image1 image2 image3 image4

MENATA HATI|MENYAMBUT GERHANA PERADABAN|MENJENGUK MALAM DI SEPI REMBULAN|MENUNGGU PAGI|SANG PIJAR DARI UFUK TIMUR

Wednesday, December 31, 2025

Tahun Anonim

Kalender merekam putaran Masih-i kembali pada mula. 

Jangka, itu yang sering orang Jawa bilang. Mengapa orang-orang terus menandai awal-akhir, mula-buka, dan sederet noktah atau tanda dari pengalaman hidup. Tagar-tagar itu satu dua akan kita ingat hingga puluhan tahun mendatang, tepat ketika kita cukup nganggur, kalah dan mulai kelelahan oleh pola-pola hidup. 

Romantisasi masa lampau yang tak bisa dilawan. 

Beberapa kawan memulainya lebih cepat, bahkan sejak umur baru beranjak 30+, kalimat-kalimat bernada: jaman abang dulu, selalu beredar di tongkrongan yang sebenarnya sudah beku, masam seperti sayur nget-ngetan

Hal ini tak selalu buruk mengingat pembicaraan masa lalu kadang bisa jadi "jembatan" dari kebekuan dalam berkomunikasi atau hubungan reuni. Kelakar-kelakar masa jeda kerja, dan masa lalu yang tiada pernah kembali lagi melebur menjadi ingatan liar. Peristiwa yang getir kadang bisa menjadi manis ketika diingat.

Kita-pun begitu, menertawai banyak masa lalu serta menyesali pilihan serta aksi yang tiada perlu terjadi dan berharap tahun-tahun mendatang jikalau tidak lebih baik secara nyata namun semoga harapan akan hidup itu terus terjaga. 

Harap akan keberlanjutan hidup bukan sekedar perihal menjaga ritme, tetapi juga terus memberikan kesadaran akan kemungkinan-kemungkinan yang bisa timbul. Sejumput biji sesawi yang memindahkan gunung yang dilupakan generasi pemilih dan berlagak terus mengusahakan yang terbaik padahal malas.

Menuju edar matahari yang baru dan gejalanya makin terang penuh dengan anonimitas. 

Tidak cuma gen-Z dengan postingan nol di media sosial, melainkan banyak pula yang dalam hidupnya "ingin dihargai" tapi berlagak sok spesial dengan meniadakan banyak hal dalam halaman hidup. Anti-eksistensi tapi batinnya ingin eksistensi. 

Sedari awal saya terus ingin mengingatkan pada diri sendiri dan orang lain:

Tidak, kamu tidak se-spesial itu, mbok biasa wae, sing lumrah.

Ungkapan ini bukan untuk merendahkan diri tetapi untuk terus mengingatkan pada diri sendiri dan orang lain bahwa di luar sana ada banyak hal yang berada di luar kendara dan kendali kita. Ada banyak peristiwa yang kita-kita ini sebenarnya tidak terlibat di dalamnya, tapi malah sangat berpengaruh di sosial yang lebih besar. Kita ini benar-benar debu kosmik itu beneran adanya karena dalam sejarah peradaban manusia kita juga cuma detik terakhir dari 24jam masa semesta. 

Daripada hidup terus dihiasi distraksi-distraksi kenapa tidak fokus saja pada apa yang kita miliki dan mengusahakan sebaik-baiknya. Apa selalu menang? tentu tidak. Tapi, ia bisa mengaktifkan banyak kemungkinan yang lain. Bahasa populernya adalah "mengejar Grit", atau saya lebih senang menggunakan peribahasa Jawa: sapa sing temen lan tekun, bakale tekan. Ia yang tekun akan sampai. Ia yang tiada berpunya carilah, kejarlah, supaya punya. 

Itu saja tidak perlu anonim-anonim, toh kita ini juga belum siapa-siapa, dan bukan siapa-siapa, jika itu alasannya privasi simpanlah dirimu untuk dirimu sendiri. Biarkan karya-karya kita berbicara tentang kita, apa yang kita buat, apa yang kita kerjakan, apa saja yang telah kita berikan kepada banyak orang di sekitar kita. Jika belum memberi dampak, tidak usah belagu. 

Eksistensi manusia akan berkembang alamiah seiring resonansinya pada sekitar. Supaya tidak terlalu kebesaran empyak, tapi kurang cagak. 

Hari-hari baru telah datang, anonimitas memang membuat orang nyaman tapi sekaligus kering eksistensi. Manusia pada akhirnya tetap ingin "dianggap ada" dengan segala macamnya, menurutku rawat-rawat saja dengan baik. Jaga teganganya agar jangan terlalu tersembunyi sekaligus jangan sampai terlalu narsis apalagi sakit NPD. Selain psikolog mahal, dalam sejarahnya tokoh Narcissos si muasal kata narsis ini sudah gila, tapi tidak merasa dirinya gila. Ia menikmati elok rupanya dari pantulan-pantulan air sungai, dan mulai memuji dirinya sendiri secara berlebihan, sekaligus jika salah itu pasti orang lain, bukan dirinya. 

Generasi anonim ini kerap berkilah atas sesuatu yang muasalnya dari dirinya, bukannya minta maaf tetapi merangkul segala kemungkinan dan mengolahnya sebagai pembenar.

Susah kondisinya ketika sakit tapi dirinya tidak merasa sakit. Manusia tetap butuh orang lain untuk mengukur, jika kesadarannya cukup ya terus instropeksi diri bukan terus larut dalam kepulan-kepulan pikiran yang tidak menentu. 

Kita juga harus memilih dan beraksi dengan wajar, agar tidak gegabah tapi juga jangan kaku. kelenturan, kelembam-an itu bisa dipelajari dari alam untuk menahkodai hidup yang menua. Kita butuh mental-model sebanyak-banyaknya supaya muncul rasa empati dan simpati. Ngrumangsani. 

Segala retas, usaha dan serapnya mari kita pastikan benar memberi kuasa untuk tumbuh, mengakar dan menjalar. Bukan sekedar raksasa berkaki busuk yang perutnya kenyang dengan pemikiran tapi tiada pernah memikirkan skala lebih besar daripada dirinya sendiri. 

Akhirnya selamat tahun baru Lur, pastikan dirimu ada, dirimu siapa dan jaga kiri-kanan. Semoga yang baik terus berbiak. Mengutip Barasuara:

saat kau menerima dirimu, dan berdamai dengan itu, 
kau menari dengan waktu, tanpa ragu yang membelenggu


Jangan menjadi anonim di tahun anomim.

Madyataman, 1 - 1- 2026

I. Agusta

#agustaisme