketika semua terjadi mereka malah menuding balik pabrik, gila memang, gila dunia ini gilaa! ahhh”

Konferensi akhirnya batal digelar. Setelah beberapa kali rapat direksi Rosje terbaring sakit di lojinya. Wabah itu mengetuk pintu rumahnya. Nafasnya tersengal, tubuhnya menggigil dan kejang-kejang lalu terbuai lemas sepanjang hari. Setelah dua minggu tangannya busuk menghitam. Dalam pembaringan dengan terbata-bata ia menjawab pertanyaan seorang wartawan Bataviaasch Nieuwsblad.

Kondisinya makin memburuk hari berikutnya. Akhirnya nyawa Rosje tidak tertolong meskipun regent Sragen mengirimkan dokter terbaiknya. Kampung Nglano mulai reresik, membakari sebagian rumah yang disinyalir terkena tikus yang membawa virus Pes. 14 Januari 1916, koran memuat apa yang dibicarakan Rosje jelang kematiannya.

“de politie van de geteisterde kampong deugtblijkbaar, zij dient hos eer hoe beter geheel vervangen te worden6” demikian kesaksian Rosje.

 

***

 

 

1.   1. Suikerfabriek te Colomadu : Pabrik Gula Colomadu

2 2.Ambachtsschool : Sekolah kejuruan, setara SMP namun fokus pada keahlian tertentu

3. 3.Hulp-ziekenhuis : Puskesmas, klinik kesehatan biasanya milik perusahaan.

4. 4.Burgerlijk Geneeskundige Dienst : Dinas Kesehatan Masyarakat milik Pemerintah

Hindia Belanda dalam menanggulangi wabah Pes.

5. 5. Regent : Bupati

6.6.Polisi-polisi ini ditengah kampung yang porak-poranda karena kematian, kelakuan mereka ternyata ‘berbudi luhur’, mereka seharusnya diganti dengan yang lebih baik.


Cecerpen ini dikirimkan sebagai naskah lomba cerpen Kamarkata, Karanganyar dalam rangka bulan bahasa dan HUT Kab. Karanganyar dan berhasil menjadi Juara I.

 

 

Monday, December 28, 2020

Soto Ayam Lempuyangan

Pukul setengah tiga pagi, lipatan waktu menukik tajam ke edar pertama kali menyusuri sudut-sudut sepi sekitar stasiun ini. Banyak sekali memang yang berubah di malam sedini ini. Aroma sampah sudah tidak begitu terasa, tak ada lagi penjaja rokok ketengan dan air mineral, tukang ojek masih tetap terkantuk-kantuk di tempat mangkalnya, yang lainnya sibuk bercengkrama di emperan warung 24 jam yang penjual yang menahan kantuk yang sama. 

 Sudut timur dibawah jembatan layang sekarang, penuh dengan tukang ojek digital. Tempat yang dulu tidak akan mungkin demikian sepinya karena sering dijadikan ajang nongkrong dan tawuran anak muda. Segala perkelahian, cekcok karena urusan percintaan hingga mencorat-coret tembok sebagai aksi kebanggaan.

Pasar kembang kini juga sudah lengang, tak tampak lagi sampai di jalan besar wanita-wanita yang bergelut dengan hidupnya, hingga tubuh satu-satunya yang dimiliki dijadikan komoditas untuk dirinya sendiri. Sebuah pilihan-pilihan sulit yang mengunci manusia, yang nasib menggariskannya juga jauh pintu keluar dari genggam. 

Teracung genggam tangannya, seorang lelaki tua di dekat pintu keluar, bertopi warna orange lusuh, kulit yang legam terpanggang matahari menyiratkan kebuasan hidup yang dialaminya, juga rambut memutih yang sama sekali tak terawat. Matanya tertunduk ketika bertemu mata orang-orang yang dengan tangan diatas melemparkan koin-koin ke bekas kaleng cat yang tak kalah rapuh. 

Sekilas aku berani lagi menatap mata itu, dua biji mata yang kalah oleh kahanan, entah mengalami kepahitan hidup seperti apa kegetiran dan kesedihan tampak, hingga akhirnya menyerah. 

Lalu lalang seperti tiada henti kepergian-kepulangan nampak seperti tarian mesra sepasang kekasih yang bahagia, pekerja harian nampak lebih sigap meskipun tetap saja tak mungkin terlepas dari suasana kebosanan menjalankan rutinitas. 

Di depan pintu keluar kuli panggul adalah pekerjaan yang tak pernah hilang sejak pertama kali aku kesini, mereka yang dengan segala cara menawarkan fisik dan kekuatan mereka untuk membawakan barang sekedar ke pintu taxi atau mobil keluarga yang sudah menunggu, atau bagai gayung bersambut kemudian dioper ke tukang becak yang sudah bekerja sama jika ingin segera bergeser ke penginapan atau tujuan. 

Orkestrasi semarak nampak bagai dendang lagu Iwan Fals dari pengamen. Pengamen yang seorang anak, lelaki, sandalnya swallow biru, separoh diikat dengan tali rafia ujungnya, persis seperti nafas hidupnya yang tersengal, putus-putus menjalani nasib.

Matanya sangat tajam, bahkan penuh kemarahan, mungkin tersengat oleh bentrokan keadaan setiap harinya. Dengan gitar triplek sederhana yang juga berwarna biru, stangnya sudah melengkup di strap pada fret ke-5 menggunakan pensil yang diberi karet supaya kunci-kunci nada jauh lebih empuk di tangan yang sudah kumal karena nasib. 

Sambil menyeruput soto ayam di tikar yang sudah buram seperti spanduk lesehan, seorang bapak menunggu kereta bersama anaknya yang masih kecil. Anak kecil pengamen ini hanya memandangi dari kejauhan, kerongkongannya kelu akan kenikmatan soto kuah, namun recehan yang dia dapat tak cukup untuk membeli. Anak kecil pengamen ini pergi memutar lagi deretan ruko di depan stasiun ini. 

Satu demi satu, keping demi keping didapatkan diwadahi bungkus plastik biru relaxa yang entah dapat darimana. Celana jeans-nya sudah robek, sama mungkin dengan luka di hatinya yang tiada terkira sayatan-sayatannya. 

Sementara setiap sayatan ayam di soto bapak tadi disuapkan perlahan ke mulut sang anak, satu demi satu tampak sedikit kesusahan namun akhirnya tertelan juga. Sesendok kuah soto dibenamkan lagi ke mulut sang anak. Seperti udara kasih-kasih orang tua kepada anaknya, di ruko sebelahnya anak pengamen ini terus bernyanyi, bapaknya bukan orang tua, tetapi udara-udara panas dan bising dari kereta inilah orangtuanya, yang kasihnya meneduhi disetiap langkahnya. 

Jauh jalan yang harus kau tempuh, mungkin samar, bahkan mungkin gelap 

Kereta menuju timur sudah datang, dengan tergesa berniat membeli semangkuk soto tadi, tapi ini waktunya pulang kembali ke asalnya. Sambil menahan lapar, berharap kereta akan ramai dan banyak orang yang akan memberikan rejeki kepadanya, sambil menelan ludah dia menyiapkan lagi lagu-lagunya. 

Duduk sini nak, dekat pada bapak, Engkau lelaki kelak sendiri.... 

Dan kereta tidak begitu ramai, jatah untuk rokok polsuska sudah diberi, kesempatan mengamen digerbong selesai, di dekat kamar mandi antar persambungan gerbong, anak kecil ini menghitung recehannya, keping demi keping berharap masih ada sisa untuk menyambung hidup dirumah, diam-diam memberikan separuh lebih hasilnya untuk rumah, dan tentu semangkuk soto ayam. 

Namun semuanya tak sempat dimilikinya, karena terburu dipalak preman stasiun berikutnya. Lapar makin mendera, ingin melawan tapi kalah tua. 

Lelaki di warung kopi berjaket kulit, kumisnya tebal mirip Gombloh mengamitku. 

“Sini-sini dek, kata preman yang lain, sudah makan?” 
“belum, mau makan malah dipalak ten mrika” 
“Yu, soto ayam satu,” sambil tangannya mengacung pada lelaki necis yang berdiri tak jauh dari warung, lelaki inilah yang memalak hasil ngamen anak kecil. Lalu uangnya dikembalikan. 

 “Besok lagi kalo ngamen di daerah sini, bilang kamu anakku, namaku Jono, wes pokoe ngko aman.. ” 

Delapan belas tahun berlalu, kereta api sudah semakin bersih keadaannya dan lepas dari preman. Pak Jono entah kemana. Anak kecil pengamen ini kembali ke stasiun ini, dengan nasib yang jauh berbeda, memesan semangkuk soto ayam, yang dibalut dengan kelopak mata yang pedas karena waktu menggiringnya kepada kenangan, untuk mengucap syukur dan berucap sabar.

Lempuyangan, 26 Desember 2020 
I. Agusta

Wednesday, December 2, 2020

laguku?

Lagu-lagu seperti abadi di alam berfikir Jalma. Meskipun pelantun, penggubah maupun pembuatnya sudah bosan bahkan lupa.
.
Pendar ingat itu yang kemudian jadi memori mendalam bagi kita. Tema-suara dari sebuah peristiwa penting yang dengan kuat kita genggam supaya tidak ada dalih untuk membiarkannya hilang. 
.
Lihatlah semua lagu mendapatkan pendengarnya, setiap pertemuan menjumpai peluk insan yang berdendang.
.
Lagu kemudian menjadi tonggak waktu, ada yang kemudian berlalu, ada yang tetap tinggal. Dan banyak orang yang mencecap kenikmatan kata dan nada atas berartinya sebuah romansa.
.
Panggung-panggung riuh, dalam kaca mata dan mata berkaca-kaca, lihat itu anak manusia takut berlari, dan bertahan menggenggam kebaikan dan kebahagiaan yang terlewat.
.
Apakah kamu laguku selanjutnya?.
.
Sepasang mata itu memejam, dalam genggam, doa-doa akan waktu bermuara di ranjang suci Tuhan.
.
.
Indra Agusta 
Yogyakarta, 1 Desember 2020
#agustaisme