image1 image2 image3 image4

MENATA HATI|MENYAMBUT GERHANA PERADABAN|MENJENGUK MALAM DI SEPI REMBULAN|MENUNGGU PAGI|SANG PIJAR DARI UFUK TIMUR

Monday, September 21, 2026

Denial tapi pingin eksis

Media terus memaksa manusia mengkonsumsi konten, lautan konten ini mengubah manusia menjadi semacam mahkluk yang hybrid, di satu sisi ia butuh panggung viral dan eksis, pada lain sisinya ia adalah bagian dari manusia purba yang bakal kering jika interaksinya hanya dilakukan melalui jaringan tanpa bertemu. 

Mentalnya yang berubah jika jarak antara kasunyatan, kebutuhan sosial serta capaian media sosialnya timpang. 

Orang kerap menolak apa yang ingin ia capai tapi sekaligus tak ingin kehilangan. Orang menolak stigma tapi haus validasi. Kepalsuan² itu dibiarkan begitu saja terjadi. Mungkin sebagai dalih pembenar, mungkin sebagai bahan untuk berbohong, mungkin juga dihantam oleh sistem, kekuasan, atau relasi tertentu yang membuat alternya jadi unik.

Manusia² hybrid ini kemudian jadi bopeng sebelah. Tak ada yg menyenangkan hatinya kecuali kediriannya, keegoisan diri dan bertindak semau²nya. 

Ia yang semau²nya ini kemudian menyalurkan pada kemungkinan lain. Baik pada orang yang harus ia jaga pada relasi menguntukan, atau menjaga jarak aman hubungan dengan memperbanyak kebohongan. 

Anonimitas misalnya, sekilas memang memberikan kebebasan (tapi semu) seakan dunia bekerja tanpa ada jerat pengikat serta sistem kontrol sosial. Padahal pengguna2 media ini juga tahu bahwa platform² itu bisa saja mengkoleksi preferensi tiap pengguna. Menentukan apa yang ia senangi, dan menyesuaikan alogaritma supaya pengguna terus menerus terbuai oleh alogaritma.

Tapi mengapa user tetap nyaman? Jawabannya karena platform diam, bahkan bukan human entities yang memberikan sensasi keamanan semu, seolah bebas, tak terpantau, aman padahal jauh lebih berbahaya. 

Sedangkan pertemuan² fisik makin berkurang. Hal ini tentu tak bisa dihilangkan begitu saja. Kebutuhan manusia untuk bertemu manusia lainnya mungkin bisa diganti dengan media, tetapi kebutuhan untuk bertemu dengan mahkluk yang seolah² "bernyawa" jadi alternatif berikutnya. 

Jika dulu ketika media sosial didesain sebagai media komunikasi, ajang berbagi, lalu tombol like mengubah semuanya. Akselerasinya makin kencang. Tombol ini membuat pengguna merasa "ada", sesuatu yang mungkin di dunia nyata tidak bisa ia dapatkan, atau karena perasaan rendah diri terus menerus denial atas apa yang telah dimilikinya. 

Generasi akhirnya geser ke media sosial sebagai saluran eksistensi diri.

Jarak aman semu yang dicipta platform terus memberikan rasa aman, bahkan nyaman. ID Id yang semula terpantau namanya kemudian jadi generasi zero posting. Sepintas ini seperti baik karena menjaga privasi, tetapi ini dua mata pedang. Media sangat bisa menutupi watak asli dari manusia di balik layar. 

Ada hasrat eksis juga, juga kesombongan juga. Ingin memantau tapi tak ingin dipantau, ingin melihat postingan orang lain tapi dirinya malas diawasi. Sudah berlagak seperti intel KODIM yang seolah apa yang dimilikinya merupakan rahasia negara. 

Denial tapi pingin diakui. Denial terhadap kedirian tapi diam² suka juga dipuja, dan eksistensinya yang meraung² ingin diberi makan akhirya bocor jua keluar dalam ruang yang seolah privat dan intim itu. Padahal gak ada yang privat di internet. 

Gelombang berikutnya membuat orang² terus menunjukkan gejala antropomorphisme. Ini bukan barang baru, sejak lama manusia jika malas dengan orang, atau sudah cukup memahami sesuatu ia kerap meletakkan sebuah kondisi dalam metafor-metafor. Sebagian besar lain mulai mencocokan dirinya dengan karakter tertentu dari hewan, lalu berkembang menjadi wayang, kartun, idol, dan kini jaman menyedian sebuah cermin raksasa bernama Kecerdasan Buatan a.ka AI.

AI adalah sesuatu seolah bernyawa paling mutakhir yang mampu membuat orang menyerahkan diri sepenuhnya datanya. 

Jaman medsos awal orang² sudah jengah dengan keluarga, tetangga dan sirkel akhirnya menyandarkan saran² pada postingan FB. Lalu berkembang jadi bisnis quote, berikutnya orang² kusyuk mendengar pakar lalu celahnya diambil influencer yang kerap asal posting. 

Harari memungkasi puncak jaman internet dengan istilah "Tuhan Google", hal ini sangat masif hingga ke desa-desa orang menyebut apapun bisa ditanyakan ke Mbah Google. Ungkapan ini bisa muncul bahkan dari generasi yang sama sekali tidak bisa menggunakan platform tersebut. 

Kini, AI beneran menggantikan "Mbah Google" sebagai saluran bertanya. Barang seakan anonim ini merekam lebih jauh preferensi pribadi. Penyakit, gejala kejiwaan, selera, nama gebetan/selingkuhan hingga obsesi² gelap yang tak bisa ditampilkan karena alasan norma seperti melakukan pembunuhan, bunuh diri efektif serta hasrat buas manusia lainya. 

Sebagian hasrat² ini diam² dinanti manusia tapi tak tersalurkan, atau kebebasannya direbut sistem. Dan ketika meledak akan memberikan dampak signifikan pada sosial, justru karena penggunanya benar² menyerahkan nasibnya pada alogaritma yang kebenaran datanya berdasarkan pada data yang telah terekam. 

Hal seperti ini mungkin akan jadi senjata politik jua suatu hari. Kebuasan² manusia, saluran² deras dari mampetnya hidup, dan ilusi kebebasan mencipta sebuah monster yg rakus, egois dan dapat dikendalikan tanpa menyentuh langsung manusianya. 

Hegemoni berikutnya tercipta dan menciptakan kesadaran baru akan pengorganisasian via data yang ironisnya semuanya dioperatori dengan baik oleh manusia² secara nyata, perintah pada mesin dan kemunculan respon. 

Rasa denial terhadap kasunyatan kemudian berubah menjadi tsunami. Semoga tidak datang terlalu cepat di tahun politik yang makin dekat.


#agustaisme


Tuesday, September 15, 2026

Depresi, Ekspresi dan Menanti Keajaiban

Dalam hidup seringkali kita akan mendapati saat-saat dimana sudah sangat mentok, sudah tak mungkin lagi mencari solusi. Lalu, ketakutan demi ketakutan akan masa depan itu muncul. Kegelisahan, kekhawatiran dan kegamangan dalam menerka hidup memberikan kita sebuah gejala lain dalam hidup. 

Responnya tentu lain satu orang dengan lainnya. 

Ada yang dengan tatag menghadapi karena sudah terlanjur lahir tanpa bisa menawar keadaan, adapula yang mengurung diri, sebagian lainnya keleleran seperti tikus yang kehilangan pijakan, jiwanya hanya berlalu-lalang tanpa tahu arah dan tujuan hidup. Sebuah perjalanan absurd yang mungkin tak kemana-mana namun terasa sangat jauh dalam pikiran.

Ketika makin memuncak beberapa orang akhirnya memutuskan cut-off dari sirkel, ketidakmengertiannya akan nasib, keengganannya diterka, atau ketidakbecusan dia mengolah diri sendiri akhirnya memunculkan ego denial terhadap apa yang ia alami. Fase itu memang harus terjadi, seseorang menolak keadaaan buruk dirinya karena tahu ada kondisi lebih ideal di luar sana membuat dia selalu melakukan penolakan terhadap apa yang dilontarkan kepadanya. 

Akhirnya bisa ditebak, apakah manusia ini akan segera melakukan penerimaan diri-- dengan segala konsekuensinya, gila, dan atau melakukan bunuh diri karena kontrol kejiwaan yang sungguh tak mampu ia kendalikan lagi dan harapan seakan matinya jasad akan mengakhiri penderitaan. Halaman gelap itu datang menghujam.

Kalap terhadap nasib ini sering tak bisa diurai karena tidak lagi mempercayai orang lain sebagai penenang, sebagian kasusnya terhenti tidak ditangani serius oleh dokter tentu saja karena mahal, ribet, dan hasrat mengurung diri yang terlampau hebat. Kasus-kasus yang lain juga mencakup urusan sosial. 

Di alam dunia timur ini orang tidak mau ke klinik jiwa justru karena takut stigma kegilaan jiwa dialamatkan pada dirinya. Sangsi sosial yang sebenarnya belum tentu terjadi ini kerap jadi teror menakutkan, pilihan antara memasrahkan nasib kejiwaannya pada paramedis akhirnya kalah dengan keangkuhan diri--yang sebenarnya merupakan respon error psikis dari daya survival yang tengah berlangsung. Daya bertahan agar terus hidup ini berubah jadi egosentris karena diri merasa cukup dan tak perlu bantuan orang lain, apalagi ketakutan akan "cap" yang ditaruh pada jidatnya jika publik tahu ia butuh bantuan. 

Lalu menolak semua yang akan menolongnya.

Pada saat yang bersamaan hidup harus jalan terus. Minum, makan, bekerja, mendapatkan deadline, tekanan-tekanan dari internal keluarga maupun dari sirkel. Jika kondisi jiwanya tidak beres dan tetap merasa biasa saja, biasanya dalam waktu cepat si manusia ini berubah baik dalam perilaku maupun responnya terhadap sosial. Kepalsuan-kepalsuan, topeng, dan serta amarah yang sesekali meledak terlihat di kala obrolan menganggu langsung apa yang jadi sebab depresinya. 

Kondisi negara yang buruk, sindrom paska kolonial, warisan orba, kemiskinan dan pemiskinan, serta krisis ekonomi membuat kondisi kejiwaan warga negara ini makin menjadi-jadi. Banyak orang yang ketika awal kenal biasa saja ketika ditelisik lebih dalam terang menunjukkan ketidakbecusannya dalam mengelola jiwa, kegilaan yang tersamar namun terlihat melalui logika yang meloncat-loncat, kalimat-kalimat yang tak efektif serta gestur ketika dialog mulai naik level. 

Biasanya mereka ini merasa hidupnya baik-baik saja, dan mulai menyalahkan societas di sekelilingnya atas kerumitan yang sebenarnya berakar dari dalam dirinya sendiri. Terlalu gampang swipe, cut-off, atau menyertakan label toxic pada liyan. Dan harga dirinya kurang mampu untuk melakukan oto-kritik. Sehingga societas makin chaotic, ditambah dengan fenomena doom-scrolling buat mereka yang mengurung diri ini, berlagak introvert padahal sedang bermasalah. 

Kerumitan demi kerumitan itu akhirnya nyrimpeti banyak orang. Mindfull lala lili itu akhirnya tak menjawab, memang yang dibutuhkan manusia seperti ini akhirnya saluran yang lebih keras. Baku hantam, fitnah, reseh. Atau mungkin sebaliknya, ia butuh keajaiban. Kekeringan batin, dan kemarau hidup itu butuh sesuatu yang lebih spiritual, butuh manusia untuk bercerita, serta butuh alam dan Tuhan tentu saja. Tapi manusia kerap sombong, belum selesai jika belum nabrak. 

Maka, carilah keajaiban itu. Bukan di luar, tapi di dalam dirimu sendiri, dalam ruwet pikiranmu itu, serta

bertahanlah sedikit lebih lama.

Temui orang, bicarakan keluh kesahnya, mengurung diri hanya akan mempercepat kegilaan dan bunuh diri.

***

Hal-hal ini pernah kualami cukup lama, mungkin selepas lulus SMA di usia belasan hingga 32 tahun. Dan ini kasusnya tentu personal, sangat subjektif, tapi tulisan diatas itulah rekaman semuanya. Baik di dalam diri sendiri maupun orang lain, baik ketika aku melakukan penyelesaiannya sendiri, dengan jalan ketemu teman-teman filsafat, psikolog, maupun dengan jalan bertemu guru-guru spiritual secara kusyuk dan sungguh. 

Sisanya kemudian merelakan diri diterkam angin malam, cinta, dan mata-mata kawan yang terus berada di kiri kanan. 

Ora gampang. Semoga selamat. 

Manut Yesus:

"Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”


Surakarta, 15 September 2026

Ign. Indra Agusta

Friday, September 4, 2026

Jauhi Cartesians, tebarlah ayat

Frengki ke Sala lagi. 

Setelah sekian lama geser ke timur jadi wakasek di sekolah seni², ia pulang. Tetap kemaki, ceplas-ceplos seperti biasanya namun seiring waktu keangkuhannya atas rasio melunak. Ada hal² yang tak mungkin ditemukan di buku, jurnal, konten, atau video pendek medsos. Segala hal nyata <offline>  yg lesap sebagai pengalaman. 

Dia mengkritik saya cukup tegas, sambil menyodorkan teks pidato guru besar sastra Prof. Faruk Tripoli di UGM. Ada bagian yang menurutnya penting untuk kulakukan di umur segini: harus mulai berani keluar dari diagram axis Cartesians.  Mulai luaskan jauh dari sekedar rasio x,y, & z dan mulai menjangkau halaman lain yang butuh lelaku. Seperti rasa, nuansa, empati,  hawa, dst.

Frengki belum membaca tulisan ultah saya yg ke-36. Intinya tep sama, aku harus lebih berani ngomong² yang sedikit ayat, spiritualitas, serta opini yg muncul karena pengalaman pribadi. 

Kali ini dia benar, saya nyaris tak mau berbantahan seperti biasanya. Setelah kurenungkan lagi, benar juga, mengapa saya kurang berani membicarakan pengalaman batiniah begini, setelah mengunyah banyak teori, bacaan, buku² tebal, berbincang dengan banyak guru-guru. 

Apakah sudah saatnya? Melempar begitu saja kalam-kalam yang batiniah² ini. 

Teguran Frengki ini menarik, saya tidak tahu dia kesambet apa, kalau yang ngomong kawan² yg bergiat di pesantren atau gereja atau padepokan oke, lha ini Frengki agamanya ki rasionalitas. Apakah dia juga mulai tua dan semeleh, lalu membiarkan yang kiri² dan melawan itu bertranformasi menjadi bentuk lain seperti beberapa ilmu yg kupelajari dari para guru. 

Saya pernah mempelajari bagaimana kendali otak manusia terus berkembang seiring usia yang menua akan mulai melunak, dan agak spiritual. Hal ini bukan karena agama (saja), tetapi pengalaman hidup dan tinggal di nusantara akan memungkinkan jalan hidup menuju demikian.

Bongkah² itu harus dilempar begitu saja, pisaunya bisa menancap ke segala arah, termasuk diriku sendiri. Tapi bukankah demikian, setiap kebijaksanaan lahir dari kumpulan proses secara nyata dan mengalami banyak kesusahan². 


Mungkin sejak malam itu, aku makin berani berubah mode jadi yang sebenarnya batiniahnya begitu, tapi dulu pernah dikritik karena masih terlalu muda untuk memberi nasehat.

 

Jika ini memang waktunya, maka, marilah kita selesaikan. Tapi jangan tiba² spiritual, rasio lebih dulu. Jangan karena kebodohan dan kemalasan tiba-tiba jadi sok nyipiritual, bukan gitu cara mainnya.


#agustaisme

@frengkifariyapratama


Foto: Frenki di basecamp Sraddha Sala, credit foto  @chintami_tiwi

Saturday, August 29, 2026

Ombak harian

Semakin menua hidup kita selalu diliputi tegangan, mungkin itu yang membuat kita cepat beruban dan keriput. Nyaris tak pernah berhenti hal² yang membuat kita kebingungan mengatasi segalanya. Kehilangan, ketidakmampuan, kebimbangan, kehampaan kadang bebarengan datang di sela kegiatan. 

Rasa khawatir turut pula datang, gak punya duit misalnya, itu selalu jadi momok banyak orang. Dunia yang serba transaksi ini memang membutuhkan kapital finansial lebih agar mapan dan bisa lebih luwes bergerak. 

Ada yang selalu membuat berdebar ketika peristiwa yang tak dinyana² terjadi, dan harus mengeluarkan uang lebih untuk hal yang tidak kita inginkan. Tapi kerap muncul solusinya juga. Dan benar² datang dari arah yang gk kita ketahui. 

Hal² itu seperti klenik, ia menjelma begitu saja sebagai jawaban. Di umur segini, kerjaannya gak jelas, gelar tak punya, ketrampilan pas2an, dan tenaganya dah jauh surut daripada ketika lulus SMA. Apinya membesar tapi wadagnya mengecil.

Ada paradoks² nasib yang demikian. Ombak itu terus menggetarkan, kadang sepagi ini, ketika mata belum kantuk, lalu pikiran nggrambyang kemana². Memikirkan esok yang entahlah. 

Dan anak manusia tetap anak manusia.

Wednesday, August 26, 2026

Pemurnian

Ketika SMP di era orde baru masih sering menikmati tradisi ala-ala militer dalam dunia perkemahan. DIbentak-bentak, dibangunkan malam buta, diajak bergeser cepat, packing dan menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat cepat dan taktis. Hal ini di beberapa tempat kemudian diadopsi sebagai metode pendidikan terbaik untuk mengajari manusia awareness

Situasi-situasi ini masih berlangsung sampai ketika orde baru tumbang. Militerisme belum beneran hilang, ospek, MOS, dan segala yang  jenis pendidikan masih mengadopsi gaya semi-militer. Hal itu nanti akan berkembang di sekolah-sekolah (terutama SMK) karena dinilai cukup efektif untuk mendisiplinkan bocah guna menunjang kebutuhan industri. 

Sistem-sistem ini terus berjalan.

Ada ruang-ruang lain yang terus diwariskan secara personal namun luput diamati apalagi diselesaikan. Generasi paska orde baru yang penuh kebebasan akhirnya berbenturan dengan generasi sebelumnya yang full disiplin. Benturan ini tidak terelakan, generasi yang bebas ini memang lebih ceria dan cerdas, apalagi nanti setelah internet memasuki ruang dimana mereka tinggal. Informasi bak air bah menggulung siapapun yang menggunakannya. 

Orang-orang tua kemudian mewariskan watak. 

Banyak generasi baru yang menjadi sangat bebas sekaligus menjadi sangat fasis di sisi lain. Dalam hatinya ingin bebas tapi ia akan meletakkan daya kekang yang tajam pada pasangannya. Pada orang-orang yang paling ia cintai. Perasaan merasa memiliki itu tidak tersalurkan dengan baik, lalu muncul hasrat protektif dengan beragam resikonya. Efek-efek pendisiplinan bahkan sampai level menindas itu akhirnya muncul. Tak peduli gender semua  bisa berkemungkinan. 

Nalar mendisiplinkan ini bisa jadi karena kekosongan kuasa dari si subjek, power yang tak tersalurkan itu akhirnya dihantamkan begitu saja pada pasangan,lalu kepada anak, jika masih tak puas lagi kepada cucunya. Otoritarianisme muncul dalam skup paling kecil bernama hubungan individu. 

Banyak yang tersiksa namun bertahan, adapula yang menikmatinya sebagai sebuah kenikmatan. Kenikmatan ditindas. Setelah perilaku protektif terjadi dan membiarkan manusia hanya hidup untuk pasangannya, lalu si subjek akan kehilangan pertemanan dan jaringannya, atau mulai menjauh karena sadar kondisinya telah berbeda.

Si subjek yang sudah tak punya apa-apa lagi ini kemudian didesain untuk tergantung pada pasangannya, lalu penguasaan berikutnya terjadi. Tindakan-tindakan lain mengikuti berikutnya, ada pula yang terwariskan sampai level keluarga. Anak-anak yang tak pernah ketemu guru lain di kehidupannya, atau sudah merasa cukup dengan pemahamannya sendiri tanpa sadar kemudian meneruskan perilaku ini. Akibatnya keluarga-keluarga hancur makin banyak lagi di generasi berikutnya. 

Pemurnian-pemurnian ini terus menggejala, dan seringkali dianggap hal biasa. Seperti lelaki tak boleh menangis, wanita kodratnya memang ngurus domestik, atau misalnya anak harus tunduk pada orang tua meskipun orang tuanya salah. Halaman hidup seperti ini terus mengisi alam republik yang katanya demokrasi. 

Karena terlalu sering, saya akhirnya terus melihat banyak kebaruan lain. Bentuk lainnya hal ini kemudian bisa dijadikan jurus untuk saling mengunci satu sama lain, jika masih bersama diam saja, jika pisah segala keburukan keluar. Lalu hal-hal buruk terus terjadi. Kita selalu berkisar diantara mereka.

Nampaknya masih akan terus berlangsung beberapa puluh tahun ke depan, apalagi urusannya cinta, manusia selalu bebal jika urusannya ini. Dan membiarkan dirinya dalam banyak sengsara yang tidak perlu, sekaligus tak mau memanggul kesengsaraan dalam frame yang lebih luas, untuk orang lain misalnya. Bukan ingin menjadi saviour, tetapi agar hidup terus bermanfaat itu saja. 

Monday, August 24, 2026

Belokan tajam lagi

 Seiring menua seringkali manusia makin keras kepala kepada dirinya. Seiring itu pula dengan mudah gampang ditipu daya dengan berbagai macam hal. Hal-hal yang menurut dia masuk akal tetapi sebenarnya tidak, dan tipuan-tipuan itu begitu rupa membingungkan manusia. 

Anak manusia yang tengah bimbang kerap menyandarkan diri pada satu versi kebenaran yang masuk di akalnya, kerappula mencari-cari pembenar dari apa yang sedang ia kerjakan. Ia kemudian memasrahkan total sampai keadaan terjadi sebaliknya. 

Kadangkala saya sudah tahu itu akan terjadi, tetapi, saya membiarkannya dan terus menerus mengekang diri untuk tidak terlalu campur tangan terhadap apa yang dialami anak manusia lain. Ketika semuanya terjadi, kadang merasa bersalah sendiri mengapa tidak menghardik ketika perasaan itu muncul. Dan manusia sama-sama bebal, ia tidak pernah mau mengerti akan keadaan yang dihadapinya, serta selalu mengikuti apa yang jadi kekarepan hatinya. 

Ekosistem kemudian terganggu, dia yang hidup untuk dirinya sendiri ini merusak jaring perkawanan hanya karena takut menghadapi kenyataan yang ia hadapi sendiri. Hanya karena pengecut kenapa ia terus menerus bimbang. 

Kekalahan manusia selalu menimpulkan choping mechanism   rupa. Ada yang mengurung diri, ada yang berlagak tidak tahu, ada yang berbohong baik kepada diri sendiri maupun orang lain, adapula yang menyalahkan orang lain agar hubungannya dengan personal tertentu terus berada di posisi mutlak benar. 

Ruang jaman selalu merekam hal demikian.

Adalagi yang tak kuat pasti depresi, gila dan kerap berujung bunuh diri. Yang gila ini kerap merepotkan, ia tidak sadar bahwa dirinya gila dan kerap membabi-buta ketika kondisi kejiwaannya tidak segera tertangani dan merasa bahwa dirinya baik-baik saja. 

Tempo hari, ibu sambungku demikian. Ketika dia berpindah dari poli jantung karena jantung lemah ke poli jiwa, ia merasa bahwa dirinya sudah tak berharga di dunia ini. Merasa bahwa dunia baik-baik saja tanpa dirinya, dirinya jadi absurd dan sekaligus merepotkan sekelilingnya, bapak saya, dan saya secara tidak langsung. 

Hal ini berasal dari choping mechanism yang salah. Ia berlagak kuat akhirnya ketika jebol tidak bisa teratasi bahkan oleh nakes sekalipun. Yang bisa menyembuhkannya adalah dirinya sendiri, kemampuan untuk mengatasi diri dari banyak hal, serta menerima keadaannya sebagaimanapun buruknya. Karena jika ini tidak selesai ke depan akan menjadi masalah lagi, lebih lagi jika suatu hari ia jadi orang punya power, kehancuran demi kehancuran bisa terjadi karena pikiran yang kalut, yang tidak segera disadari ini akan jadi boomerang seiring waktu.

Ketika saatnya tiba, ia hanya akan jadi sampah. Mengelola dunia seperti sampah dan kehancuran lainnya. Mayat-mayat hidup itu rasanya makin banyak seiring jaman yang makin susah, perlambatan ekonomi yang makin menjadi serta geliat komodifikasi yang mengabaikan si papa. Jurang sosial yang makin jauh, dan makin jauh menyeret manusia pada keadaan yang tak pernah ia pahami.

Tuesday, July 7, 2026

Tigaenam

Mengitari matahari lagi, kali ini edar langit yang ketigapuluh enam. Rasa-rasanya hidup makin berserah, sumarah pada segala ketetapan dan nasib.  Ketakutan tentu menjalar tak mungkin hilang tetapi tetap saja syukur lebih dulu mendahului.

Malam ini, pada sebuah kedai bir di labirin memusingkan Pogung Jogjakarta mataku tertuju pada simbol yang telah lama aku kenal: Hati Kudus Yesus.

Simbol ini memang sering kulihat sehari-hari di pelbahagai tempat, sebagai tanda dan pengingat akan kasih Tuhan yang terus menyertai kita senantiasa. Malam ini memang agak melankolis. Mata-Nya terus memantau satu demi satu pekerjaan anak manusia, dalam perjalanan hidupnya, dalam segala lipatan-lipatan takdir yang mengitarinya.

Semakin tua dalam nonton banyak hal selalu dibuat takjub oleh segala dinamika-Nya, bahkan dalam beberapa kasus harus geleng-geleng kepala dan menekan-kan dalam hati: oh, begini cara kerjanya. Dia menjadi Maha Kuasa justru karena setelah kita berhitung dan sangat memaksimalkan apa yang kita bisa, kita simulasikan selalu ada hal yang berhasil melampaui prediksi. 

Ada lapis-lapis peristiwa hidup yang membuatku terhenyak, rasanya seperti diselamatan dari banyak hal buruk, diri terkulai lemah tapi ada sesuatu di dalam diri yang berupaya menguatkan. Serta terus dipertemukan dengan banyak hal baik. 

Anak manusia setua ini, yang lumayan punya kapasitas sensing  kuat, masih saja diungguli oleh kasih-Nya. Pembolak-balikan keadaan, kondisi hati makin terang hidup urusannya selain berhitung terus menerus adalah dilakoni, tatag dan gentle

Dalam kondisi demikian, apalagi kalau bukan rasa syukur yang diucapkan? selain itu semakin dewasa harus pula menaikkan rasa mawas dan wawas agar terus menerus kuat menjalani banyak hal dengan bening. Menaikkan rasa sabar, terus bersimpati dan menaruh empati. 

Kita ini lahir dari belas kasihan, apa alasannya untuk tidak saling mengasihi?

Rasanya seperti terlalu tua yak? di umur segini sudah mulai ngomong ketuhanan, tapi demikianlah rasanya. Ternyata pada keadaan seperti ini, dalam level kompleksitas tertentu kita selalu ditaruhkan, dan diuji nyalinya, dihantam lagi kesadaran dan kewarasannya guna menemukan hal-hal baik ini tak bisa terukur dengan logika. 

Bukan pasrah, dalam melakoni hidup harus  terus mendobrak segala kebuntuan, harus menjalani apa yang malas untuk dijalani sebagai sebuah kewajiban, tetapi adakalanya untuk bergeser dan mulai memasrahkan diri untuk membuka kunci berikutnya dalam hidup, bahwa segala sesuatunya memang tak mudah diamati. Ada perkenanan Tuhan, dan penyertaan Tuhan dalam segala hal.

Sebagian besar jika rasionya cukup kita akan bisa mengenali bagaimana pola-pola menggejala, tanda dan perilaku manusia selalu mencipta kondisi dari apa yang kita sebut aksi. 

Setiap aksi tidak kosong, ia selalu punya motif, struktur, dan 'mental mode' dari ia yang mencipta, atau serendah-rendahnya adalah upaya pertahanan terhadap hidup itu sendiri. Hal-hal seperti ini jika kemampuan, pengetahuan dan kecepatan membaca keadaannya bisa tersinkron lebih mudah terbaca. 

Beda halnya jika rasionya tak terukur, seringkali kita harus menempatkan satu atau beberapa pointing "arah" agar lebih memudahkan kemana langkah yang dituju. Ketika pencarian tak temu, kadang semesta menjawabnya dengan cara lain. Itulah kelemahan kita, ketidakmampuan kita menerka pola, struktur dan subjek penentu membuat kita sadar kebodohan kita. Atau mungkin itulah jalan lainnya, jalan yang mengantarkan kita pada penyertaan-Nya, perkenanan-Nya. 

Banyak orang bilang hidup harus berusaha itu betul, sebagian lain bilang orang hidup dari keberuntungan/hoki itu juga betul, tetapi ada ruang lain yang muncul selain dari usaha, dan hoki yang menyelinap diantara peluang-peluang. Lalu bagaimana yang bukan usaha dan bukan peluang? tapi terjadi dan menyambar pada takdir kita. 

Halaman hidup itu muncul di lintas edar ketigapuluhenam kali ini. Pernah ada satu-dua kali yang bertanya bagaimana bisa sampai sana, cara seperti apa untuk sampai situ, kok bisa? jika itu hal-hal sederhana mungkin akan lebih mudah menjawabnya, tetapi, jika itu hal kompleks dan yang dihadapi adalah kawan-kawan yang kurang mengerti bagaimana hidup anak manusia ini bekerja, akan sangat sulit menjawabnya. 

Ada banyak hal lain di luar sana, yang ketika kita terus berusaha, mengerjakan banyak hal, menemui banyak orang, lintas-lintas hal itu membuka banyak celah lain yang belum terbuka. Dan, dari situlah kadang keberkahan itu mengalir. 

Tentu saja tulisan ini bukan untuk membuat anak manusia malas, menyerah, serta berbagai alasan lainnya guna meninggalkan kemampuan yang telah diraih. 

Tulisan ini justru ingin menunjukkan, sejauh apapun kamu mengerjakan banyak hal akan ada horison lainnya yang terlihat, batas lain dari batas wajar yang telah diraih. Setiap karya, usaha, aksi-aksi bisa menaikkan manusia untuk menaikkan batas horisonnya, banyaknya pengalaman dan capaian memperbanyak peluang lalu keberuntungan mempercepat manusia naik horison.  Tetapi, ada yang sangat jauh di luar perkiraan, biasanya mengagetkan, dan daya ubahnya sangat tinggi. Dan itu adalah bentuk dari perkenanan-Nya. 

Karena daya ledak serta tegang-kejut dari hal ini kerap  luar biasa, maka, dibutuhkan kesiapan mental terhadap segala pengaruhnya pada nasib kita di dunia

Banyak yang tidak siap ketika naik, banyak pula yang gegap ketika njlungup. Jika mengutip Mbah Mus dalam cerpennya, manusia harus berhati-hati apabila mendapat cobaan berupa anugerah

Ya, anugerah itu sendiri tak selalu bermakna melenting, kerap capaian-capaian juga bisa untuk menguji manusia apakah ia sudah sepastasnya menyandang itu untuk kemudian pada levelnya melihat horison tertentu. Atau malah terlena dan jatuh oleh keangkuhan dan kecongkakan. Seperti mendapat sebuah kebenaran, meski itu kenyataan, banyak orang tidak siap menerima kebenaran. Apabila kebenaran itu disampaikan bagi manusia yang tidak siap, yang muncul hanyalah kehancuran yang tak perlu.

Horison atau ujung dari segala ini juga tak semua membawa pencerahan bagi para pencapainya. Jika mentalnya tidak siap ia bisa gila, mengurung diri, atau justru menolak semuanya. Butuh kesiapan wadag untuk menerima, serta kerendahan hati jika telah mencapai. 

Ruang-ruang jaman begitu rupa menjadikan anak manusia menemui banyak hal, kali ini, di tahun ke tigapuluhenam ada ritme lain yang menjadikan lebih sabar, dan memperbanyak tabah menghadapi banyak hal. Di depan sana, lautan makin terlihat luas, dengan horison menguning yang makin dekat dan manusia selalu berusaha agar makin waspada dalam membuang sauh. 



Jalma

Surakarta, Juli 2026