Dalam kamarnya yang temaram, Rosje
menuliskan sebuah laporan dalam secarik kertas. Setelah penanya berhenti
menggores, kertas itu dilipat dan dimasukkan ke dalam sebuah amplop berwarna
cokelat. Laporan itu bukan pertama kalinya dilayangkan ke kantor Veldpolitie1 di Karanganyar,
kali ini yang kesebelas.
-
Rosje
adalah seorang akuntan. Ia sebenarnya lahir di Batavia, namun, karena ayahnya ditunjuk
bekerja kepada Adipati Mangkunegara IV terkait sewa-menyewa lahan, maka ia kemudian
mengikuti jejak ayahnya ke jantung pulau Jawa. Tak berselang lama seusai lulus
kursus akuntansi di Djawatan Akuntan Hindia, Rosje dipekerjakan di suikerfabriek te Tasikmadoe2.
Pada
sebuah bangunan loji Belanda ia tinggal, di sebuah padukuhan Jawa bernama Ngijo
persis di sebelah timur Ambachtsschool3,
bersebrangan pula dengan hulpziekenhuis4.
Dari depan rumahnya Rosje bisa melihat lalu-lalang orang desa berjualan aneka
kudapan di sekitar pabrik atau memanggul kembang gula ke kota Karanganyar yang
jaraknya cuman satu pal. Setiap hari ia berjalan kaki menuju pabrik, sembari
melihat-lihat sekeliling pabrik yang rimbun dengan pohon Munggur. Kantornya
terletak tepat di dalam kompleks utama pabrik. Sebuah bangunan loji besar
bergaya indis, dengan tiang tinggi, pintu-jendela yang berukuran bersar,
lengkap dengan berderet pot bunga beraneka-ragam.
Ruangan
Rosje terletak diujung sebelah kiri, setelah meja pertemuan yang berada di
tengah ruangan. Setumpuk buku tagihan menjadi dekorasi utama ruangannya,
berderet pula laporan tahunan jumlah produksi tanaman, buku gaji karyawan,
hingga kumpulan faktur pajak kepada sang Adipati. Pekerjaannya setiap hari
hanya memastikan semua dokumen sudah diselesaikan dan terarsipkan dengan baik. Rutinitas
itu berulang, sesekali sebatang rokok mengepul di jarinya, untuk menghalau
kejenuhan. Hari-harinya datar, sampai suatu pagi Tuan D. Winter sang komisaris
pabrik mengharuskan dan datang mejanya.
“Rosje, bulan depan perusahaan kita jadi tuan
rumah konferensi pengolahan lahan, bung siapin ya, jangan malu-maluin
perusahaan, pastikan penyakit tikus sialan itu tak menjangkiti para tamu!”.
Enam
tahun lalu wabah pes memang sudah menerjang Surakarta. Konon, penyakit demam
itu ditularkan lewat tikus-tikus di seputar stasiun Sala Kasunanan Jebres. Kabar
baiknya wabah itu belum menjangkiti kawasan pabrik gula tempatnya bekerja.*
Jelang
acara, Rosje dibantu sebuah tim kecil yang dengan sigap menyiapkan segala
sesuatunya. Perihal mencari tempat inap untuk tamu di losmen terbaik di kota, ruangan
untuk bersantai, makanan, dan tak lupa jamuan minum untuk para tuan. Rosje memastikan
semuanya tak terlewat. Acara ini adalah perhelatan yang sangat besar, harus
sempurna, menurut Tuan Winter. Konferensi tersebut akan dibuka langsung oleh
tuan Residen Surakarta beserta Gusti Adipati Mangkunegara dan Sunan Surakarta
sendiri. Dikirimkannya pula surat perijinan dan pemberitahuan baik ke ke kantor
Burgerlijk Geneeskundige Dienst, pangreh praja setempat dan tentu saja opsir
polisi.
Namun
semakin mendekat tempo, banyak karyawannya dilaporkan jatuh sakit. Semula Rosje
tak menggubris, karena menganggap sakit panas biasa seperti yang sudah-sudah.
Hal itu berubah menjadi perhatian serius Rosje ketika seorang pekerja
dilaporkan meninggal. Bermula dari yang pertama, malaikat maut datang susul menyusul dan makin mengerikan.**
“Pagebluk
ini tuan Rosje, pagebluk ini, duh Gusti Pangeran, setelah tigapuluh tahun
Ngelano yang aman ganggas-waras kini
desa terkena hujaman rajapati lagi” Kata Wardi, asisten dengan
gemetar di meja ruangannya.
“Duduklah
dulu War, kau mau kubuatkan minum dulu?” tukas Rosje menenangkan asistennya.
Rosje
lalu berdiri keluar dari ruangannya, memanggil pelayan di dapur untuk
membuatkan Wardi secangkir teh lalu duduk kembali di mejanya.
“Rokok?”
tangan Rosje mendorong sebungkus kretek ke depan tempat duduk Wardi. Wardi
hanya menggelengkan kepala, sembari sesekali melemparkan sudut matanya pada
pemandangan pabrik di luar jendela kantor Rosje.
“Memang dulu ada pagebluk apa?”
“Kurang
paham tuan Rosje, yang jelas banyak yang mati karena demam dan bintik-bintik,
kata pak Demang namanya pagebluk cacar, saya masih kecil waktu itu, juga cerita
simbok, katanya banyak warga desa disini meninggal.
Apakah
ini kutukan, ya, tuan Rosje, atau malah ini firasat buruk pada konferensi besok,
atau malah ini lambang kejatuhan pabrik ini? saya takut tuan..”
“Sssh,
jaga pembicaraanmu! Kau ini, sudah bertahun-tahun bekerja bersamaku masih
percaya tahayul”
Secangkir
teh datang, Wardi berlalu tak mau menunggu, hening sekejap menyergap. Rosje
duduk mematung, tangannya mengetok-ketok ujung penanya ke meja. Gemetar.
Sebagai seorang Belanda ia tentu tak mempercayai hal-hal berbau mistik dan
klenik, tetapi ia merasa was-was jika kematian pekerja semakin banyak, maka produksi
panen gula bisa terganggu, bahkan bisa bermakna akhir karirnya sendiri. Wabah
ini mulai mengusik batinnya.
**
LANDCONFERENTIE
TE TASIKMADOE
29-12-1915
Spanduk
dari kain berwarna kuning dengan tulisan hijau itu sudah dibentangkan di depan
pabrik, persis diantara dua tiang besi yang jadi gapura masuk ke areal suikerfabriek. Seminggu lagi konferensi
dimulai. Diwartakan KRMT Panji Sumonegoro regent
Sragen akan hadir sebagai pembicara.
Rosje
beberapa kali pernah sowan ke kediaman beliau. Selain seorang regent5, Sumonegoro adalah
ahli ilmu tanah dan tata air. Pengalamannya dalam mengelola lahan diakui
brilian, beliau sebelumnya banyak mengisi seminar-seminar agraria untuk
memaksimalkan hasil produksi. Bermacam tanaman wajib seperti kopi, cokelat, dan
terutama tebu memang perlu perawatan khusus. Tasikmadu sendiri sebagai kawasan
perkebunan masuk wilayah afdeeling Sragen
maka tentu sah-sah saja jika nama beliau masuk dalam daftar pembicara utama.
Rojse selain menjadi utusan pabrik, kerapkali juga membicarakan masalah
kesehatan para tuan-tuan Eropa di Jawa dengan beliau. Sumonegoro juga terkenal
punya beberapa dokter pribadi yang andal.
**
Nasib
ternyata tak bersimpati pada Tasikmadu. Diluar pabrik seluruh desa terjangkiti
wabah pes. Tak pernah ada yang tahu siapa yang membawa wabah ini ke areal
pabrik gula. Kenyataanya. para pekerja semakin banyak yang mohon ijin tidak
bekerja. Beberapa mereka terserang demam pes, beberapa yang lain menunggui
keluarganya yang sakit. Penyakit ini merata di seluruh wilayah Tasikmadu, desa
Ngelano yang paling parah. Minggu ini setiap hari setidaknya ada delapan orang
meninggal dalam kondisi yang memprihatinkan. Dan yang paling meruntuhkan hati
Rosje, bahwa maut datang pula menimpa Wardi.
Kaget
mendengar kabar, malam itu juga Rosje bertandang ke rumah duka. Dengan sepeda
kayuh pabrik ia bergegas. Rosje telak mengabaikan peringatan tuan D. Winter
untuk sama sekali menghindari aktivitas selain di loji rumahnya dan pabrik gula.
Dengan penerangan senter kecil ia sampai di rumah Wardi yang sudah penuh sesak
dengan pelayat. Penduduk yang duduk-duduk di teras rumah seperti menyibak
melihat kedatangan tuan Rosje. Suara tangis istri Wardi masih sayup-sayup di
ruangan belakang. Sementara di ruang tengah jenazah Wardi ditutupi kain jarik
batik berwarna cokelat diatas sebuah ranjang dari bambu.
“Wardi,
wardi....” Rosje berdesis seraya membuka kain penutup jenazah.
Di
depannya kini terlihat jelas, wajah yang biasa sumringah di kantor itu kini
menghitam dengan bau busuk yang cukup menyengat. Sembari menahan-nahan untuk
tidak menangis, Rosje kemudian pamit sembari menghaturkan sebuah amplop berisi
uang untuk keperluan ubarampe
pemakaman. Sedikit tergesa kayuh kaki menuju loji, sepanjang tapak air matanya
mulai berlinangan. Matanya semakin panas, amarahnya meruak. Dahinya mengernyit,
“Gila
ini penyakit”, katanya dalam hati.
*
Sesampai
di loji sepeda disandar begitu saja dibawah teras. Lampu temaram kamar menerangi
suara jari-jari yang bergemeletak. Kantuk luruh, seiring perasaan batin yang bergemuruh.
Sebuah surat kawat diketik, isinya singkat dan sangat jelas.
Untuk Tuan D. Winter.
Tuan kondisi makin gawat
besok rapat di pabrik pukul sembilan pagi
Seusai
diberikan kepada pelayannya untuk dikirimkan, Rosje rebah di lubuk tidurnya,
matanya nanar menatap selambu di langit-langit ranjang. Pejam.
Keesokan
harinya rapat direksi digelar, setelah Rosje melaporkan keadaan, Tuan Winter lalu
mengambilalih rapat dan segera memberi arahan-arahan atas situasi. Pabrik ditetapkan
tutup untuk sementara waktu. Rosje mengawatkan edaran kepada camat, lurah dan veldpolitie supaya warga berhenti
beraktivitas. Namun edaran itu dianggap angin lalu oleh pejabat lokal.
**
Dalam
kamarnya yang temaram, Rosje menuliskan lagi sebuah laporan dalam secarik
kertas. Setelah penanya berhenti menggores, kertas itu dilipat dan dimasukkan
ke dalam sebuah amplop berwarna cokelat. Laporan itu bukan pertama kalinya
dilayangkan ke kantor Veldpolitie1
di Karanganyar, kali ini yang kesebelas. Rosje mengantarkan sendiri suratnya.
Begitu
sampai di sana, para polisi Jawa berkulit coklat itu malah menertawainya.
Selepas seutas senyum dan sebuah anggukan, opsir tadi menerima dan langsung
membuang amplop cokelat itu di tempat sampah ketika Rosje masih berdiri di
depan meja sang opsir. Tawa meledak, seperti malapetaka yang terus datang
kemudian.
Gelombang
maut datang lebih hebat, bak gulungan-gulungan ombak datang silih berganti.
Belasan penduduk mati setiap hari, jumlahnya terus membengkak. Veldpolitie yang abai opsirnya mulai
bertumbangan. Meskipun, begitu mereka malah menyalahkan pabrik sebagai
biang-kerok lelara ini. Sikap para opsir menjadi semakin acuh pada siapapun
yang bekerja pada pabrik gula, apalagi Rosje seorang kulit putih.
Sepulang
dari kantor veldpolitie Rosje
membanting daun pintu ruangannya.
“Godverdomme!, Anjing memang orang-orang
pribumi itu, aku sudah belasan kali memberi peringatan tak digubris, kini
ketika semua terjadi mereka malah menuding balik pabrik, gila memang, gila
dunia ini gilaa! ahhh”
Konferensi
akhirnya batal digelar. Setelah beberapa kali rapat direksi Rosje terbaring
sakit di lojinya. Wabah itu mengetuk pintu rumahnya. Nafasnya tersengal,
tubuhnya menggigil dan kejang-kejang lalu terbuai lemas sepanjang hari. Setelah
dua minggu tangannya busuk menghitam. Dalam pembaringan dengan terbata-bata ia
menjawab pertanyaan seorang wartawan Bataviaasch
Nieuwsblad.
Kondisinya
makin memburuk hari berikutnya. Akhirnya nyawa Rosje tidak tertolong meskipun
regent Sragen mengirimkan dokter terbaiknya. Kampung Nglano mulai reresik,
membakari sebagian rumah yang disinyalir terkena tikus yang membawa virus Pes.
14 Januari 1916, koran memuat apa yang dibicarakan Rosje jelang kematiannya.
“de politie van de
geteisterde kampong deugtblijkbaar, zij dient hos eer hoe beter geheel
vervangen te worden6” demikian kesaksian Rosje.
***
1. 1. Suikerfabriek
te Colomadu : Pabrik Gula Colomadu
2 2.Ambachtsschool
: Sekolah kejuruan, setara SMP namun fokus pada keahlian tertentu
3. 3.Hulp-ziekenhuis
: Puskesmas, klinik kesehatan biasanya milik perusahaan.
4. 4.Burgerlijk
Geneeskundige Dienst : Dinas Kesehatan Masyarakat milik Pemerintah
Hindia Belanda
dalam menanggulangi wabah Pes.
5. 5. Regent
: Bupati
6.6.Polisi-polisi
ini ditengah kampung yang porak-poranda karena kematian, kelakuan mereka
ternyata ‘berbudi luhur’, mereka seharusnya diganti dengan yang lebih baik.
Cecerpen ini dikirimkan sebagai naskah lomba cerpen Kamarkata, Karanganyar dalam rangka bulan bahasa dan HUT Kab. Karanganyar dan berhasil menjadi Juara I.