image1 image2 image3 image4

MENATA HATI|MENYAMBUT GERHANA PERADABAN|MENJENGUK MALAM DI SEPI REMBULAN|MENUNGGU PAGI|SANG PIJAR DARI UFUK TIMUR

Wednesday, August 26, 2026

Pemurnian

Ketika SMP di era orde baru masih sering menikmati tradisi ala-ala militer dalam dunia perkemahan. DIbentak-bentak, dibangunkan malam buta, diajak bergeser cepat, packing dan menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat cepat dan taktis. Hal ini di beberapa tempat kemudian diadopsi sebagai metode pendidikan terbaik untuk mengajari manusia awareness

Situasi-situasi ini masih berlangsung sampai ketika orde baru tumbang. Militerisme belum beneran hilang, ospek, MOS, dan segala yang  jenis pendidikan masih mengadopsi gaya semi-militer. Hal itu nanti akan berkembang di sekolah-sekolah (terutama SMK) karena dinilai cukup efektif untuk mendisiplinkan bocah guna menunjang kebutuhan industri. 

Sistem-sistem ini terus berjalan.

Ada ruang-ruang lain yang terus diwariskan secara personal namun luput diamati apalagi diselesaikan. Generasi paska orde baru yang penuh kebebasan akhirnya berbenturan dengan generasi sebelumnya yang full disiplin. Benturan ini tidak terelakan, generasi yang bebas ini memang lebih ceria dan cerdas, apalagi nanti setelah internet memasuki ruang dimana mereka tinggal. Informasi bak air bah menggulung siapapun yang menggunakannya. 

Orang-orang tua kemudian mewariskan watak. 

Banyak generasi baru yang menjadi sangat bebas sekaligus menjadi sangat fasis di sisi lain. Dalam hatinya ingin bebas tapi ia akan meletakkan daya kekang yang tajam pada pasangannya. Pada orang-orang yang paling ia cintai. Perasaan merasa memiliki itu tidak tersalurkan dengan baik, lalu muncul hasrat protektif dengan beragam resikonya. Efek-efek pendisiplinan bahkan sampai level menindas itu akhirnya muncul. Tak peduli gender semua  bisa berkemungkinan. 

Nalar mendisiplinkan ini bisa jadi karena kekosongan kuasa dari si subjek, power yang tak tersalurkan itu akhirnya dihantamkan begitu saja pada pasangan,lalu kepada anak, jika masih tak puas lagi kepada cucunya. Otoritarianisme muncul dalam skup paling kecil bernama hubungan individu. 

Banyak yang tersiksa namun bertahan, adapula yang menikmatinya sebagai sebuah kenikmatan. Kenikmatan ditindas. Setelah perilaku protektif terjadi dan membiarkan manusia hanya hidup untuk pasangannya, lalu si subjek akan kehilangan pertemanan dan jaringannya, atau mulai menjauh karena sadar kondisinya telah berbeda.

Si subjek yang sudah tak punya apa-apa lagi ini kemudian didesain untuk tergantung pada pasangannya, lalu penguasaan berikutnya terjadi. Tindakan-tindakan lain mengikuti berikutnya, ada pula yang terwariskan sampai level keluarga. Anak-anak yang tak pernah ketemu guru lain di kehidupannya, atau sudah merasa cukup dengan pemahamannya sendiri tanpa sadar kemudian meneruskan perilaku ini. Akibatnya keluarga-keluarga hancur makin banyak lagi di generasi berikutnya. 

Pemurnian-pemurnian ini terus menggejala, dan seringkali dianggap hal biasa. Seperti lelaki tak boleh menangis, wanita kodratnya memang ngurus domestik, atau misalnya anak harus tunduk pada orang tua meskipun orang tuanya salah. Halaman hidup seperti ini terus mengisi alam republik yang katanya demokrasi. 

Karena terlalu sering, saya akhirnya terus melihat banyak kebaruan lain. Bentuk lainnya hal ini kemudian bisa dijadikan jurus untuk saling mengunci satu sama lain, jika masih bersama diam saja, jika pisah segala keburukan keluar. Lalu hal-hal buruk terus terjadi. Kita selalu berkisar diantara mereka.

Nampaknya masih akan terus berlangsung beberapa puluh tahun ke depan, apalagi urusannya cinta, manusia selalu bebal jika urusannya ini. Dan membiarkan dirinya dalam banyak sengsara yang tidak perlu, sekaligus tak mau memanggul kesengsaraan dalam frame yang lebih luas, untuk orang lain misalnya. Bukan ingin menjadi saviour, tetapi agar hidup terus bermanfaat itu saja.