image1 image2 image3 image4

MENATA HATI|MENYAMBUT GERHANA PERADABAN|MENJENGUK MALAM DI SEPI REMBULAN|MENUNGGU PAGI|SANG PIJAR DARI UFUK TIMUR

Monday, October 19, 2026

Nandul


Kematian akhirnya terus menjadi satu-satunya pengingat yang baik. Setelah beberapa minggu ingatan tetap tak bisa segera bergeser dari kematian seorang kawan. Ketika sedang ramai memang teralihkan, tetapi ketika jelang tidur sesekali terbersit ingatan akan kawan ini. 
Nanda namanya. 

Sebenarnya pertemuan saya dengannya cukup sederhana, kala itu saya masih tinggal di Sragen, dalam posisi tidak punya pekerjaan tetap ketika badai COVID-19 melanda. Sesekali turun lapang untuk ikut survei politik, sebagian besar lainnya adalah merawat eyang putri di rumah yang sedang makin parah kanker serviksnya.

Sesekali hidup memang membosankan, memang menunggu orang tua yang sakit tidak mudah harus mengorbankan lebih banyak lagi waktu, tenaga, akses dan duit tentu saja. Disitulah lalu muncul ide-ide untuk "nyari angin".

Kadang malam ketika eyang putri telah tidur, saya beranjak keluar rumah nongkrong malam-malam nyari internet murah di Plasa Telkom Sragen sampai tengah malam. Waktu itu masih sering bersama kembar Tahta-Fatana, dan Wiwid. Jika lebih larut lagi saya biasanya akan geser ke kantor BPBD yang berada di seberang Plasa Telkom. Ketika pandemi kantor ini selalu ramai oleh petugas yang piket, dan relawan SAR yang jua siaga jika ada panggilan untuk mengantarkan jenazah. 

Sebelumnya memang sudah kenal banyak orang di kantor ini, terutama teman-teman yang semula dari HIMALAWU lalu mereka bekerja di BPBD.  Meskipun bukan bagian dari instansi tersebut tetapi saya punya hubungan baik dengan teman-teman yang bekerja di dalamnya, termasuk akhirnya nanti kenal sama Nanda atau saya lebih suka memanggilnya dengan Nandul.

Saya lupa kapan saya mengenal Nanda, tapi sejak awal dia masuk ke BPBD sejak itu pula saya mengenalnya. Umurnya yang masih sangat muda, dengan gestur dan perawakan khas orang Sragen utara membuat dia gampang dihafalkan. Terlebih lagi ia berelasi dengan almarhum Mas Pur, kantin SMA 1 yang beberapa tahun sebelumnya sudah kenal baik ketika sering mampir di sirkel PUALAM, hal itu makin menambah akrab. Malam-malam kerap saya habiskan ngobrol gak jelas dengan Nanda di kantor BPBD. Cari angin itu berbuah macam-macam. Ide untuk latihan ini itu, ketika mengetahui saya cukup lama berkecimpung di dunia relawan kebencanaan. 

Selain sirkel HIMALAWU, Nanda inipula yang paling rajin menyambangi kampung saya, biasanya malah kerap parkir mobil di halaman rumah saya di Sragen. Jaga-jaga kalau saya tidak di rumah, dan eyang putri tidak ada yang mengawasi. Dan benar, pernah ada masanya ketika saya tidak di rumah, bapak dan rendra juga tak pulang, lalu banjir. Tim dari kawan-kawan ini mengevakuasi eyang putri saya yang sakit, dibawa ke tempat yang lebih tinggi dan nyaman sampai banjirnya surut. 

Sempat pula Nanda dan teman-teman ini mengevakuasi saudara jauh saya di kampung sebelah yang lagi hamil besar tepat ketika banjir melanda desanya juga. Evakuasi pun harus dijalankan dengan prosedur lain untuk bumil dan balita. Saya tahu persis evakuasi jenis ini sulit karena harus memperhatikan kondisi ibu hamil. 

Hal-hal ini yang terus menjadi hutang rasa yang jelas tidak akan lunas terbayar sampai kapanpun. Selain memberi, sayapun juga berhutang banyak kebaikan-kebaikan ini. Bahkan, sampai ketika Eyang putri meninggal Nanda masih menyempatkan untuk datang ke rumah melayat dan ikut lek-lekan. Jika dipikirkan lagi, siapa dia bukan saudara tapi rasa kesetiakawanannya ala ndesanya yang jauh lebih tinggi. Mungkin berhutang rasa juga terhadap segala hal yang satu-dua dia serap ketika malam-malam panjang di cangkruk BPBD itu. 

Tahun-tahun berikutnya saya mulai tinggal di Solo, dan otomatis tak ketemu lagi dengannya. Kerap ketika pas pulang papasan juga hanya sekedar say-hello, tapi tak pernah ada pembicaraan panjang lagi. Sampai kemudian berita kematian itu datang.

Kok ya pas ketika saya berada di rumah Kleca setelah kemarin seharian menghabiskan waktu untuk melatih anak-anak baru. Pagi-pagi betul ketika mendapatkan blasting chat dari teman-teman, kantuk langsung hilang. Saya kontak beberapa teman untuk ikut melayat ke rumahnya di Tangen sana. 

Sampai pemakaman tiba saya masih merasa tidak kehilangan dia, di umur 28 tahun. Sang kakek menggendong anak Nanda menghampiri kami yang berdiri agak jauh dari barisan keluarga. Saya bersalaman pada ayahnya Nanda, dan mentowel pipi anak lagi-lagi itu yang mungkin belum nJowo kalau bapaknya telah meninggal.

--

Ketika semuanya sudah pulang, saya mendekat ke makammu Ndul, siang itu sangat panas tapi tanah tempatmu dikuburkan masih basah, saya gak bawa bunga tapi aku bawa air untuk kucurahkan di atas makam biar agak adem. 

Selamat jalan ya Ndul, sampai jumpa lagi. Suatu hari kalau lewat di sekitar makammu tak mampir supaya Utangrasa-utangrasa ini juga pelan terbayar.

wes ya, sing lerem, sumangga Gusti.

No comments:

Post a Comment