image1 image2 image3 image4

MENATA HATI|MENYAMBUT GERHANA PERADABAN|MENJENGUK MALAM DI SEPI REMBULAN|MENUNGGU PAGI|SANG PIJAR DARI UFUK TIMUR

Friday, October 30, 2026

Kos Pademangan



Setelah kesempatan umur habis untuk daftar PNS. Dari sirkel gereja Saya pernah join semacam pendidikan leader langsng kerja untuk toko komputer dan gawai, pusatnya di Mangga Dua Jakarta Utara. Ouput-nya akan dipasrahi beberapa toko di Malang dan SBY. Karena syaratnya yang penting memiliki kemampuan manajerial dasar dan troubleshooting saa kira saya mampu. Gas!.

Dua bulan diajari ini itu oleh owner Koh Lucky dan Cik Jenti. Tentu tak lupa asistennya Kang Ipon dan Dedy yang nanti mencarikan kos.

Kos ini di lantai 4, triplek, non-AC dan untuk Jakarta Utara ya begitulah. Kalau hujan dikit air mandinya jadi cokelat, yang membuat saya biasa mandi di mall sebelum ke kantor. Pemiliknya seorang perempuan tua Tionghoa saya lupa namanya, tapi sangat baik. Sering ngajak ngobrol, pernah saya sampai dalam cerita soal kerusuhan 98 di sekitar Jakarta Utara.

Dari kos Setiap hari jalan kaki dari Pademangan ke Mangga Dua, kalau pulang masih sore jalan kaki ke Kota Tua. Lalu melihat banyak kehidupan yg sangat keras nan gelap di Jakarta Utara. Melihat PSK mangkal, diajak gelut orang random juga pernah.

NAMUN, sebelum pelatihan selesai terpaksa saya harus balik ke rumah, Eyang Putri beneran gk bisa ditinggal dan tiap hari telfon nangis karena memang tak ada yg nunggu. Demikian, selalu berulang.

Realita hidup menyorong Saya butuh duit banyak untuk pengobatan kanker serviks Eyang putri tapi pada saat yang bersamaan ketika tengah bertarung di rantau harus terganggu justru oleh manusia kinasih yang saya bela² ini. Paradoks.

Hari² kerja lalu bimbang, galau, dan kaya orang gendeng naik TJ keliling tanpa tujuan, berganti² rute hanya untuk memutuskan balik nganggur lagi atau nekat kerja tapi Eyang Putri kesepian?

Kalau balik duitnya buat berobat darimana, kalau nekat kerja yang ngawasi eyang siapa. Mengingat Bapak juga dah lama nikah lagi dan pergi, serta Rendra masih kuliah belum selesai.

Puncak galau itu mengantar saya ke Maiyah Kenduri Cinta.

Jumat malam akhir Juni saya akhirnya ke #Maiyah Kenduri Cinta, di TIM. Duduk² bergabung dengan kaum urban lainnya, dan benar Maiyah memang oase. Di situ ada kalimat Cak Nun yang menguatkan.

Saya lupa kalimat beliau tapi intinya kalau di rumah tidak ada Ibumu (ya memang ibu saya dah meninggal), berarti siapa yang ngopeni di rumah itu Ibumu, yang harus diloyali tanpa batas. Bukan pacar, bukan teman, apalagi duit dan karir.

Pulang maiyahan subuh² itu membuat yakin betul saya pulang ke Sragen (Maturnuwun #CakNun). Di umur 24 dengan lantang bilang ke diri sendiri:" gak dadi apa² ya rapopo, sing penting wes pol²an iki usahane". Duit bisa dicari, ibu saya ya tinggal Eyang Putri ini gak selamanya bersama saya.

Senin pagi saya pamit, merelakan karir sebagai leader, serta kesempatan untuk dapat karir dan duit lebih besar. Pamitan saya ke Koh Lucky, lalu dibelikan tiket dari Gambir ke Jogja. Dan itu jadi perjalanan panjang yang membuat merenung sepanjang jalan.

Sengaja minta Jogja, Saya tak segera ke Sragen, untuk menguatkan mental lagi sebelum tempur lagi den segala yang terjadi di rumah.

"Anda jangan pernah cemas, karena kecemasan anda bisa membuat Allah berkesimpulan bahwa anda tidak percaya sama Allah.

Jangan sampai kita memiliki kecemasan apalagi sampai pada keputusasaan, sehingga Allah menyimpulkan bahwa kita tidak beriman kepada Dia dan tidak percaya kepada tanggung jawab Dia.

Karena Allah yang bikin kita, maka Allah yang tanggung jawab atas diri kita"


Emha Ainun Nadjib, Kenduri Cinta