image1 image2 image3 image4

MENATA HATI|MENYAMBUT GERHANA PERADABAN|MENJENGUK MALAM DI SEPI REMBULAN|MENUNGGU PAGI|SANG PIJAR DARI UFUK TIMUR

Thursday, September 11, 2025

Sengkuni kita

Apa pilihan orang² yang sudah miskin, tak punya apa² selain menghasut? Begitulah drama Sengkuni 2019 yang dipentaskan Emha bersliweran dalam ingatan.

Sengkuni lahir dalam kemiskinan ekstrim, ia bahkan harus 'memakan' bangkai saudaranya, orangtuanya agar terus hidup.

Meski tak utuh, ia mampu bertahan. Salah satu caranya yang paling mungkin adalah mendengar, menghasut dan mengambil kesempatan² kecil dari lakon yang bergulir supaya kelanjutan nyawanya berlangsung.

Sengkuni hidup dari gosip. Persis seperti semua manusia lumrah, setelah capek dengan kerja, dengan banyak hal dalam hidup akhirnya obrolan² menjadi saluran. Tak jarang obrolan itu membuat kita hidup. Membuat kita tak kesepian, dan membuat kita makin mengerti bahwa semua manusia butuh cerita, butuh narasi, butuh hal² abstrak guna menunjang kstabilan hidupnya. 

"kalian pernah miskin seperti apa? Kalian pernah susah apa? Kok tega²nya menyakiti hati rakyat? Kalian bahkan bisa bayr bermilyar² untuk berkuasa, aman² saja kok.

Sengkuni dengan segala nasibnya, bahkan tidak sejahat kalian, dia tak menjadi teroris, gak menjadi penjahat tapi cuma menghasut sebagai bagian dari obrolan² yang lewat"

Jangan² kita ini, aku dan kamu adalah Sengkuni itu, yang hidupnya terus kekurangan tapi bertahan, tapi terus menerima banyak sambatan, banyak obrolan dan hidup dari narasi² yang dilempar. Karena toh apa, wong juga sudah gak punya apapun.

Kemungkinannya paling buruknya dari puasa Sengkuni adalah jadi pintar sekaligus licik, mendengar sekaligus menghasut, bahkan mengkaburkan banyak informasi supaya narasi² itu terus hidup, satu dua mata akan menduga sengkuni sebagai dalang, tetapi hubungan² manusianya terjaga dalam bisik², dalam rerasan dengan segala bumbunya. 

Segalanya kini makin terang, puncak pencapaian karir Sengkuni adalah demikian. Ia gak mungkin jadi raja, jadi satriya karena hidup tak memberi kesempatan untuk menjadi orang lain. Hanya kepahitan, kekalahan dan kegagalan sepanjang hidupnya yang membuat ia menjadi bengis dan memupus harapan akan hidupnya sendiri. 

Siapa dari kita yang tak pernah menghasut?

Siapa dari kita yang gak pernah membumbui sesuatu supaya narasinya menarik? 

Dialah yang mengambil batu pertama untuk merajam 'para Sengkuni'?

#agustaisme

Wednesday, September 3, 2025

Kanal besar

 Di jalanan orang-orang merayakan kemenangan kecilnya, sebuah perayaan bingar, sebuah saluran bisul pecah atas nama kepenatan, kesesakan, ketidakadilan, pemiskinan, pembodohan, dan berbagai 'failure system' yang menyeret nasib manusia secara individu.

Seperti tidak begitu terang, tapi aura kemarahan itu seperti tak mungkin terbendung.

Di lorong² malam, riuh, tapi jernih suara hati menguar. Sebuah 'ngudarasa' dari derasnya ketimpangan dan ketidakpastian nasib. 

Orang² datang mencari ratu adil, justru ketika para pemimpinnya gak sanggup memberikan keadilan

Orang² mencari jamu, obat cespleng kalengan karena resep dokter sudah tak bisa ditebus lagi, kassa-kassa lantang menolak kasbon. 

Orang² tak peduli lagi dengan jurnal, pwnwlitian, esai, segala yang lahir dari pemikiran² brilian


Ia hanya butuh satu mantra, mantra yang memberikan kelegaan, dan manusia mencarinya ke ujung bumi untuk menenangkan dirinya


Ia yang dipinggirkan kini mendapat panggungnya

Ia yang teraniaya kini mendapat kanalnya

Ia yang diabaikan kini punya tameng eksistensi

Ia yang biasa saja kini bisa berpeluang jadi martir


Seperti puisi akbar Emha:

"Kalau sunyi engkau anggap tiada

Maka bersiaplah terbangun mendadak dari tidurmu karena ledakannya"


Karena yang tiada itu justru kadang² adalah segalanya

Sebaliknya, kadang yang segalanya itu justru kadang malah tak ada


Sejumput rumput kering tumbuh, awannya berputar, dan musimnya berubah..


Ratu adil memang tidak ada, atau mungkin ratu adil adalah suara² yang dianggap tak pernah ada itu

Air yang bising, yang tajam, yang bening, yang jernih, yang tenang...


#agustaisme