Apa pilihan orang² yang sudah miskin, tak punya apa² selain menghasut? Begitulah drama Sengkuni 2019 yang dipentaskan Emha bersliweran dalam ingatan.
Sengkuni lahir dalam kemiskinan ekstrim, ia bahkan harus 'memakan' bangkai saudaranya, orangtuanya agar terus hidup.
Meski tak utuh, ia mampu bertahan. Salah satu caranya yang paling mungkin adalah mendengar, menghasut dan mengambil kesempatan² kecil dari lakon yang bergulir supaya kelanjutan nyawanya berlangsung.
Sengkuni hidup dari gosip. Persis seperti semua manusia lumrah, setelah capek dengan kerja, dengan banyak hal dalam hidup akhirnya obrolan² menjadi saluran. Tak jarang obrolan itu membuat kita hidup. Membuat kita tak kesepian, dan membuat kita makin mengerti bahwa semua manusia butuh cerita, butuh narasi, butuh hal² abstrak guna menunjang kstabilan hidupnya.
"kalian pernah miskin seperti apa? Kalian pernah susah apa? Kok tega²nya menyakiti hati rakyat? Kalian bahkan bisa bayr bermilyar² untuk berkuasa, aman² saja kok.
Sengkuni dengan segala nasibnya, bahkan tidak sejahat kalian, dia tak menjadi teroris, gak menjadi penjahat tapi cuma menghasut sebagai bagian dari obrolan² yang lewat"
Jangan² kita ini, aku dan kamu adalah Sengkuni itu, yang hidupnya terus kekurangan tapi bertahan, tapi terus menerima banyak sambatan, banyak obrolan dan hidup dari narasi² yang dilempar. Karena toh apa, wong juga sudah gak punya apapun.
Kemungkinannya paling buruknya dari puasa Sengkuni adalah jadi pintar sekaligus licik, mendengar sekaligus menghasut, bahkan mengkaburkan banyak informasi supaya narasi² itu terus hidup, satu dua mata akan menduga sengkuni sebagai dalang, tetapi hubungan² manusianya terjaga dalam bisik², dalam rerasan dengan segala bumbunya.
Segalanya kini makin terang, puncak pencapaian karir Sengkuni adalah demikian. Ia gak mungkin jadi raja, jadi satriya karena hidup tak memberi kesempatan untuk menjadi orang lain. Hanya kepahitan, kekalahan dan kegagalan sepanjang hidupnya yang membuat ia menjadi bengis dan memupus harapan akan hidupnya sendiri.
Siapa dari kita yang tak pernah menghasut?
Siapa dari kita yang gak pernah membumbui sesuatu supaya narasinya menarik?
Dialah yang mengambil batu pertama untuk merajam 'para Sengkuni'?
#agustaisme

