Frengki ke Sala lagi.
Setelah sekian lama geser ke timur jadi wakasek di sekolah seni², ia pulang. Tetap kemaki, ceplas-ceplos seperti biasanya namun seiring waktu keangkuhannya atas rasio melunak. Ada hal² yang tak mungkin ditemukan di buku, jurnal, konten, atau video pendek medsos. Segala hal nyata <offline> yg lesap sebagai pengalaman.
Dia mengkritik saya cukup tegas, sambil menyodorkan teks pidato guru besar sastra Prof. Faruk Tripoli di UGM. Ada bagian yang menurutnya penting untuk kulakukan di umur segini: harus mulai berani keluar dari diagram axis Cartesians. Mulai luaskan jauh dari sekedar rasio x,y, & z dan mulai menjangkau halaman lain yang butuh lelaku. Seperti rasa, nuansa, empati, hawa, dst.
Frengki belum membaca tulisan ultah saya yg ke-36. Intinya tep sama, aku harus lebih berani ngomong² yang sedikit ayat, spiritualitas, serta opini yg muncul karena pengalaman pribadi.
Kali ini dia benar, saya nyaris tak mau berbantahan seperti biasanya. Setelah kurenungkan lagi, benar juga, mengapa saya kurang berani membicarakan pengalaman batiniah begini, setelah mengunyah banyak teori, bacaan, buku² tebal, berbincang dengan banyak guru-guru.
Apakah sudah saatnya? Melempar begitu saja kalam-kalam yang batiniah² ini.
Teguran Frengki ini menarik, saya tidak tahu dia kesambet apa, kalau yang ngomong kawan² yg bergiat di pesantren atau gereja atau padepokan oke, lha ini Frengki agamanya ki rasionalitas. Apakah dia juga mulai tua dan semeleh, lalu membiarkan yang kiri² dan melawan itu bertranformasi menjadi bentuk lain seperti beberapa ilmu yg kupelajari dari para guru.
Saya pernah mempelajari bagaimana kendali otak manusia terus berkembang seiring usia yang menua akan mulai melunak, dan agak spiritual. Hal ini bukan karena agama (saja), tetapi pengalaman hidup dan tinggal di nusantara akan memungkinkan jalan hidup menuju demikian.
Bongkah² itu harus dilempar begitu saja, pisaunya bisa menancap ke segala arah, termasuk diriku sendiri. Tapi bukankah demikian, setiap kebijaksanaan lahir dari kumpulan proses secara nyata dan mengalami banyak kesusahan².
Mungkin sejak malam itu, aku makin berani berubah mode jadi yang sebenarnya batiniahnya begitu, tapi dulu pernah dikritik karena masih terlalu muda untuk memberi nasehat.
Jika ini memang waktunya, maka, marilah kita selesaikan. Tapi jangan tiba² spiritual, rasio lebih dulu. Jangan karena kebodohan dan kemalasan tiba-tiba jadi sok nyipiritual, bukan gitu cara mainnya.
#agustaisme
@frengkifariyapratama
Foto: Frenki di basecamp Sraddha Sala, credit foto @chintami_tiwi

